Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Menu Takdir


 Warung makan Mas Joko bau lemak kambing dan asap kretek murah. Di luar, hujan mengguyur Kampung Ketapang hingga selokan meluap, mengapungkan bangkai tikus dan plastik bekas.

Di meja kayu yang melekat bekas minyak dingin, Margio—lelaki yang tiga hari lalu menjual dua ratus meter tanah warisan ibunya demi judi sabung ayam—duduk melipat tangan. Wajahnya klimis oleh peluh, tapi matanya memancarkan kesalehan yang membuat perutku mual.

"Tuhan punya cara yang lebih besar dari akal kita, Suri," katanya. Suaranya diatur sedemikian rupa, menyerupai ketenangan penceramah di televisi. "Tanah itu memang bukan milik kita lagi, tapi mungkin itu cara-Nya menyucikan rezeki kita."

Aku menatap piring di hadapanku: nasi uduk yang mulai mengeras dan separuh kepala lele dengan mata putih mendelik. Di kampung ini, orang-orang melarat punya bakat luar biasa: mereka selalu bisa menemukan alasan ilahi untuk setiap ketololan yang mereka perbuat sendiri. Bagi Margio, semua kemalangan adalah ujian, dan semua kebodohan adalah bagian dari rencana agung.

"Kamu selalu punya teori," kataku, memutar-mutar sendok seng yang bengkok. "Seolah kamu ini juru bicara langit."

"Ini bukan soal teori. Ini soal iman." Margio tersenyum—jenis senyum yang biasa dipakai pedagang obat palsu di pasar kaget. "Orang yang hilang iman itu orang yang paling rugi."

Aku tertawa. Tawa yang terdengar bagai gesekan amplas di kayu kering. Bagi Margio, iman hanyalah candu untuk menutupi fakta bahwa ia seorang penakut. Sejak tanah itu melayang, aku berhenti percaya pada keadilan, apalagi keajaiban.

"Aku bahkan sudah kehilangan percaya pada diriku sendiri, apalagi padamu," bisikku, menembus deru hujan yang menghantam atap seng.

Margio mengusap wajahnya, berpura-pura sabar. Di matanya, aku adalah istri yang durhaka—perempuan yang terlalu banyak berpikir hingga menjauhkan berkah. Inilah jurang di antara kami: ia percaya bahwa kepasrahan adalah puncak kesucian, sementara aku tahu itu hanyalah wujud paling telanjang dari kemalasan.

"Lalu kamu mau kita bagaimana? Mati kelaparan?" suaranya mulai meninggi. "Aku ini berusaha!"

"Berusaha?" Aku menunjuk dadanya dengan ujung sendok. "Dan kau hanya bisa memesan seporsi takdir yang baik, semoga Tuhan layak mengabulkannya."

Ia terdiam. Tangannya mengambang di udara, antara ingin mengetuk meja atau menampar wajahku, tetapi batal. Kalimat itu menghantam titik paling rapuh dari imajinasinya: bayangan bahwa Tuhan adalah pemilik warung makan serba ada, dan doa-doanya adalah lembar pesanan yang wajib dilayani.

"Tuhan tidak pernah menolak doa orang sabar," gumamnya pelan, mencoba merebut kembali kendali. "Kau saja yang terlalu lancang, mengukur Tuhan dengan otakmu yang sempit."

"Aku tidak sedang mengukur Tuhan, Margio," jawabku dingin, menatap lurus ke dalam matanya yang mulai digerogoti cemas. "Aku hanya sedang mengukurmu. Dan kamu terlalu ringan untuk dianggap sebagai seorang manusia."

Lelaki itu melengos, melempar pandang ke jalan raya yang temaram. Di luar, seorang pemabuk tersungkur di kubangan air bah, tetapi tak ada satu pun pengunjung warung yang peduli. Di tempat ini, hidup memang murah, dan kebohongan tentang nasib adalah satu-satunya barang mewah yang sanggup kami beli.

Comments