Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Tenun

 



Ternyata, dalam urusan melapangkan dada, aku masihlah seorang amatir yang tertatih. Aku sering mengira bahwa waktu adalah tabib yang paling cakap, namun nyatanya, ia hanyalah penyimpan rahasia yang ulung. Di sudut hati yang paling gelap, aku masih menyimpan jelaga; sebuah amuk yang belum usai terhadap mereka yang berada di lingkaran terdekat, namun justru menjadi orang pertama yang merobek kepercayaan.

Bagaimana bisa, seseorang yang mengaku mengenalku, justru meragukan integritas dan kejujuran yang kupikul dengan saksama? Kalimat-kalimat tajam itu tidak menguap. Ia bersarang, membiak, dan sesekali menguat—menjadi duri yang setiap detiknya hampir saja memenangkan amarahku.

Lalu, pantulannya jatuh kepadamu.

Aku tahu, kekakuan bahasaku, jarak yang tiba-tiba membentang, dan kerenggangan yang tercipta secara alami ini adalah luka yang ikut kau tanggung. Aku percaya kau paham betapa sesaknya menjadi aku. Namun, ada satu titik di mana pemahamanmu tak mampu menjangkau mereka. Kau tak pernah benar-benar bisa membuat mereka mengerti, atau setidaknya, membuatku merasa aman atas segala laku hidup yang seharusnya dinilai normal oleh manusia lainnya.

Aku mulai bertanya-tanya pada sunyi: karma apa yang sedang kutanggung?

Tak pernah rasanya jemariku menenun kejahatan dengan dosa semenyiksa ini. Mengapa tidurku direnggut? Mengapa ketenangan seperti kabut yang hilang ditelan fajar? Apakah ini hukuman atas kesalahan yang tak kukenali, ataukah benar tuduhan mereka—bahwa aku adalah seorang ahli pendosa yang pandai bersandiwara?

Mungkin, memaafkan memang bukan tentang mereka yang bersalah. Memaafkan adalah tentang aku yang harus belajar berhenti meminum racun dan berharap orang lain yang mati. Tapi untuk saat ini, biarlah aku mengakui kekalahanku sebagai amatir. Sebab di antara puing-puing kejujuranku yang diragukan, aku masih mencoba mencari jalan pulang menuju diriku yang dulu; yang tenang, yang penuh, dan yang tidak perlu menjelaskan apa pun pada dunia yang tuli.


Comments