Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Dari Topping Seblak Jadi Bahan Baku Sepatu Mewah: Jejak Inovasi Anak Bangsa Lewat Sepatu Kulit Ceker Ayam

Para perajin Hirka Shoes tengah mengolah kulit ceker ayam menjadi sepatu berkelas.

(Foto: Instagram resmi @hirka.official)

Akhir-akhir ini Bandung diguyur hujan, dinginnya meresap hingga ke sudut-sudut kota. Di meja makan, semangkuk seblak pedas gurih jadi penghangat jiwa, lengkap dengan primadona tak tergantikan: ceker ayam. Siapa sangka, bagian ayam yang biasanya cuma jadi topping seblak itu kini bisa melangkah jauh sebagai sepatu berkelas dunia?

A bowl of food on a table

AI-generated content may be incorrect.

Semangkuk seblak dengan ceker ayam sebagai topping utama. (Foto: Kompas.com)

Di pasar-pasar tradisional, ceker ayam menumpuk dalam keranjang besar, basah oleh es batu dan air sisa cucian. Ada yang buru-buru dipilih untuk jadi bahan masakan, ada pula yang tersisih, dianggap tak berharga. Padahal, siapa sangka, dari sisa-sisa ceker yang terabaikan itulah lahir jejak baru: sepatu kulit yang menyelamatkan banyak satwa, karya inovasi anak bangsa.

Jarang ada yang menaruh perhatian lebih pada ceker ayam. Bagi sebagian besar orang, ia tak lebih dari sekadar pelengkap dalam semangkuk seblak atau sup hangat. Namun, berbeda dengan Nurman Farieka Ramdhany. Dari bagian ayam yang kerap diremehkan itu, ia justru melihat peluang. Bukan hanya bahan pangan murah meriah, melainkan sumber bahan baku untuk sesuatu yang lebih berkelas: fesyen.


Nurman Farieka Ramdhany dengan sepatu Hirka Shoes. (Foto: YouTube Nurman Farieka Ramdhany)

Dari tangan kreatifnya, lahirlah Hirka Shoes, merek sepatu unik berbahan kulit ceker ayam. Tak lagi sekadar limbah, kulit ceker itu disulap menjadi produk elegan yang memadukan keberanian berinovasi dengan kepedulian lingkungan. Kini, langkah Hirka Shoes sudah menembus batas tanah air, menapak hingga pasar internasional.

Dari Jurnal Sang Ayah ke Mahakarya Lestari

Perjalanan Nurman bermula dari jurnal penelitian peninggalan ayahnya. Lembaran-lembaran itu menjelaskan bahwa kulit ceker ayam memiliki tekstur yang mirip dengan kulit reptil, ular dan buaya. Bahan tersebut selama ini jadi simbol kemewahan di dunia fesyen. Dan dari sanalah semuanya bermula; warisan ide itu mematik rasa penasaran sekaligus tekad untuk menjadikan  kulit ceker ayam jauh lebih bernilai.


A collage of hands making a fur coat

AI-generated content may be incorrect.

Proses pengolahan kulit ceker ayam oleh Hirka Shoes. (Foto: YouTube Hirka Official)

Semangat itu yang mengubah jalan hidupnya. Nurman mengambil keputusan besar untuk tidak melanjutkan pendidikannya di Politeknik Akademi Teknik Kulit Yogyakarta dan memilih melanjutkan riset sang ayah dengan tangannya sendiri.  Tahun 2015, ia mulai menekuni dunia persepatuan dan pengolahan kulit, belajar langsung dari para perajin di Cibaduyut, Bandung.

Di sanalah ia mengulik proses rumit: memisahkan kulit dari tulang, menghilangkan bau amis, membersihkan bakteri, hingga menyamak kulit, tahap penting yang membuat kulit lebih tahan lama sekaligus lentur. Secara teknis, penyamakan bisa menggunakan bahan kimia atau alami, misalnya tanin dari tumbuhan. Singkatnya, serat kulit yang awalnya gampang busuk disulap jadi material awet dan siap dijahit. 

Empat tahun perjuangan itu diwarnai dengan beragam eksperimen dan kegagalan yang dibalut sabar hingga akhirnya membuahkan inovasi nyata. Pada tahun 2017, lahirlah Hirka Shoes. Nama Hirka diambil dari bahasa Turki yang berarti “dicintai”, sebuah doa agar karya-karyanya benar-benar bisa diterima dan dicintai oleh masyarakat luas. 

Beribu Tantangan di Balik Niat Baik 

Langkah Nurman jauh dari kata mulus. Setiap niat baik selalu diuji, begitu pula usahanya mengangkat ceker ayam menjadi sepatu bernilai.

Banyak orang yang mengernyit saat mendengar idenya. “Sepatu dari ceker ayam? Jangan-jangan baunya amis?” Kalimat seperti itu kerap mampir ke telinganya. Rasanya perih, tetapi justru di situlah Nurman ditempa: belajar sabar, belajar meyakinkan. Dan tak lelah menjelaskan proses panjang yang membuat kulit ceker ayam bisa sebersih, sekuat, dan seanggun kulit lainnya.

Di luar itu, ada tembok besar lain yang menghadang: industri fesyen masih memuja kulit reptil. Nilai ekspor reptil Indonesia, termasuk kulitnya, bahkan menembus USD 2,61 juta hanya dalam sebelas bulan pada 2022 (data BPS). Jawa Barat menjadi salah satu pusat pengolahan, yang otomatis menyerap banyak bahan baku reptil. Permintaan pasar tinggi, dan di baliknya terselip ancaman nyata: perburuan ilegal yang bisa menggerus populasi satwa, meski pemerintah berusaha mengatur lewat kuota penangkapan tahunan untuk spesies seperti ular sanca batik (Python reticulatus).

Namun yang paling berat bukan sekadar pasar atau urusan teknologi, melainkan ujian mental. Empat tahun lamanya ia bergulat dengan eksperimen, kegagalan, dan penantian. Di era ketika anak muda mudah tergoda hasil instan, Nurman justru berjalan pelan, percaya bahwa kesabaran akan membawa hasil. 

Menyulap Ceker Jadi Karya Eksklusif

A pair of black shoes

AI-generated content may be incorrect.A brown shoe with a brush and a box

AI-generated content may be incorrect.A pair of black shoes

AI-generated content may be incorrect. A brown shoe with a brush and a box

AI-generated content may be incorrect.A pair of brown shoes

AI-generated content may be incorrect.

Sepatu Hirka Shoes berbahan kulit ceker ayam, menampilkan tekstur eksotis dan kualitas premium. (Foto: Instagram resmi @hirka.official)

Di tangan Nurman, ceker ayam menemukan nasib baru. Setelah melalui detail pengolahan, kulit ceker berubah menjadi sepatu formal maupun kasual dengan tekstur eksotis. Untuk satu pasang sepatu saja, dibutuhkan sekitar 40-80 ceker ayam. Hasilnya? Tak kalah anggun dibanding kulit reptil yang harganya bisa berkali-kali lipat. Dan tentu tanpa ancaman untuk satwa langka.

Strategi bisnisnya pun ia rancang hati-hati. Mulanya, Nurman mencoba masuk ke segmen wanita lewat high heels dan flat shoes. Namun respon pasar belum sesuai harapan. Ia lalu beralih ke segmen pria dengan model formal serta kasual dan pilihan itu terbukti tepat.

Puncaknya tiba pada 2019, ketika Hirka Shoes tampil di pameran INACRAFT. Dari sana, permintaan langsung melonjak dua kali lipat, dari sekitar 100 pasang menjadi 200 pasang per bulan. Tak berhenti di pasar lokal, produk Hirka menembus mancanegara, mulai dari Malaysia, Brasil, Prancis, Hong Kong, hingga Singapura. Kini, selain sepatu, Hirka juga merambah pada produk lainnya seperti dompet, ikat pinggang, serta aksesori lain yang tak kalah eksklusif.

Saat Inovasi ‘Aneh’ Jadi Jawaban

A person sitting at a table with a sewing machine

AI-generated content may be incorrect.

Para pengrajin Hirka Shoes tengah menekuni proses menjahit kulit ceker dengan teliti, memastikan setiap sepatu memiliki kualitas terbaik. (Foto: Instagram resmi @hirka.official)

Apa yang dulu terdengar aneh, kini justru melahirkan jejak nyata. Dari tangan Nurman, limbah ceker ayam yang kerap dipandang remeh berubah menjadi solusi lingkungan, mengurangi limbah pangan sekaligus menekan perburuan kulit reptil. Dari sisi sosial, langkah ini membuka ruang baru bagi para perajin Cibaduyut dan pengolah kulit untuk berkarya, menciptakan lapangan kerja yang sebelumnya tak pernah terbayangkan.


Nurman Farieka Ramdhany menerima SATU Indonesia Awards. (Foto: Instagram @nurmanfarieka)

Secara ekonomi, Hirka Shoes tidak hanya mengangkat nama UMKM ke kelas yang lebih tinggi, tapi juga menghadirkan devisa bagi negeri. Dan lebih dari itu semua, kisahnya menjelma inspirasi. Pada 2019, Nurman diganjar SATU Indonesia Awards kategori kewirausahaan dari PT Astra, sebuah pengakuan bahwa mimpi yang dianggap aneh pun bisa menjelma jadi prestasi besar.

Pembangunan Berkelanjutan dari Sepasang Sepatu

A person sitting on a chair

AI-generated content may be incorrect.

Jokka Series Hirka Shoes. (Foto: Instagram resmi @hirka.official)

Perjuangan Nurman sejalan dengan konsep pembangunan berkelanjutan. Inovasi yang ia gagas bukan hanya soal mengejar keuntungan, tetapi juga berpihak pada lingkungan dan masyarakat.

Dari kacamata SDGs, kontribusinya terlihat nyata. Limbah ceker ayam yang semula tak bernilai diolah menjadi produk bernilai tinggi. Para perajin lokal mendapatkan ruang baru untuk berkarya, sementara satwa reptil kian terlindungi berkat hadirnya bahan alternatif. 

Nurman membuktikan bahwa pembangunan berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dari proyek raksasa. Bahkan dari sepasang sepatu berbahan kulit ceker ayam, yang dulu dianggap remeh, hadir perubahan yang mampu memberi dampak nyata bagi dunia.

Dari Ceker Kita Belajar Jejak Konsistensi

Kulit ceker ayam olahan, siap untuk dijadikan sepatu. (Foto: YouTube SATU Indonesia)

Dari semua pencapaiannya, Nurman punya pesan sederhana bahwa kesuksesan bukan soal jalan pintas. Digital boleh memudahkan, tapi sabar dan tekunlah yang membuat langkah benar-benar berarti. 

Perjalanannya membuktikan itu, empat tahun riset penuh trial and error, jatuh bangun meyakinkan pasar, sampai akhirnya menjejakkan kaki di panggung ekspor dunia. Konsistensi adalah benang merah yang menjahit mimpi dan kenyataan. Dan siapa sangka, pelajaran besar itu lahir dari sesuatu yang kerap diremehkan: ceker ayam.

Dari Ceker untuk Dunia

A person behind a counter with shoes

AI-generated content may be incorrect.

Nurman Farieka Ramdhany di pameran Handarty Korea bersama koleksi Hirka Shoes. 

(Foto: Instagram @nurmanfarieka)

Siapa yang menyangka, ceker ayam yang dulu hanya jadi topping seblak kini menjelma bahan sepatu berkelas dunia? Semua bermula dari keberanian seorang anak muda Bandung membaca peluang di balik limbah.

Hirka Shoes bukan sekadar sepatu. Ia adalah simbol inovasi, bahwa ide besar bisa lahir dari sesuatu yang dianggap remeh. Dari kota yang akrab dengan hujan dan seblak, kini jejak langkah Hirka menembus panggung internasional.

Dari ceker untuk dunia. Dari Bandung untuk masa depan fesyen yang lebih berkelanjutan.

Inovasi ini menunjukkan bahwa kreativitas sejati tidak selalu lahir dari sumber daya besar, melainkan dari keberanian membaca ulang hal-hal sederhana di sekitar kita. Hirka Shoes membuktikan bahwa masa depan industri bisa bertumpu pada bahan alternatif yang ramah lingkungan, sekaligus memberi nilai tambah bagi masyarakat.

Jika kulit ceker ayam yang dulu dianggap limbah bisa menjelma menjadi karya bernilai global, siapa tahu masih banyak potensi lain yang menunggu ditemukan. Mungkin, kuncinya ada pada cara kita memandang sesuatu: bukan sebatas apa adanya, melainkan apa yang bisa jadi darinya. #APAxKBN2025


Referensi
Astrid Prasetya. (2024, 11 November). Kreativitas dan Kerja Keras Nurman Sang Penyulam Sepatu Kulit Ceker Ayam. Diakses dari: https://www.astridprasetya.com/2024/11/nurman-farieka-ramdhany-sepatu-kulit-ceker-ayam.html

Badan Pusat Statistik (BPS). (2023). Statistik Perdagangan Ekspor-Impor Kulit dan Produk Hewan Reptil. Jakarta: BPS RI.

Good News From Indonesia. (2023). Sepatu dari Kulit Ceker Ayam Tidak Kalah Bagus dari Kulit Ular dan Buaya. GNFI.

Good News From Indonesia. (2025, 20 September). Inovasi Sepatu Kulit Ceker Ayam! Kisah Inspiratif Nurman Farieka, Penerima SATU Indonesia Awards. Diakses dari: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2025/09/20/inovasi-sepatu-kulit-ceker-ayam-kisah-inspiratif-nurman-farieka-penerima-satu-indonesia-awards


Comments