Riak Rindu Menuju Muara: Sebuah Manuskrip Kepulangan
Jalaluddin Rumi pernah melarungkan petuah melintasi abad, tentang jiwa yang bertindak sebagai magnet bagi takdirnya sendiri. Apa yang kauburu dengan rasa, itulah yang akan bertamu ke dalam dada. Jika kebencian yang kaucari, maka duri-duri kelam akan tumbuh memenuhi jalanmu. Namun, jika cinta yang kaukais dari reruntuhan bumi, maka hamparan kelopak mawar akan membentang menyambut langkahmu. Maka di hadapan hukum semesta yang benderang itu, sepasang mataku meredup, lalu bertanya pada sunyi yang paling palung: Lalu, apa lagi yang pantas kucari di kolong langit ini, selain Engkau? Pencarian di luar diri-Mu hanyalah pengembaraan fatamorgana yang melelahkan kaki-kaki ringkih ini. Sebab, bukankah hakikat seorang kekasih yang didera rindu adalah mereka yang tak lelah merapal mantra pertemuan? Ia adalah jiwa yang gelisah, yang senantiasa ingin memangkas bentangan waktu dan meruntuhkan jembatan jarak yang memisahkan. Lalu, untuk apa lagi aku mengulur waktu, berlama-lama mengasingkan diri dalam ...