Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Mencintai Manusia Baru





Catatan Kecil untuk Seorang Filsuf

Bolehkah aku mencintaimu kembali? Namun bukan dengan cara yang lama, melainkan dengan rasa baru yang jauh berbeda.

Kau tentu tahu mengapa dulu aku menolakmu begitu keras. Aku hanya terlampau takut kehilangan diriku sendiri dan seluruh ikhtiar yang kubangun kembali, puing-puing mimpi yang kususun ulang dengan berdarah-darah setelah tsunami itu meratakan segalanya. Di saat yang sama, aku tak ingin melukai jalan luhur yang sedang kau tempuh. Aku tak mau jatuh cinta pada bayangan ideal di kepalaku, alih-alih mencintai dirimu yang utuh di alam nyata.

Aku hadir sebagai manusia baru di ruangmu, sedang kau telah memeluk caramu sendiri selama tiga dekade. Rasanya mustahil aku bisa mengubahmu, kecuali atas kemauanmu sendiri. Betapa naifnya jika aku mencoba mengendalikan hidupmu, atau memanfaatkan kerapuhanmu atas nama kasih sayang. Sungguh, itu bukan perlakuan yang beradab. Jika sampai aku melakukannya, betapa malunya aku pada ilmu dan gelar yang kusemat.

Lalu, bagaimana kabarmu di sana? Sudahkah kau tumbuh lebih bijaksana? Atau kini kau telah menjelma seorang filsuf yang selalu lapang mendengarkan tiap riuh ocehanku, sebuah pencapaian baru dari ketulusanmu?

Ajaibnya, kau tak kunjung jera mengajak bocah ini mengarungi pernikahan. Beribu kali kutolak, sebanyak itu pula kau bertahan. Dan di sini kau masih berdiri, menungguku.

Namun terlepas dari seluruh keteguhanmu, satu pertanyaanku: bagaimana jika takdir berkehendak lain dan kita ternyata bukan jodoh?

Comments