Skip to main content

Featured

Riak Rindu Menuju Muara: Sebuah Manuskrip Kepulangan

Jalaluddin Rumi pernah melarungkan petuah melintasi abad, tentang jiwa yang bertindak sebagai magnet bagi takdirnya sendiri. Apa yang kauburu dengan rasa, itulah yang akan bertamu ke dalam dada. Jika kebencian yang kaucari, maka duri-duri kelam akan tumbuh memenuhi jalanmu. Namun, jika cinta yang kaukais dari reruntuhan bumi, maka hamparan kelopak mawar akan membentang menyambut langkahmu. Maka di hadapan hukum semesta yang benderang itu, sepasang mataku meredup, lalu bertanya pada sunyi yang paling palung: Lalu, apa lagi yang pantas kucari di kolong langit ini, selain Engkau? Pencarian di luar diri-Mu hanyalah pengembaraan fatamorgana yang melelahkan kaki-kaki ringkih ini. Sebab, bukankah hakikat seorang kekasih yang didera rindu adalah mereka yang tak lelah merapal mantra pertemuan? Ia adalah jiwa yang gelisah, yang senantiasa ingin memangkas bentangan waktu dan meruntuhkan jembatan jarak yang memisahkan. Lalu, untuk apa lagi aku mengulur waktu, berlama-lama mengasingkan diri dalam ...

Membaca Ulang Jarak

 



Bagaimana jika hidup ternyata adalah sebuah ironi yang panjang? Kau yang kupuja selama lebih dari separuh usia hidupku, justru harus kujauhi mati-matian di separuh sisa yang lain.

Aku melakukannya bukan karena benci, melainkan demi sebuah penyelamatan yang sunyi. Aku menjauh agar logikaku tak lumpuh dikuasai perasaan. Aku melarikan diri agar ruang hati tak melulu riuh oleh zikir namamu, dan agar bait-bait hafalan yang kujaga bertahun-tahun tidak menguap begitu saja, runtuh digantikan bayangmu.

Maka, kukutuk diriku dalam kesibukan. Kupastikan hari-hariku padat dan rapat, bekerja keras menjaga pikiran agar tak menyisakan satu kelebat celah pun untuk memikirkanmu. Aku bertarung dengan diriku sendiri setiap hari, menukar rindu dengan letih.

Lalu, di puncak pelarian itu, ketika aku berpikir telah berhasil membangun jarak, Allah justru mengirimkanmu sendiri ke hadapanku. Tanpa paksaan, tanpa drama. Ia mengantarmu dengan skenario yang paling tenang, dengan cara terbaik-Nya yang tak pernah bisa kutebak.

Maka, untuk segala kesucian yang engkau dan aku jaga selama ini, jangan heran jika aku memilih menutup semua pintu tentangmu. Dari segala sisi, segala arah, dan segala kemungkinan yang ada.

Aku mengunci pintu-pintu itu bukan karena angkuh, bukan pula karena sebuah penolakan. Aku hanya sedang melindungi diriku sendiri. Sebab aku tahu, rasa ini terlalu raksasa; ia tak akan mungkin bisa kukendalikan jika tidak kubatasi sejak awal.

Dengan menutup semua celah, aku bersiap untuk kemungkinan yang paling dingin. Kalau pun pada akhirnya garis takdir kita tidak pernah dituliskan untuk bersinggungan, aku ingin memastikan bahwa aku akan tetap baik-baik saja. Hati ini harus tetap utuh, walau tanpamu.

Namun, jika pada akhirnya takdirmu memang bersamaku...

Aku akan berhenti berlari. Aku akan membuka pintu-pintu itu kembali, menarik napas dalam-dalam, dan berbisik lirih kepada semesta: ya, syukurlah.


Comments