Search This Blog
Sebuah catatan tentang hidup yang patut diperjuangkan dan dirayakan oleh makhluk bernama "anak perempuan pertama"
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Harga Sebuah Pertemuan
Dua belas kali. Aku menghitungnya dengan presisi seorang algojo yang tengah mengasah kapak. Dua belas kali kau melanggar batas, datang dengan wajah tanpa dosa, sangat terlambat, dan yang paling bajingan dari semuanya: tanpa secarik kabar pun. Menyebalkan tentu saja, memuakkan lebih tepatnya. Tapi di titik ini, kekesalanku sudah mengendap menjadi semacam keyakinan absolut bahwa Keterlambatan adalah nama tengahmu yang sah. Jika akta kelahiranmu berkata lain, maka birokrasi negara telah melakukan kesalahan cetak.
Kau pikir menunggu adalah sekadar duduk memandangi lalu lalang orang dan cangkir yang mendingin? Tidak. Menunggu, terutama untuk manusia sepertimu, adalah perampokan terang-terangan terhadap sisa umurku. Karena dari waktu itulah aku hidup. Dari menit-menit dan jam yang kau lemparkan ke tempat sampah itu, seharusnya ada banyak karya yang lahir. Seharusnya ada halaman-halaman yang selesai kutulis, pertemuan-pertemuan lain yang jauh lebih hangat dan manusiawi, serta ketenangan yang utuh.
Maka ini putusannya, dan kau tak punya hak untuk naik banding. Kau tidak diizinkan menemuiku selama tiga puluh hari ke depan. Anggap saja ini semacam retribusi, bayaran atas nyawaku—waktuku—yang sudah kau sia-siakan tanpa rasa bersalah.
Selamat berpisah. Bawa serta tabiat burukmu itu jauh-jauh, dan mulailah berlatih. Berlatihlah memeluk sepi dan menanggung konsekuensi yang jauh lebih panjang dari sekadar tiga puluh hari. Karena setelah satu bulan ini habis, percayalah, ia akan beranak pinak menjadi dua bulan, membusuk menjadi tiga bulan, dan seterusnya.
- Get link
- X
- Other Apps
Popular Posts
Dari Topping Seblak Jadi Bahan Baku Sepatu Mewah: Jejak Inovasi Anak Bangsa Lewat Sepatu Kulit Ceker Ayam
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment