Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Symphony Lapar dan Perjamuan yang Tak Pernah Tiba




Hari itu dimulai dengan sebuah janji yang kubuat sendiri. Sejak fajar menyingsing, sengaja kibiarkan lambungku meruang sunyi. Aku sengaja mengabaikan aroma kopi dan roti yang biasanya menjadi pembuka hari. Tak ada sarapan, tak ada makan siang. Aku ingin menyambut perjamuan itu dengan kehampaan yang sempurna; sebuah pengosongan diri demi semangkuk papeda bening yang kenyal dan siraman ikan kuah kuning yang kaya rempah. Sebuah ambisi kuliner yang sudah terpatri di kepala, menjadi bahan bakar satu-satunya untuk bertahan hingga petang.

Namun, dunia punya selera humor yang getir.

Dengan kaki yang mulai goyah oleh energi yang menipis, aku menempuh jarak tiga kilometer. Jarak yang dalam kondisi normal mungkin terasa ringan, namun bagi raga yang tak terisi sejak pagi, setiap meternya adalah ujian ketahanan. Berbekal petunjuk dari sebuah cabang rumah makan yang menjanjikan kepastian, aku melangkah menuju pusatnya. Di kepalaku, uap hangat dari kuah kuning itu sudah menari-nari.

Setibanya di sana, kenyataan menghantam lebih keras dari rasa lapar itu sendiri. "Papedanya belum ada," ucap suara di balik meja itu dengan datar.

Duniaku seolah runtuh dalam sunyi. Kecewa itu tidak datang dalam bentuk ledakan, melainkan rasa sesak yang perlahan mencekik. Aku berdiri mematung untuk waktu yang terasa abadi, menatap ruang kosong di meja makan. Bagaimana mungkin sebuah pengorbanan sejak pagi berakhir pada ketiadaan? Rasa kesal itu kemudian bermetamorfosis menjadi hangry (hungry and angry), sebuah amarah yang dipicu oleh perut yang melilit dan ekspektasi yang dikhianati.

Dalam kekisruhan batin yang luar biasa, langkahku terseret menuju sebuah mesjid. Aku butuh jeda. Aku butuh tempat untuk meletakkan beban emosi ini di hadapan Sang Pemilik Semesta. Di bawah naungan atap masjid yang tenang, aku bersujud. Menunggu hujan yang mulai turun membasahi bumi Bandung, sekaligus berharap rintiknya bisa memadamkan api di dalam dada. Namun, meski dahi sudah menyentuh sajadah, riuh di kepala tak kunjung reda. Kegusaran itu masih ikut terbawa dalam tiap hembusan napas, seperti kabut yang enggan beranjak. Lapar fisikku rupanya telah merembet menjadi lapar spiritual akan sebuah ketenangan yang tak kunjung kudapatkan.

Setelah langit sedikit melunak, aku memulai lagi pencarian yang melelahkan. Sebelum hidangan utama, aku sempat singgah mencicipi es krim yang konon tersohor. Lidahku mengecap manis yang dingin, sebuah hiburan kecil bagi jiwa yang lelah. Namun, lagi-lagi semesta seolah sedang kikir. Saat aku ingin menambah porsi, ingin menggandakan sedikit kebahagiaan itu untuk menambal lubang di hati, mereka menolak. "Hanya boleh satu skup," kata mereka dengan aturan yang terasa tidak masuk akal. Di saat aku siap membayar lebih untuk sebuah pelipur lara, dunia justru memberi batasan. Gila, pikirku. Bahkan untuk membeli kebahagiaan tambahan pun, jalannya buntu.

Lalu, pelarianku berlanjut ke sebuah kedai ramen favorit saat hujan kembali menderu. Kupesan porsi terbesar, sebuah bentuk balas dendam atas sarapan dan makan siang yang hilang secara cuma-cuma. Aku yakin sanggup melahap segalanya. Namun, ironi kembali menyapa. Ternyata, hati yang telanjur keruh sanggup mengunci nafsu makan dengan rapat. Baru beberapa suap, perutku terasa penuh, bukan oleh mi, melainkan oleh emosi yang menyesak. Ramen itu tetap bersisa banyak, mengejek ambisiku yang kalah oleh suasana hati yang kacau.

Hingga akhirnya, sisa-sisa energi membawaku ke sebuah beranda belanja di tengah kota. Di sana, segelas jus segar menjadi pertemuan terakhirku dengan rasa haus hari itu. Di sudut tempat itu, aku akhirnya duduk bersisian dengan Bapak.

Kami mengobrol. Bukan diskusi berat tentang filosofi hidup, melainkan hanya obrolan basa-basi yang ringan, tentang hari yang panjang dan hal-hal remeh lainnya. Ajaibnya, di sela-sela kalimat Bapak yang tenang, tensi yang sejak pagi menegang di nadiku perlahan meluruh. Amarah yang tadinya setajam sembilu, kini melunak menjadi rasa haru yang halus. Kesal itu sirna, digantikan oleh rasa lega yang hangat.

Ternyata, perjalanan panjang dan perut yang kosong sejak pagi itu bukan sedang mencari papeda. Aku sedang mencari telinga yang mau mendengar dan hati yang mau mengerti. Kekosongan itu tidak diisi oleh ikan kuah kuning, melainkan oleh kehadiran sosok yang menenangkan.

Malam kian larut, lampu-lampu mall mulai meredup satu per satu. Aku menyudahi petualangan hari ini dengan memesan Grab. Duduk bersisian dengan Bapak di kursi belakang, aku memandangi jalanan Bandung yang basah. Aku pulang dengan perut yang mungkin tidak sekenyang bayanganku tadi pagi, tapi dengan hati yang jauh lebih lapang.


Comments