Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Rindu tanpa Temu


 

Mengingat seseorang yang tidak pernah kita jumpai, tentu adalah sebuah kemustahilan. Seperti melupakan seseorang yang paling kita kenal dan paling kita cintai. Ini sedikit mungkin. 


Tapi tentu, jika yang kita cintai, yang kita rindukan, hidup ratusan tahun, sebelum kita ada. Hanya sejarah dan monumen perjuangannya yang bisa kita nikmati. Untuk mengobati rindu dan tentu tanpa pernah temu.


Memang benar, tak ada obat lain yang paling manjur dari rindu kecuali temu. Terlebih pada seseorang yang dicintai seluruh alam. Ia, yang hadirnya mampu mengukir senyum di setiap wajah yang menatapnya. Meneguhkan segala keraguan dari fakirnya pikiran. Menuai rindu dan kesedihan luar biasa saat kepergiannya. 


Tentu, jika bukan ia yang dicintai mana mungkin lautan air mata, membasahi padang pasir nan gersang. Dan di kelahirannya bulan menerangi memberikan isyarat bahwa manusia pilihan terakhir siap memberikan pencerahan bagi seluruh alam. Menghapus duka, penindasan dan ketidakadilan atas nama tuhan lain. 


Sekali lagi, aku hanya ingin menegaskan bahwa perjumpaan denganmu adalah apa yang ku usahakan hari ini. Semoga cinta cita mu bisa aku teladani hingga sampai pada perjumpaan abadi. 


Aku cinta padamu nabi Muhammad

Selamat Maulid Nabi, 1442 H

Semoga rindu berbalas temu


Comments

Post a Comment