20/6
Malam itu, selasar belakang rumah begitu mati. Secangkir teh yang mulai mendingin menjadi saksi sebuah pengadilan sunyi. Rania meletakkan buku catatan kecil bergaris dengan sampul cokelat di atas meja kayu. Di hadapannya, Satria duduk bersandar, melipat tangan di dada dengan raut wajah tenang—bentengpertahanan yang sengaja ia pasang agar tidak terlihat tersudut. "Aku sudah menghitung dosaku sendiri dalam hubungan ini, Sat," ucap Rania, memecah hening. "Totalnya ada enam. Aku terlalu menuntut di minggu pertama kita pindah, aku nggak mendengarkan penjelasanmu soal proyek bulan lalu, aku melupakan janji makan malam kita, aku egois soal pembagian waktu libur, aku sempat meragukan keputusan bisnismu, dan aku mendiamkanmu dua hari lalu tanpa bilang sebabnya." Rania menatap Satria lurus-urus. "Sekarang giliranmu. Tolong tambahkan, dosa apalagi milikku yang belum aku sebutkan?" Satria diam. Bagi lelaki dengan logika praktis seperti dirinya, enam hal yang disebutka...