Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Riak Rindu Menuju Muara: Sebuah Manuskrip Kepulangan


Jalaluddin Rumi pernah melarungkan petuah melintasi abad, tentang jiwa yang bertindak sebagai magnet bagi takdirnya sendiri. Apa yang kauburu dengan rasa, itulah yang akan bertamu ke dalam dada. Jika kebencian yang kaucari, maka duri-duri kelam akan tumbuh memenuhi jalanmu. Namun, jika cinta yang kaukais dari reruntuhan bumi, maka hamparan kelopak mawar akan membentang menyambut langkahmu.

Maka di hadapan hukum semesta yang benderang itu, sepasang mataku meredup, lalu bertanya pada sunyi yang paling palung: Lalu, apa lagi yang pantas kucari di kolong langit ini, selain Engkau?

Pencarian di luar diri-Mu hanyalah pengembaraan fatamorgana yang melelahkan kaki-kaki ringkih ini. Sebab, bukankah hakikat seorang kekasih yang didera rindu adalah mereka yang tak lelah merapal mantra pertemuan? Ia adalah jiwa yang gelisah, yang senantiasa ingin memangkas bentangan waktu dan meruntuhkan jembatan jarak yang memisahkan. Lalu, untuk apa lagi aku mengulur waktu, berlama-lama mengasingkan diri dalam keterpisahan yang menyiksa ini? Dunia ini terlalu bising untuk hati yang hanya ingin mendengar bisikan-Mu.

"Aku berada dalam prasangka hamba-Ku."

Kalimat-Mu adalah sauh tempat saujana hatiku berlabuh. Aku mengimani dengan seluruh sisa jemariku yang gemetar, bahwa Engkau senantiasa merindukan hamba-hamba-Mu bahkan ketika mereka sedang mendekam dalam kemelekatan dosa yang pekat, lalu merangkak tertatih menjemput pintu pertaubatan. Engkau tidak membuang muka; Engkau menunggu kepulangan kami dengan pelukan yang mahaluas.

Maka, ya Rahman, panggilah aku. Letakkan jiwaku yang luruh ini ke dalam dekapan-Mu yang tak pernah melepaskan. Tumbuhkan sebuah rasa di mana seluruh megah dunia ini menguap menjadi hampa, hingga tak ada lagi yang tersisa untuk diharapkan selain perjumpaanku dengan-Mu.

Panggilah aku dengan cara-Mu yang paling sunyi, paling indah, dan paling romantis. Agar segala jenis kerinduan yang selama ini membakar dada, tidak perlu lagi tersiksa oleh sekat-sekat waktu. Izinkan aku larut, abadi, dan pulang ke rahim cinta-Mu.

Comments