Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Ritus Melarung Angan

 

Ada hukum semesta yang tidak tertulis: bahwa apa yang paling keras berusaha kita lupakan, justru dikirimkan kembali oleh angin malam sebagai gema.

Akhir-akhir ini, semesta seperti sedang bersekongkol untuk mengujiku. Batas antara dunia mimpi dan jaga mendadak kabur, menyisakan ruang remang tempat kau seringkali mendobrak masuk. Kau merenggut lelapku tanpa permisi, menyergap sadarku di siang bolong, dan lalu-lalang dalam sekelebat ingatan seperti bayangan di balik kelambu.

Aku tertegun di hadapan cangkir kopiku yang mendingin. Apakah aku yang gagal menuntaskan takdir untuk merelakanmu? Ataukah jiwamu yang sebenarnya masih tertaut pada seutas benang tak kasat mata, ikatan semu yang kita tenun bersama, namun tak pernah menemukan ujungnya?

Manusia seringkali mengira mereka memiliki kendali penuh atas langkah kakinya. Aku telah mengerahkan seluruh daya hidupku, menempuh laku prihatin yang sunyi demi bebas dari hiruk-pikuk angan tentangmu. Aku telah mengasingkan diri dari ruang dan waktu yang pernah kita huni bersama. Bahkan, semua benda yang memancarkan energimu telah kuputus restunya.

Buku-buku favoritmu yang dulu sering kau bacakan dengan suara rendah saat hujan mengguyur atap telah kupersembahkan pada dewa api. Kubakar mereka dengan nyala patah hati yang berkobar merah. Lalu, abunya kularung ke aliran sungai berair payau yang mengalir ke muara, menjadikannya sesaji bagi para buaya danau yang berjaga di kedalaman air hitam. Kupikir, jika air bisa menghanyutkan abu, ia juga bisa menghanyutkan rindu.

Namun, semesta selalu punya cara jenaka sekaligus kejam untuk mengingatkan manusia akan kelemahannya.

Aku bisa membakar buku, aku bisa menjauhi warung makan legendaris di sudut kota yang menjadi tempat persemayaman rasa favoritmu. Aku bisa bersumpah pada bumi untuk tidak pernah menginjakkan kaki ke sana lagi. Namun, lidah dan ingatan adalah dua hal yang paling sulit dijinakkan.

Hingga hari ini, belum ada rasa yang mampu menandingi racikan bumbu di tempat itu. Sialnya, rasa masakan itu bukan sekadar perkara nyaman di lidah atau takaran garam yang pas. Ia adalah mantra. Ia mengikat seluruh jiwa dan raga, seperti aroma tanah kering yang diguyur hujan pertama: akrab, magis, dan mustahil untuk digantikan.

Maka di sinilah aku sekarang. Berdiri di tepi jembatan, memandang air payau yang tenang, menyadari bahwa melarung abu buku ternyata jauh lebih mudah daripada melarung rasa yang telah telanjur menetap di urat nadi.


Comments