Skip to main content

Featured

Mendoan Dingin dan Pecahan Cermin

Pesan itu masuk tepat di langkah ke-tujuh ribu dalam rutinitasku hari ini. Layar ponselku menyala, menampilkan deretan kalimat yang disusun dengan kehati-hatian seorang perakit bom, mencoba menjinakkan ledakan amarah yang sudah telanjur menghanguskan ruang tunggu. "Pecahan cermin itu telanjur berserakan di telapak tanganku, dan kucoba menyatukannya kembali, berharap ia pulih tanpa bekas. Senyum yang kemarin kutebar hanyalah kelambu rapuh yang menyembunyikan laku khilafku sendiri. Ah, penyesalan memang selalu terlambat menjejakkan kaki di garis start. Namun, kuteguk teguranmu yang pahit ini sebagai obat untuk menumbuhkan dan merawat kembali ladang kepercayaan yang sempat kusebari duri. Berilah maafmu untukku." Aku membacanya dua kali. Di bawah langit sore yang mulai kehilangan warnanya, kata-kata itu terdengar puitis, nyaris seindah kutipan novel-novel melankolis. Tapi sayangnya, aku tidak sedang berhadapan dengan tokoh fiksi yang butuh simpati pembaca. Aku berhadapan dengan s...

Harga Sebuah Pertemuan


Ada harga yang harus dibayar lunas untuk setiap pertemuan, dan sayangnya, kau selalu bertingkah seolah waktu adalah barang obralan yang bisa kau tawar di pasar malam.

Dua belas kali. Aku menghitungnya dengan presisi seorang algojo yang tengah mengasah kapak. Dua belas kali kau melanggar batas, datang dengan wajah tanpa dosa, sangat terlambat, dan yang paling bajingan dari semuanya: tanpa secarik kabar pun. Menyebalkan tentu saja, memuakkan lebih tepatnya. Tapi di titik ini, kekesalanku sudah mengendap menjadi semacam keyakinan absolut bahwa Keterlambatan adalah nama tengahmu yang sah. Jika akta kelahiranmu berkata lain, maka birokrasi negara telah melakukan kesalahan cetak.

Kau pikir menunggu adalah sekadar duduk memandangi lalu lalang orang dan cangkir yang mendingin? Tidak. Menunggu, terutama untuk manusia sepertimu, adalah perampokan terang-terangan terhadap sisa umurku. Karena dari waktu itulah aku hidup. Dari menit-menit dan jam yang kau lemparkan ke tempat sampah itu, seharusnya ada banyak karya yang lahir. Seharusnya ada halaman-halaman yang selesai kutulis, pertemuan-pertemuan lain yang jauh lebih hangat dan manusiawi, serta ketenangan yang utuh.


Kau merenggut itu semua. Kau membunuh kemungkinan-kemungkinan itu hanya dengan satu dosa yang paling banal: absennya sebuah pesan singkat.

Maka ini putusannya, dan kau tak punya hak untuk naik banding. Kau tidak diizinkan menemuiku selama tiga puluh hari ke depan. Anggap saja ini semacam retribusi, bayaran atas nyawaku—waktuku—yang sudah kau sia-siakan tanpa rasa bersalah.

Selamat berpisah. Bawa serta tabiat burukmu itu jauh-jauh, dan mulailah berlatih. Berlatihlah memeluk sepi dan menanggung konsekuensi yang jauh lebih panjang dari sekadar tiga puluh hari. Karena setelah satu bulan ini habis, percayalah, ia akan beranak pinak menjadi dua bulan, membusuk menjadi tiga bulan, dan seterusnya.

Hingga kau akhirnya terbiasa menelan ketidakhadiranku, untuk selamanya.

Comments