Search This Blog
Sebuah catatan tentang hidup yang patut diperjuangkan dan dirayakan oleh makhluk bernama "anak perempuan pertama"
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Sebab Ini Kehidupan Pertamaku di Dunia
Di tempat yang baru ini, kepalaku akhirnya tidak lagi mendengung oleh kebisingan yang sia-sia. Pikiranku dihargai, gagasanku didengarkan—bahkan disimak dengan saksama—dan setiap keputusan yang kubuat memiliki daya ubah. Aku bernapas dengan lega di sini. Nyaman sekali. Suatu kontras yang telak jika ditarik garis lurus dengan masa lalu yang sempat membuatku percaya bahwa dunia luar adalah lorong hampa.
Semua itu dulu sempat kukira nyata. Tapi ternyata tidak; itu hanya mimpi buruk yang menyamar sebagai realitas. Di sana, perempuan hanyalah pelengkap narasi yang ditulis oleh orang lain. Sehebat apa pun kau mendayung, setinggi apa pun kepak sayap yang kau miliki, kau tidak akan pernah diizinkan duduk di singgasana pimpinan. Kursi-kursi itu telah dikapling oleh mereka yang kepalanya kosong, malas diisi, dan menolak belajar.
Tahu apa aku soal takdir?
Setelah menghabiskan malam-malam panjang untuk mencari beragam alasan, aku akhirnya paham: aku memang tidak pernah cocok berada di sana. Dan selamanya tidak akan pernah cocok. Hanya saja, yang hingga detik ini masih menyisakan tanya di benakku adalah mengapa Tuhan menaruhku di tempat itu dalam durasi yang begitu lama. Lebih dari sepuluh tahun. Rasanya seperti sepuluh ribu tahun di neraka. Mereka tidak pandai merangkai kata, tidak pula terdidik dengan baik, tapi selalu merasa paling tahu segala hal. Tuhan, jujur saja, sampai detik ini aku masih tidak menyukai mereka. Mohon ampun.
Setiap kali mereka mengeluarkan kebijakan yang ngawur, kita selalu diminta untuk "memaklumi" dan "memahami". Namun, tatkala kita balik mengajukan aspirasi dan argumen yang rasional, kita diteriaki sebagai pembangkang—dianggap tak taat serta tak patuh. Aku masih sangat ingat kalimat-kalimat kejam itu. Seolah-olah satu-satunya hal berharga dari diriku di mata mereka adalah perihal pernikahan. Tidak ada ruang untuk berdiskusi soal mimpi, tidak ada ketertarikan pada rencana kerja, kontribusi, atau hal-hal substansial lain yang justru menjadi bahan bakar hidupku.
Beberapa tahun tak bersua, saat kami akhirnya dipertemukan kembali, pertanyaannya tetap sama dan membosankan:“Kapan kamu kawin?”
Seolah-olah rabi adalah puncak pencapaian tertinggi dari eksistensi seorang perempuan. Di usiaku yang kini nyaris menyentuh kepala tiga, mereka melabelinya sebagai "pernikahan darurat". Memangnya aku ini bencana alam? Atau kita sedang berada di tengah medan perang? Ah, sudahlah. Keputusanku sudah bulat untuk memutus rantai itu, untuk tidak lagi sudi bergaul dengan lingkaran yang mengecilkan arti hidup.
Kalimat lain yang masih menyisakan residu perih di dadaku adalah ucapan dari seorang bapak yang dulu sempat kusegani: “Anakku baru satu, apa perlu nambah pabrik lagi?”
Sekarang? Tentu saja rasa hormat itu sudah menguap entah ke mana.
Lalu, aku juga masih ingat tatkala kami membahas soal kriteria hidup dan karier. Apa komentar mereka saat melihat deretan panjang riwayat hidupku? “Terlalu banyak request.” Dan susulan kalimat yang jauh lebih menohok: “Susah jodoh buat kamu mah.”
Kau bisa bayangkan betapa mereka sebenarnya tidak sepercaya itu pada takdir yang Tuhan tulis?
Maka, jika kau hari ini melihat apa yang kujalani dan berkata dalam hati, “Enak ya jadi kamu,” kau harus tahu seberapa banyak badai yang telah kutaklukkan seorang diri. Jangan hanya memotret sisi tenangnya saja. Tapi, untukmu yang hari ini juga tengah berjuang—yang beruntung masih bisa bertahan di sisa-sisa kewarasan—tetaplah berjalan.
Selamat menghajar badaimu yang lain.
- Get link
- X
- Other Apps
Comments
Post a Comment