Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Pesan



Hari ini, dadaku terasa begitu sesak, seolah udara enggan masuk ke dalam paru-paru. Ada sebak yang menyumbat di tenggorokan, sebuah tangis yang sedari tadi kutahan namun akhirnya tumpah juga tanpa permisi. Segalanya bermula dari sebuah pesan sederhana di layar gawai—sebuah sapaan dari Ibu yang tiba-tiba menembus keheningan di antara kami.

Selama ini, percakapan kami hanyalah rangkaian kalimat formal tentang keperluan mendesak atau sekadar basa-basi "sudah makan" yang berakhir begitu saja. Namun kali ini, pesannya terasa berbeda. Beliau ingin memastikan apakah anak perempuannya masih memiliki cukup bekal untuk menyambung hari. Di balik kata-katanya yang bersahaja, terselip sebuah pengakuan yang menyentuh palung hatiku: bahwa aku, terlepas dari segala langkah mandiri yang kupijak, tetaplah tanggung jawab mereka. Mereka ingin berbagi, meski hanya sedikit dari apa yang mereka punya.

Seketika, aku tersentak. Sebuah permohonan maaf meluncur begitu saja dalam benakku karena hingga detik ini, aku belum mampu memberikan apa-apa. Aku masih sibuk merajut mimpi-mimpi yang mengantri panjang untuk diwujudkan, masih tertatih belajar bertanggung jawab atas napasku sendiri. Tangisku pecah tepat setelah aku membalas deretan pesan yang tak biasa itu. Ada luka yang halus namun tajam saat menyadari betapa jauh jarak komunikasi yang selama ini kami bangun dalam kesunyian.

Sebagai seorang anak, nuraniku selalu berbisik untuk memberikan yang terbaik. Namun, aku pun belajar bahwa mencintai tidak seharusnya berarti mengorbankan seluruh eksistensi diri. Bagi mereka, keberhasilanku menjaga diri sendiri mungkin sudah lebih dari cukup, namun kepalaku sering kali menjadi musuh yang paling kejam. Ia kerap berteriak bahwa jika aku tidak memberi, maka aku tidak mencintai, dan jika aku tidak mencintai, aku tidak berhak untuk dicintai.

Nyaliku menciut di hadapan asumsi-asumsi pahit yang kupelihara sendiri. Kerapuhan ini kusembunyikan rapat-rapat dalam ruang kepala, menjadi sebuah rahasia yang tak pernah bisa kuutarakan kepada keluarga yang sedemikian sunyi. Di antara tangis dan sisa-sisa doa, aku tersadar bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang bagaimana aku membahagiakan mereka, melainkan juga tentang bagaimana aku memaafkan diriku sendiri yang masih dalam proses menjadi.

Comments