Search This Blog
Sebuah catatan tentang hidup yang patut diperjuangkan dan dirayakan oleh makhluk bernama "anak perempuan pertama"
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Membaca Ulang Jarak
Bagaimana jika hidup ternyata adalah sebuah ironi yang panjang? Kau yang kupuja selama lebih dari separuh usia hidupku, justru harus kujauhi mati-matian di separuh sisa yang lain.
Aku melakukannya bukan karena benci, melainkan demi sebuah penyelamatan yang sunyi. Aku menjauh agar logikaku tak lumpuh dikuasai perasaan. Aku melarikan diri agar ruang hati tak melulu riuh oleh zikir namamu, dan agar bait-bait hafalan yang kujaga bertahun-tahun tidak menguap begitu saja, runtuh digantikan bayangmu.
Maka, kukutuk diriku dalam kesibukan. Kupastikan hari-hariku padat dan rapat, bekerja keras menjaga pikiran agar tak menyisakan satu kelebat celah pun untuk memikirkanmu. Aku bertarung dengan diriku sendiri setiap hari, menukar rindu dengan letih.
Lalu, di puncak pelarian itu, ketika aku berpikir telah berhasil membangun jarak, Allah justru mengirimkanmu sendiri ke hadapanku. Tanpa paksaan, tanpa drama. Ia mengantarmu dengan skenario yang paling tenang, dengan cara terbaik-Nya yang tak pernah bisa kutebak.
Maka, untuk segala kesucian yang engkau dan aku jaga selama ini, jangan heran jika aku memilih menutup semua pintu tentangmu. Dari segala sisi, segala arah, dan segala kemungkinan yang ada.
Aku mengunci pintu-pintu itu bukan karena angkuh, bukan pula karena sebuah penolakan. Aku hanya sedang melindungi diriku sendiri. Sebab aku tahu, rasa ini terlalu raksasa; ia tak akan mungkin bisa kukendalikan jika tidak kubatasi sejak awal.
Dengan menutup semua celah, aku bersiap untuk kemungkinan yang paling dingin. Kalau pun pada akhirnya garis takdir kita tidak pernah dituliskan untuk bersinggungan, aku ingin memastikan bahwa aku akan tetap baik-baik saja. Hati ini harus tetap utuh, walau tanpamu.
Namun, jika pada akhirnya takdirmu memang bersamaku...
Aku akan berhenti berlari. Aku akan membuka pintu-pintu itu kembali, menarik napas dalam-dalam, dan berbisik lirih kepada semesta: ya, syukurlah.
- Get link
- X
- Other Apps
Popular Posts
Ibadah Transaksional: Paradigma Religius yang Tumbuh dalam Bayang-Bayang Materialisme
- Get link
- X
- Other Apps
Dari Topping Seblak Jadi Bahan Baku Sepatu Mewah: Jejak Inovasi Anak Bangsa Lewat Sepatu Kulit Ceker Ayam
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment