Search This Blog
Sebuah catatan tentang hidup yang patut diperjuangkan dan dirayakan oleh makhluk bernama "anak perempuan pertama"
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
SURAT GUGATAN UNTUK TUHAN
Kepada Penguasa Semesta,
Sudah beberapa pekan ini aku menyusun draf gugatan resmi di kepala. Aku ingin menuntut-Mu atas dugaan kelalaian pengawasan. Bagaimana tidak? Hidup di tanah tempatku berpijak ini rasanya seperti dijebak dalam simulasi pertahanan hidup level ekstrem tanpa diberi panduan keselamatan. Pagi hari diawali dengan kemacetan yang menguras waras, siang diisi berita korupsi para pejabat yang jumlahnya melimpah seperti rumput liar, dan malam ditutup dengan kalkulasi sisa gaji yang tergerus potongan pajak dengan kegunaan seabstrak puisi surealis.
Atas nama rasa keadilan yang terluka, aku ingin memprotes kesewenang-wenangan ini. Kenapa hukum sering kali tumpul ke atas tapi menggorok tajam ke bawah? Kenapa jalan berlubang tak kunjung diperbaiki sementara anggaran perbaikannya mendadak menyulap mobil dinas oknum menjadi seri terbaru? Kenapa aturan dibuat sedemikian rupa rumitnya hanya untuk memuluskan jalan bagi mereka yang berkantong tebal?
Aku murka luar biasa pada-Mu, Tuhan! Aku berteriak dalam hati, mempertanyakan di mana letak keadilan-Mu ketika kami yang jujur ini terus digilas, sementara para oknum yang salah malah melenggang jumawa—bahkan lebih galak dari korbannya. Aku mengutuk takdir, merutuki keadaan, dan hampir menuding-Mu sebagai sutradara yang tega membiarkan penderitaan kami menjadi lelucon harian.
Namun, tepat di puncak kemarahanku—di tengah kepulan asap knalpot, antrean nomor 142 yang tak kunjung dipanggil, dan berita komedi politik yang tayang tiap jam makan siang—sebuah kilatan pencerahan mendadak menghantam sanubariku.
Aku terhenyak. Draf gugatanku seketika luluh pasrah.
Ternyata aku yang picik. Ini sama sekali bukan hukuman, melainkan cara-Mu mempermudah kami masuk surga!
Engkau Maha Tahu betapa lemahnya kami jika harus bersaing kuota ibadah secara normal dengan bangsa lain. Di belahan bumi lain, orang-orang harus melakoni tirakat panjang, bermunajat di sujud-sujud malam yang sunyi, atau mengasingkan diri ke puncak gunung demi meluruhkan dosa. Bahkan di bumi Palestina, saudara-saudara kita harus bertaruh nyawa di bawah hujan bom, meregang nyawa, dan memeras darah demi membela kehormatan serta meraih rida-Mu seperti yang dilakukan umat-umat terbaik sepanjang sejarah.
Tapi bagi kami? Engkau tahu kami tak akan pernah sanggup menanggung ujian segarang dan seberat itu. Engkau tak menuntut kami bertapa di puncak gunung atau mempertaruhkan nyawa di medan pertempuran. Engkau cukup melempar kami ke dalam sistem birokrasi bumi yang gila, lalu membiarkan emosi dan kewarasan kami terbakar tiap hari di jalan raya sebagai bentuk peleburan dosa secara instan.
Setiap kali kami menelan ludah menahan emosi menghadapi aturan yang berubah-ubah, setiap kali kami dipaksa sabar mengelus dada di hadapan stempel kewenangan, dan setiap kali kami memilih tetap jujur di tengah kepungan para oknum—di situlah Engkau melunaskan cicilan siksa neraka kami secara tunai di dunia.
Terima kasih, Tuhan, telah memilihku lahir dan hidup di tanah ini.
Engkau sengaja menempatkan kami dalam ujian mental level hardcore ini agar kami tak perlu lagi mampir ke neraka. Penderitaan, kejengkolan, dan sesak dada bertahan hidup menjadi warga negara di sini sudah lebih dari cukup untuk memutihkan seluruh dosa sepanjang hayat.
Kucium KTP-ku, kurobek draf gugatanku. Tidak ada lagi amarah, hanya tersisa lega yang tak masuk akal. Jalur surga kami resmi dibuka lewat jalur bebas hambatan: jalur WNI yang lolos verifikasi kewarasan.
- Get link
- X
- Other Apps
Popular Posts
Dari Topping Seblak Jadi Bahan Baku Sepatu Mewah: Jejak Inovasi Anak Bangsa Lewat Sepatu Kulit Ceker Ayam
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment