Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku
"Pernahkah kau jatuh cinta?"
Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan.
Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak.
Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagian dari lembar-lembar hidupku. Ia telah selesai.
"Ada saat-saat dalam hidup ketika kita harus memilih antara menyerah pada kehampaan, atau mencari jalan lain untuk tetap menyala."
Kini, aku menyadari bahwa di bawah langit yang mahaluas ini, ada hal-hal yang jauh lebih layak untuk diperjuangkan. Aku memilih mengalihkan pandanganku dari rapuhnya rasa, lalu melabuhkan seluruh energiku pada dunia pembelajaran, meniti karier dengan tegak, membangun bisnis dengan peluh yang jujur, dan melesat berpetualang menembus batas-batas ketidaktahuan.
Lebih dari itu, aku menemukan diriku kembali hidup dalam kreasi seni alam. Menyentuh bumi, meramu kebaikan-kebaikan yang disediakan oleh semesta, dan merajut keindahan alami menjadi sesuatu yang nyata, itulah seni yang sesungguhnya. Di sanalah jiwaku bernapas. Melalui gemerisik dedaunan, wewangian tanah yang basah, dan harmoni alam yang tak pernah ingkar janji, aku menemukan detak jantungku kembali berirama. Bagaimana pun jalannya hidup ini ke depan, rasanya cinta romantis memang bukan bagian dari diriku lagi.
Namun, di sela-sela desau angin sore yang menenangkan ini, bisikan hati yang paling dalam kerap kali menyelinap. Mungkin... kelak akan ada masanya aku kembali jatuh hati, tetapi bukan dengan caraku yang ringkih, melainkan dengan cara-Nya yang Maha Bijak.
Jika hari itu benar-benar tiba, setangkup doa kupanjatkan ke langit tinggi: semoga aku tak kembali tersesat lalu kehilangan arah. Semoga, jika takdir-Nya kelak memberiku kesempatan untuk kembali membangun istana cinta, rasa itu tak akan membuatku kehilangan cita-cita, fokus, ataupun nyala hidup yang telah susah payah kukumpulkan. Aku berharap, cinta yang baru itu justru menjelma menjadi pupuk yang membuat jiwaku merekah, melahirkan kelipatan kebaikan serta kebermanfaatan bagi semesta, tanpa pernah membuatku kehilangan diri sendiri lagi.

Comments
Post a Comment