Featured

20/6

Malam itu, selasar belakang rumah begitu mati. Secangkir teh yang mulai mendingin menjadi saksi sebuah pengadilan sunyi. Rania meletakkan buku catatan kecil bergaris dengan sampul cokelat di atas meja kayu. Di hadapannya, Satria duduk bersandar, melipat tangan di dada dengan raut wajah tenang—bentengpertahanan yang sengaja ia pasang agar tidak terlihat tersudut.

"Aku sudah menghitung dosaku sendiri dalam hubungan ini, Sat," ucap Rania, memecah hening. "Totalnya ada enam. Aku terlalu menuntut di minggu pertama kita pindah, aku nggak mendengarkan penjelasanmu soal proyek bulan lalu, aku melupakan janji makan malam kita, aku egois soal pembagian waktu libur, aku sempat meragukan keputusan bisnismu, dan aku mendiamkanmu dua hari lalu tanpa bilang sebabnya."

Rania menatap Satria lurus-urus. "Sekarang giliranmu. Tolong tambahkan, dosa apalagi milikku yang belum aku sebutkan?"

Satria diam. Bagi lelaki dengan logika praktis seperti dirinya, enam hal yang disebutkan Rania itu adalah hal sepele yang sudah lewat. Nggak perlu dibesar-besarkan.

"Nggak ada, Ran," jawab Satria pelan. "Bagiku itu semua udah selesai. Kita udah melaluinya."

Rania tersenyum tipis, jenis senyuman yang menyembunyikan rasa pahit. "Kalau begitu, izinkan aku mengevaluasi kesalahan berulang yang kamu lakukan."

Satria menegakkan posisi duduknya. Egonya terusik. "Silakan. Aku bebaskan kamu menghitung berapa 'dosa' yang ada di kepalamu," tantang Satria, refleks bertahan agar tidak kehilangan kendali.

Rania membuka halaman berikutnya. "Hasilnya ada dua puluh, Sat. Dan sebagian besar sering kamu ulang."

Tanpa emosi, Rania membacanya satu per satu. Mulai dari keputusan sepihak Satria yang berdampak pada urusan rumah, kalimat 'kamu terlalu sensitif' yang sering keluar saat Rania protes, sampai kegagalan Satria memberikan validasi emosional saat Rania sedang rapuh. Satria mendengarkan dengan rahang mengencang. Dadanya sesak oleh disonansi kognitif—dia ingin membela diri, mengatakan bahwa semua yang dia lakukan adalah demi kebaikan bersama.

"Sat, menelan kenyataan ini memang pahit. Tapi ini obat yang kita butuhkan," ujar Rania menutup bukunya. "Aku udah jelaskan teknisnya berbulan-bulan lalu, kan? Kalau kamu nggak sengaja mengulangi kesalahan itu lagi, cukup akui dampaknya pada perasaanku, jangan langsung membela diri pakai logika, dan ucapkan maaf yang tulus secara verbal sebelum cari solusi. Cuma itu."

Satria menatap buku itu. Di atas kertas, formula itu terdengar mudah. Tapi malam itu, kata "maaf" tertahan di tenggorokannya. Egonya berbisik bahwa mengalah berarti kalah. Obrolan malam itu menggantung tanpa selesai.

Beberapa bulan kemudian, formula di atas kertas itu terbukti menguap begitu saja. Buku catatan bersampul cokelat itu kini mendekam di dalam tas Rania, di atas pangkuannya.

Bus kota malam itu berguncang keras, menghantam lubang jalanan yang diguyur hujan. Suasananya pengap dan bising oleh deru mesin tua. Rania bersandar pada kaca jendela yang bergetar, menatap jalanan luar yang basah. Di kepalanya, dia sibuk menghapus dan merombak total rencana yang sudah ia susun rapi sejak seminggu lalu. Semuanya berantakan karena Satria lagi-lagi "kambuh". Lelaki itu telat berjam-jam karena urusan kantor, dan seperti biasa, lupa memberi kabar.

Satria duduk di sebelahnya, mengusap wajahnya yang kusam karena capek. "Ran," panggil Satria, mencoba mengalahkan suara bising bus. "Aku tahu aku salah. Tapi tadi itu bener-bener darurat. Sistem kantor downtotal, semua orang panik, dan aku harus beresin. Aku bener-bener nggak sempat pegang HP."

Rania tidak menoleh. Suaranya dingin. "Aku nggak mempermasalahkan urusan kantormu, Sat. Tapi kamu selalu punya waktu berjam-jam buat beresin masalah, tapi nggak punya waktu lima detik buat kirim chat, 'Aku telat.' Kamu biarin aku nunggu tanpa kepastian."

Satria menghela napas, logikanya mulai mengambil alih. "Ya kan agendanya tinggal kita geser besok pagi, Ran. Beres, kan? Jangan karena jamnya munduran sedikit, seluruh sisa perjalanan kita jadi rusak begini."

Rania menoleh, tatapannya menusuk. "Ini bukan cuma soal jam yang bergeser, Satria. Ini soal rasa dihargai. Ini bagian dari dua puluh daftar kesalahan yang waktu itu pernah kita bahas di selasar. Kamu kayak amnesia sama cara bersikap yang udah kita sepakati dulu."

Tersudut dan merasa usahanya bekerja keras hari ini sia-sia, Satria memotong cepat, "Oke, oke, aku minta maaf soal kabar tadi. Tapi tolong, nggak usah bawa-bawa daftar yang dulu lagi."

"Aku terpaksa bawa itu lagi, karena dari semua kesalahanmu, ada dua janji utama yang paling penting yang sampai detik ini belum kamu penuhi," tekan Rania, suaranya agak bergetar. "Dua janji yang kita ucapkan tepat sebelum kita memutuskan untuk berkomitmen serius. Dan yang paling bikin aku sedih... kamu bahkan nggak ingat sama sekali apa dua janji itu."

Satria mengernyitkan dahi. Pikirannya mendadak kosong. Dia mencoba mengingat-ingat—soal tabungan? Janji ke rumah orang tua? Kepala Satria buntu. Matanya sempat menangkap sepasang suami istri tua yang duduk di barisan depan bus, si kakek tampak menggenggam erat tangan nenek di sebelahnya saat bus berguncang. Sesuatu seperti tergelitik di ingatan Satria—sesuai ingatan tentang rasa aman dan keterbukaan—tapi egonya yang sedang panas membuat otaknya terkunci. Dia tetap tidak bisa mengingat detailnya.

"Apa coba, Ran? Ya sebutin aja," ujar Satria, mulai frustrasi dan geregetan karena merasa ditebak-tebak. "Kalau kamu nggak ngomong, ya mana aku tahu? Jangan bikin aku bingung begini."

"Nggak," jawab Rania ketus, lalu membuang mukanya lagi ke arah jendela. "Aku sengaja nggak mau sebutin. Kalau aku yang ngomong, itu namanya aku yang maksa kamu buat ingat. Aku mau kamu cari tahu sendiri pakai hatimu. Aku cuma mau lihat, seberapa penting komitmen kita buat kamu, sampai dua janji se-fondasi itu aja bisa kamu lupain."

Bus kembali mengerem mendadak dengan suara decitan nyaring, memutus kalimat mereka. Kernet berteriak menyebutkan nama halte di depan.

Satria bersandar pada kursi bus yang keras, menatap kosong ke depan. Secara teori, dia tahu persis runtutan yang harus dia lakukan: meredam logika, memvalidasi kekecewaan Rania, dan meminta maaf dengan tulus. Teknis itu ada di kepalanya. Tapi malam ini, di tengah guncangan bus yang bising dan ego yang terluka, dia seperti mendadak lupa harus bersikap seperti apa. Petunjuk teknis itu mendadak jadi bahasa asing yang gagal dia terjemahkan.

Di sisa perjalanan yang masih panjang, Satria terdiam, terjebak di dalam kepalanya sendiri. Dia tidak hanya gagal memberi kabar, tapi dia sedang bertarung mencari dua janji yang terkubur di balik megahnya ego yang enggan dia turunkan.

Comments