Mendoan Dingin dan Pecahan Cermin
Pesan itu masuk tepat di langkah ke-tujuh ribu dalam rutinitasku hari ini. Layar ponselku menyala, menampilkan deretan kalimat yang disusun dengan kehati-hatian seorang perakit bom, mencoba menjinakkan ledakan amarah yang sudah telanjur menghanguskan ruang tunggu.
"Pecahan cermin itu telanjur berserakan di telapak tanganku, dan kucoba menyatukannya kembali, berharap ia pulih tanpa bekas. Senyum yang kemarin kutebar hanyalah kelambu rapuh yang menyembunyikan laku khilafku sendiri. Ah, penyesalan memang selalu terlambat menjejakkan kaki di garis start. Namun, kuteguk teguranmu yang pahit ini sebagai obat untuk menumbuhkan dan merawat kembali ladang kepercayaan yang sempat kusebari duri. Berilah maafmu untukku."
Aku membacanya dua kali. Di bawah langit sore yang mulai kehilangan warnanya, kata-kata itu terdengar puitis, nyaris seindah kutipan novel-novel melankolis. Tapi sayangnya, aku tidak sedang berhadapan dengan tokoh fiksi yang butuh simpati pembaca. Aku berhadapan dengan seorang pencuri waktu.
Aku memasukkan kembali ponsel ke dalam saku dan melanjutkan sisa target sepuluh ribu langkahku hari ini. Berjalan kaki selalu menjadi caraku menjaga kewarasan, membiarkan ritme tapak sepatu menggilas habis isi kepala yang bising. Di ujung jalan, napasku mulai teratur, dan aku singgah di sebuah warung tenda pinggir jalan. Kupesan seporsi mendoan yang baru saja diangkat dari wajan. Panas, berminyak, dan lembek.
Sambil menatap mendoan yang perlahan mendingin diterpa angin, aku merenungkan pesannya. Mengapa orang yang terbiasa mengkhianati waktu selalu berpikir bahwa waktu bisa disuap dengan puisi? Dia bicara soal pecahan cermin di telapak tangannya, tentang kelambu rapuh dan ladang kepercayaan. Metafora yang manis untuk menutupi tabiat yang kejam.
Sebuah pertemuan, sebuah hubungan, tak ubahnya seperti mendoan di depanku ini. Kehangatannya memiliki batas durasi yang sangat absolut. Jika kau membiarkannya tergeletak terlalu lama—seperti dia membiarkanku menunggunya dua belas kali tanpa kabar—maka yang tersisa hanyalah seonggok makanan dingin yang alot dan menyedihkan. Kau mungkin masih bisa memakannya, memaksanya masuk ke kerongkongan, tapi selera dan kenikmatan itu sudah lama mati.
Penyesalan memang selalu terlambat menjejakkan kaki di garis start, tulisnya. Setidaknya dalam hal ini dia tidak berbohong. Tapi berharap menyatukan pecahan cermin agar pulih tanpa bekas? Itu bukan penyesalan, itu kenaifan yang brutal. Kaca yang pecah akan selalu menyisakan retak. Jika kau memaksakan diri meremasnya, ia hanya akan mengiris tanganmu, lalu darahnya akan menodai apa pun yang kau sentuh setelahnya.
Kuletakkan selembar uang di atas meja kayu yang lengket, meninggalkan separuh mendoan yang kini sudah benar-benar dingin dan kehilangan nyawanya.
Kuambil ponselku. Hukuman pengasingan tiga puluh hari itu tidak akan batal hanya karena serangkai kalimat indah. Tanpa keraguan sedikit pun, kuketikkan balasan singkat sebelum menekan tombol senyap untuk kontaknya:
"Maaf sudah kuberikan sejak keterlambatanmu yang ketujuh. Tapi tiga puluh hari adalah tiga puluh hari. Obati dulu tanganmu yang berdarah karena pecahan cermin itu, dan biarkan aku hidup tenang dari sisa waktuku yang tak lagi kau curi."

Comments
Post a Comment