Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

Tenun

 



Ternyata, dalam urusan melapangkan dada, aku masihlah seorang amatir yang tertatih. Aku sering mengira bahwa waktu adalah tabib yang paling cakap, namun nyatanya, ia hanyalah penyimpan rahasia yang ulung. Di sudut hati yang paling gelap, aku masih menyimpan jelaga; sebuah amuk yang belum usai terhadap mereka yang berada di lingkaran terdekat, namun justru menjadi orang pertama yang merobek kepercayaan.

Bagaimana bisa, seseorang yang mengaku mengenalku, justru meragukan integritas dan kejujuran yang kupikul dengan saksama? Kalimat-kalimat tajam itu tidak menguap. Ia bersarang, membiak, dan sesekali menguat—menjadi duri yang setiap detiknya hampir saja memenangkan amarahku.

Lalu, pantulannya jatuh kepadamu.

Aku tahu, kekakuan bahasaku, jarak yang tiba-tiba membentang, dan kerenggangan yang tercipta secara alami ini adalah luka yang ikut kau tanggung. Aku percaya kau paham betapa sesaknya menjadi aku. Namun, ada satu titik di mana pemahamanmu tak mampu menjangkau mereka. Kau tak pernah benar-benar bisa membuat mereka mengerti, atau setidaknya, membuatku merasa aman atas segala laku hidup yang seharusnya dinilai normal oleh manusia lainnya.

Aku mulai bertanya-tanya pada sunyi: karma apa yang sedang kutanggung?

Tak pernah rasanya jemariku menenun kejahatan dengan dosa semenyiksa ini. Mengapa tidurku direnggut? Mengapa ketenangan seperti kabut yang hilang ditelan fajar? Apakah ini hukuman atas kesalahan yang tak kukenali, ataukah benar tuduhan mereka—bahwa aku adalah seorang ahli pendosa yang pandai bersandiwara?

Mungkin, memaafkan memang bukan tentang mereka yang bersalah. Memaafkan adalah tentang aku yang harus belajar berhenti meminum racun dan berharap orang lain yang mati. Tapi untuk saat ini, biarlah aku mengakui kekalahanku sebagai amatir. Sebab di antara puing-puing kejujuranku yang diragukan, aku masih mencoba mencari jalan pulang menuju diriku yang dulu; yang tenang, yang penuh, dan yang tidak perlu menjelaskan apa pun pada dunia yang tuli.


Comments