Gema Sepuluh Tahun
Aku tidak pernah benar-benar tahu di mana batas antara jatuh cinta dan sekadar mengagumi. Bagi orang lain, perasaan itu mungkin punya spektrum warna yang jelas—merah membara atau merah muda yang manis. Tapi di kadarku, rasa suka itu datang begitu saja, datar, tenang, lalu menetap tanpa banyak menuntut.
Sampai aku membaca kalimat Søren Kierkegaard suatu sore di sudut toko buku: “Kalau kamu bisa melepas dan mengorbankan apa pun yang kamu cintai untuknya tanpa berharap dia akan memilihmu atau tidak, itu baru namanya cinta.”
Mesti begitu pahitkah?
Dulu, aku mengira cinta adalah perkara merelakan dengan lapang dada. Kurasa tidak akan ada yang separah itu—sampai orang itu datang dalam hidupku.
Seseorang yang tidak pernah berjanji apa-apa, tapi berhasil menguasai kepalaku hingga sepuluh tahun lebih. Selama itu pula, tanpa sadar aku telah memasang standar yang tidak kasat mata. Di setiap ruang tunggu stasiun, di antara ramainya kafe beraroma kopi, hingga pada senyum asing yang singgah sesaat, aku selalu mencari bayangannya pada diri manusia lain.
Mataku meneliti postur tubuh yang mirip, cara tertawa yang samar, atau jeda bicara yang mengingatkanku padanya. Sepuluh tahun adalah waktu yang panjang untuk merawat sebuah hantu di kepala.
Mungkin itu juga alasan mengapa hingga detik ini aku belum juga benar-benar siap membuka pintu untuk seseorang yang baru. Hatiku seperti rumah tua yang kuncinya sudah lama hilang, sementara ruang tamunya masih dipenuhi jejak kaki pemilik lama yang pergi begitu saja tanpa pamit.
Atau jangan-jangan... dia memang rumah itu?
Comments
Post a Comment