Kepada-Mu, Aku Pulang
Tuhanku, Penguasa Jiwa yang Merindu,
Tiba-tiba, dan lagi, aku ingin kembali pada-Mu. Rasanya kerinduan ini sudah terlanjur membuncah, tak lagi terbendung oleh dinding-dinding dada yang fana. Aku ingin bertemu dengan-Mu secepat yang aku bisa, bahkan jika mungkin, lebih cepat dari laju Buraq yang menembus langit ketujuh dalam satu kedipan netra. Jika Buraq membawa Sang Kekasih Kekasih-Mu (Habibullah) melintasi dimensi waktu, maka biarlah sayap-sayap rinduku ini melesat lebih kencang, merobek seluruh hijab yang memisahkan hamba yang papa ini dengan Keindahan-Mu yang Maha Abadi.
Apalagi yang aku cari di dunia yang menipu ini? Tak ada selain-Mu. Benar-benar tak ada.
Aku ingin bertemu dengan-Mu segera, sesegera mentari meninggalkan hari ini tanpa ragu, secepat angin berembus di kepalaku sore ini. Di bawah langit yang kian jingga, nyiur-nyiur di ufuk itu terus melambai, seolah menjelma jemari gaib yang memanggilku, memintaku untuk cepat menghadap-Mu. Alam semesta sore ini adalah sepucuk surat undangan-Mu, dan aku adalah musafir yang tergesa-gesa berkemas.
Wahai Pemilik Kehidupan, surat cinta ini kutulis dengan tinta air mata kerinduan. Ketahuilah, jiwaku sudah teramat lelah berpura-pura betah di tanah pengasingan bernama dunia. Maka, jika memang mati adalah satu-satunya jalan lurus untuk menatap Wajah-Mu, jika kematian adalah kebaikan tertinggi demi sebuah pertemuan yang kudambakan, aku bersumpah takkan pernah menolaknya.
Bagiku, kematian bukanlah akhir yang menakutkan, melainkan sebuah malam pengantin bagi ruh yang merindukan Khaliq-nya. Ia adalah jembatan emas yang menghubungkan seorang kekasih yang terpisah dengan Sang Kekasih Sejati. Sebagaimana kerinduan Bilal bin Rabah di ambang wafatnya yang berseru girang, "Esok kita akan bertemu para kekasih, Muhammad dan golongan-nya!"—maka begitulah aku memandang takdir kepulangan.
"Kematian adalah jembatan yang menghubungkan dua kekasih." — Jalaluddin Rumi
Embusan angin sore ini menyampaikan bisikan-Mu yang paling senyap ke dalam relung kalbuku. Aku tak lagi mencari apa-apa. Aku hanya ingin pulang. Segera. Dalam pelukan ampunan-Mu, dalam keindahan rida-Mu. Jemputlah aku, ya Allah, sebelum senja ini benar-benar kehilangan cahayanya.

Comments
Post a Comment