Skip to main content

Featured

Kepada-Mu, Aku Pulang

Tuhanku, Penguasa Jiwa yang Merindu, Tiba-tiba, dan lagi, aku ingin kembali pada-Mu. Rasanya kerinduan ini sudah terlanjur membuncah, tak lagi terbendung oleh dinding-dinding dada yang fana. Aku ingin bertemu dengan-Mu secepat yang aku bisa, bahkan jika mungkin, lebih cepat dari laju Buraq yang menembus langit ketujuh dalam satu kedipan netra. Jika Buraq membawa Sang Kekasih Kekasih-Mu ( Habibullah ) melintasi dimensi waktu, maka biarlah sayap-sayap rinduku ini melesat lebih kencang, merobek seluruh hijab yang memisahkan hamba yang papa ini dengan Keindahan-Mu yang Maha Abadi. Apalagi yang aku cari di dunia yang menipu ini? Tak ada selain-Mu. Benar-benar tak ada. Aku ingin bertemu dengan-Mu segera, sesegera mentari meninggalkan hari ini tanpa ragu, secepat angin berembus di kepalaku sore ini. Di bawah langit yang kian jingga, nyiur-nyiur di ufuk itu terus melambai, seolah menjelma jemari gaib yang memanggilku, memintaku untuk cepat menghadap-Mu. Alam semesta sore ini adalah sepucuk s...

Riak Rindu Menuju Muara: Sebuah Manuskrip Kepulangan


Jalaluddin Rumi pernah melarungkan petuah melintasi abad, tentang jiwa yang bertindak sebagai magnet bagi takdirnya sendiri. Apa yang kauburu dengan rasa, itulah yang akan bertamu ke dalam dada. Jika kebencian yang kaucari, maka duri-duri kelam akan tumbuh memenuhi jalanmu. Namun, jika cinta yang kaukais dari reruntuhan bumi, maka hamparan kelopak mawar akan membentang menyambut langkahmu.

Maka di hadapan hukum semesta yang benderang itu, sepasang mataku meredup, lalu bertanya pada sunyi yang paling palung: Lalu, apa lagi yang pantas kucari di kolong langit ini, selain Engkau?

Pencarian di luar diri-Mu hanyalah pengembaraan fatamorgana yang melelahkan kaki-kaki ringkih ini. Sebab, bukankah hakikat seorang kekasih yang didera rindu adalah mereka yang tak lelah merapal mantra pertemuan? Ia adalah jiwa yang gelisah, yang senantiasa ingin memangkas bentangan waktu dan meruntuhkan jembatan jarak yang memisahkan. Lalu, untuk apa lagi aku mengulur waktu, berlama-lama mengasingkan diri dalam keterpisahan yang menyiksa ini? Dunia ini terlalu bising untuk hati yang hanya ingin mendengar bisikan-Mu.

"Aku berada dalam prasangka hamba-Ku."

Kalimat-Mu adalah sauh tempat saujana hatiku berlabuh. Aku mengimani dengan seluruh sisa jemariku yang gemetar, bahwa Engkau senantiasa merindukan hamba-hamba-Mu bahkan ketika mereka sedang mendekam dalam kemelekatan dosa yang pekat, lalu merangkak tertatih menjemput pintu pertaubatan. Engkau tidak membuang muka; Engkau menunggu kepulangan kami dengan pelukan yang mahaluas.

Maka, ya Rahman, panggilah aku. Letakkan jiwaku yang luruh ini ke dalam dekapan-Mu yang tak pernah melepaskan. Tumbuhkan sebuah rasa di mana seluruh megah dunia ini menguap menjadi hampa, hingga tak ada lagi yang tersisa untuk diharapkan selain perjumpaanku dengan-Mu.

Panggilah aku dengan cara-Mu yang paling sunyi, paling indah, dan paling romantis. Agar segala jenis kerinduan yang selama ini membakar dada, tidak perlu lagi tersiksa oleh sekat-sekat waktu. Izinkan aku larut, abadi, dan pulang ke rahim cinta-Mu.

Comments