Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Tenun

 



Ternyata, dalam urusan melapangkan dada, aku masihlah seorang amatir yang tertatih. Aku sering mengira bahwa waktu adalah tabib yang paling cakap, namun nyatanya, ia hanyalah penyimpan rahasia yang ulung. Di sudut hati yang paling gelap, aku masih menyimpan jelaga; sebuah amuk yang belum usai terhadap mereka yang berada di lingkaran terdekat, namun justru menjadi orang pertama yang merobek kepercayaan.

Bagaimana bisa, seseorang yang mengaku mengenalku, justru meragukan integritas dan kejujuran yang kupikul dengan saksama? Kalimat-kalimat tajam itu tidak menguap. Ia bersarang, membiak, dan sesekali menguat—menjadi duri yang setiap detiknya hampir saja memenangkan amarahku.

Lalu, pantulannya jatuh kepadamu.

Aku tahu, kekakuan bahasaku, jarak yang tiba-tiba membentang, dan kerenggangan yang tercipta secara alami ini adalah luka yang ikut kau tanggung. Aku percaya kau paham betapa sesaknya menjadi aku. Namun, ada satu titik di mana pemahamanmu tak mampu menjangkau mereka. Kau tak pernah benar-benar bisa membuat mereka mengerti, atau setidaknya, membuatku merasa aman atas segala laku hidup yang seharusnya dinilai normal oleh manusia lainnya.

Aku mulai bertanya-tanya pada sunyi: karma apa yang sedang kutanggung?

Tak pernah rasanya jemariku menenun kejahatan dengan dosa semenyiksa ini. Mengapa tidurku direnggut? Mengapa ketenangan seperti kabut yang hilang ditelan fajar? Apakah ini hukuman atas kesalahan yang tak kukenali, ataukah benar tuduhan mereka—bahwa aku adalah seorang ahli pendosa yang pandai bersandiwara?

Mungkin, memaafkan memang bukan tentang mereka yang bersalah. Memaafkan adalah tentang aku yang harus belajar berhenti meminum racun dan berharap orang lain yang mati. Tapi untuk saat ini, biarlah aku mengakui kekalahanku sebagai amatir. Sebab di antara puing-puing kejujuranku yang diragukan, aku masih mencoba mencari jalan pulang menuju diriku yang dulu; yang tenang, yang penuh, dan yang tidak perlu menjelaskan apa pun pada dunia yang tuli.


Comments