Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Membaca Ulang Jarak

 



Bagaimana jika hidup ternyata adalah sebuah ironi yang panjang? Kau yang kupuja selama lebih dari separuh usia hidupku, justru harus kujauhi mati-matian di separuh sisa yang lain.

Aku melakukannya bukan karena benci, melainkan demi sebuah penyelamatan yang sunyi. Aku menjauh agar logikaku tak lumpuh dikuasai perasaan. Aku melarikan diri agar ruang hati tak melulu riuh oleh zikir namamu, dan agar bait-bait hafalan yang kujaga bertahun-tahun tidak menguap begitu saja, runtuh digantikan bayangmu.

Maka, kukutuk diriku dalam kesibukan. Kupastikan hari-hariku padat dan rapat, bekerja keras menjaga pikiran agar tak menyisakan satu kelebat celah pun untuk memikirkanmu. Aku bertarung dengan diriku sendiri setiap hari, menukar rindu dengan letih.

Lalu, di puncak pelarian itu, ketika aku berpikir telah berhasil membangun jarak, Allah justru mengirimkanmu sendiri ke hadapanku. Tanpa paksaan, tanpa drama. Ia mengantarmu dengan skenario yang paling tenang, dengan cara terbaik-Nya yang tak pernah bisa kutebak.

Maka, untuk segala kesucian yang engkau dan aku jaga selama ini, jangan heran jika aku memilih menutup semua pintu tentangmu. Dari segala sisi, segala arah, dan segala kemungkinan yang ada.

Aku mengunci pintu-pintu itu bukan karena angkuh, bukan pula karena sebuah penolakan. Aku hanya sedang melindungi diriku sendiri. Sebab aku tahu, rasa ini terlalu raksasa; ia tak akan mungkin bisa kukendalikan jika tidak kubatasi sejak awal.

Dengan menutup semua celah, aku bersiap untuk kemungkinan yang paling dingin. Kalau pun pada akhirnya garis takdir kita tidak pernah dituliskan untuk bersinggungan, aku ingin memastikan bahwa aku akan tetap baik-baik saja. Hati ini harus tetap utuh, walau tanpamu.

Namun, jika pada akhirnya takdirmu memang bersamaku...

Aku akan berhenti berlari. Aku akan membuka pintu-pintu itu kembali, menarik napas dalam-dalam, dan berbisik lirih kepada semesta: ya, syukurlah.


Comments