Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

Pesan



Hari ini, dadaku terasa begitu sesak, seolah udara enggan masuk ke dalam paru-paru. Ada sebak yang menyumbat di tenggorokan, sebuah tangis yang sedari tadi kutahan namun akhirnya tumpah juga tanpa permisi. Segalanya bermula dari sebuah pesan sederhana di layar gawai—sebuah sapaan dari Ibu yang tiba-tiba menembus keheningan di antara kami.

Selama ini, percakapan kami hanyalah rangkaian kalimat formal tentang keperluan mendesak atau sekadar basa-basi "sudah makan" yang berakhir begitu saja. Namun kali ini, pesannya terasa berbeda. Beliau ingin memastikan apakah anak perempuannya masih memiliki cukup bekal untuk menyambung hari. Di balik kata-katanya yang bersahaja, terselip sebuah pengakuan yang menyentuh palung hatiku: bahwa aku, terlepas dari segala langkah mandiri yang kupijak, tetaplah tanggung jawab mereka. Mereka ingin berbagi, meski hanya sedikit dari apa yang mereka punya.

Seketika, aku tersentak. Sebuah permohonan maaf meluncur begitu saja dalam benakku karena hingga detik ini, aku belum mampu memberikan apa-apa. Aku masih sibuk merajut mimpi-mimpi yang mengantri panjang untuk diwujudkan, masih tertatih belajar bertanggung jawab atas napasku sendiri. Tangisku pecah tepat setelah aku membalas deretan pesan yang tak biasa itu. Ada luka yang halus namun tajam saat menyadari betapa jauh jarak komunikasi yang selama ini kami bangun dalam kesunyian.

Sebagai seorang anak, nuraniku selalu berbisik untuk memberikan yang terbaik. Namun, aku pun belajar bahwa mencintai tidak seharusnya berarti mengorbankan seluruh eksistensi diri. Bagi mereka, keberhasilanku menjaga diri sendiri mungkin sudah lebih dari cukup, namun kepalaku sering kali menjadi musuh yang paling kejam. Ia kerap berteriak bahwa jika aku tidak memberi, maka aku tidak mencintai, dan jika aku tidak mencintai, aku tidak berhak untuk dicintai.

Nyaliku menciut di hadapan asumsi-asumsi pahit yang kupelihara sendiri. Kerapuhan ini kusembunyikan rapat-rapat dalam ruang kepala, menjadi sebuah rahasia yang tak pernah bisa kuutarakan kepada keluarga yang sedemikian sunyi. Di antara tangis dan sisa-sisa doa, aku tersadar bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang bagaimana aku membahagiakan mereka, melainkan juga tentang bagaimana aku memaafkan diriku sendiri yang masih dalam proses menjadi.

Comments