Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Kwetiau Goreng




Malam Minggu itu sedang dingin-dinginnya, dan Naya sedang mengumpulkan alasan untuk tidak bangun besok pagi. Dunia baginya sudah serupa adonan kue yang gagal: bantat, tawar, dan kelewat kenyang akan rasa bersalah.

Ponsel di samping bantalnya bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Arka.

“Mau kwetiau goreng dado buat sahur?” tulis pria itu.

Naya menatap pesan itu tanpa gairah. Baginya, kwetiau goreng pada pukul delapan malam adalah bentuk optimisme yang berlebihan. Orang yang memikirkan sahur delapan jam lebih awal adalah orang yang percaya masa depan masih menyediakan tempat duduk untuk mereka. Naya tidak berada di rombongan itu.

“Gak perlu Ka, makasih,” jawabnya.

“Beneran?”

“Iyaa gak perlu, belum tentu besok masih hidup.”

Kalimat terakhir itu dilemparkan Naya seperti melemparkan bangkai tikus ke tengah ruang tamu. Ia ingin Arka terperanjat, atau setidaknya terdiam dan meninggalkannya sendirian bersama rasa letih yang menjalar sampai ke sumsum tulang.

Namun, Arka bukanlah tipe pria yang gampang terkejut oleh berita kematian yang direncanakan di atas kasur. Jawaban Arka datang secepat hembusan napas.

“Bagaimana jika besok masih hidup dan membawa dampak perubahan besar bagi orang-orang yang membutuhkan?”

Naya tertawa. Tawa yang getir dan sumbang, seperti bunyi seng kena angin. Perubahan besar? Ia bahkan tidak yakin bisa mengubah posisi tidurnya tanpa merasa seluruh tubuhnya remuk.

Jemarinya kembali menari di atas layar, menyusun argumentasi kelam tentang takdir dan ketiadaan.

“Bagaimana jika besok malaikat telah dijadwalkan,” ketiknya. “Karena Tuhan setidaknya ingin membuat hamba-Nya berhenti berdosa... dan hidup tak berguna.”

Di dalam kepala Naya, malaikat pencabut nyawa adalah seorang birokrat yang sangat taat jadwal. Sang Malaikat membawa map bergaris, mengenakan pakaian dinas, dan mencoret nama-nama manusia yang sudah terlalu banyak menghabiskan oksigen tanpa guna. Naya merasa namanya sudah berada di urutan teratas daftar coret itu.

Ia menunggu Arka menyerah. Biasanya, orang-orang akan panik, menasihati panjang lebar dengan ayat-ayat, atau melarikan diri karena takut tertular kemalangan.

Tetapi Arka justru meminjam logika absurd itu dan memutarnya balik.

“Dan ternyata malaikat salah jadwal,” balasan Arka menembus layar ponselnya, “karena Tuhan masih memberikan hamba-Nya untuk bertobat sebelum benar-benar kembali kepada-Nya dalam keadaan suci?”

Kalimat itu hinggap di dada Naya seperti seekor burung gereja yang tiba-tiba masuk lewat jendela kamar. Malaikat yang salah jadwal? Logika itu terasa begitu gila sekaligus masuk akal. Arka tidak membantah adanya malaikat, ia hanya menuduh malaikat itu mungkin salah naik kereta atau keliru melihat jam tangan. Dan di balik kesalahan jadwal yang konyol itu, ada Tuhan yang sedang tersenyum ganjil, menunda kematian hanya agar seorang hamba sempat mencuci kakinya sebelum tidur.

Naya terdiam cukup lama. Benteng keputusasaan yang dibangunnya seharian runtuh oleh sebuah humor sufi yang ganjil.

“Tulis aja cerpen sekalian,” tulis Naya akhirnya, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang terlanjur luluh. 

“Ayo ditulis jadi cerpen biar publish dan dibaca banyak orang,” timpal Arka tanpa ragu.

Naya menggelengkan kepala, lalu sebuah senyum yang sudah seminggu absen dari wajahnya mendadak muncul begitu saja.

“Aih Anda...” ketiknya. “Arka yang tulis yaa, saya nanti bantu edit.”

Malam itu, malaikat pencabut nyawa mungkin memang benar-benar salah jadwal. Atau mungkin, sang malaikat sedang duduk di warung kwetiau goreng yang sama dengan Arka, memesan porsi ekstra, dan memutuskan untuk menunda pekerjaannya sampai cerita pendek ini selesai ditulis.

Comments