Tembok
Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan.
Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya.
Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar tanpa permisi.
Saat itulah, persona "Si Paling Mandiri" yang kubanggakan itu menguap begitu saja. Aku mulai sedikit demi sedikit melonggarkan genggaman pada kendali, membiarkanmu mengulurkan tangan, meski ya, aku tetaplah aku. Meminta tolong secara langsung masih terasa seperti mendaki tebing terjal karena gengsi ini adalah warisan yang sulit kutanggalkan.
Kau adalah pelompat tembok yang luar biasa. Kau tidak meruntuhkan bentengku dengan paksa, melainkan melompatinya dengan ketulusan yang gigih. Sesekali kau gagal, mungkin salah mendarat atau luput membaca tanda, tapi maafmu selalu lebih luas dari ruang kesalahanku. Effort yang kau berikan untuk membacaku, memahami sunyi di balik kalimatku, sungguh terasa kencang dan nyata.
Aku pun sering kali merasa kecil di hadapan caramu bertumbuh. Terutama saat melihatmu dengan tekun melahap buku demi buku, yakni one day one book. Jika hidup adalah sebuah lintasan balap literasi, aku pasti sudah tertinggal jauh di belakang, terengah-engah mengejar bayangmu. Namun, bukankah itu indahnya? Memiliki teman tumbuh yang selalu selangkah lebih maju untuk memberiku arah.
Teruslah bertumbuh dengan caramu yang unik dan asyik itu. Mari kita tetap menjadi dua orang yang saling menemukan di setiap persimpangan jalan. Sampai jumpa di lapisan kehidupan dan takdir yang lain, di mana pun semesta memutuskan untuk mempertemukan kita lagi.
Di penghujung tulisan ini, hanya satu pintaku: semoga dalam daftar panjang harapan yang kau langitkan, namaku masih menjadi tujuan utamamu.

Comments
Post a Comment