Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Satu Skup Keyakinan di Meja Perjamuan


Kau tertawa. Tawamu pecah seperti gelas kaca yang jatuh ke lantai batu nyaring, tajam, dan penuh nada sanggahan. Di matamu, rencana ini hanyalah sebuah anekdot yang lucu, sebuah lelucon yang kau pikir takkan pernah benar-benar kutunaikan. Kau menudingku sedang bermimpi di siang bolong, menganggap keputusanku untuk bersandar pada bahu seorang lelaki yang kau sebut “bare minimum” sebagai sebuah kegilaan yang prematur.

“Perbedaan paham itu merepotkan,” katamu, sembari menyusun argumen tentang visi dan misi yang menurutmu harus setinggi langit.

Namun, biarkan aku bicara tentang apa yang kulihat dari balik jendela mataku sendiri.

Bagimu, dia mungkin hanya sebuah latar belakang yang kabur. Bagiku? Dia adalah sebuah ketenangan yang nyata. Dia baik, dia taat, dan dia bertanggung jawab. Tiga pilar yang kau anggap "biasa saja" itu, bagiku adalah kemewahan yang langka di dunia yang sudah kehilangan kewarasannya. Kau menuntut sebuah ledakan visi, sementara aku hanya butuh seseorang yang tahu cara pulang dan cara menjaga janji.

Lalu, apa lagi yang aku cari?

Soal mimpi-mimpi yang kau khawatirkan akan layu, aku telah membangun pagarnya sendiri. Sebelum langkah ini benar-benar melintasi ambang pintu, aku pastikan mimpiku berdiri tegak di tempat yang aman. Aku tidak sedang menyerahkan kuncinya; aku hanya sedang mengajak seorang kawan untuk menjaga gerbangnya bersamaku. Tentang visi dan misi yang kau gugat itu? Aku akan menyisipinya perlahan, seperti air yang sabar menembus pori-pori batu. Aku percaya pada kebaikannya, dan kebaikan adalah tanah yang subur untuk menanam apa saja.

Aku sudah terlalu sering menyaksikan manusia-manusia yang merasa "si paling paham agama" mereka yang lidahnya fasih mengutip kalam langit, namun langkah kakinya menginjak-injak rasa manusiawi. Mereka mungkin punya pemahaman yang rumit, tapi mereka kehilangan sentuhan paling mendasar dari seorang hamba.

Sedangkan dia? Dia cukup baik untuk disebut manusia. Bagiku, Islam yang ia jalani dengan sederhana sudah lebih dari cukup untuk menjadi muara. Jika akar kami sama-sama tertanam pada tauhid yang teguh, maka dahan-dahan perbedaan paham itu hanyalah warna yang mempercantik pohon kami, bukan badai yang akan merobohkannya.

Jadi, berhentilah menyangkal. Berhentilah menganggap keberanianku sebagai sebuah lelucon.

Mungkin di duniamu yang penuh retorika, memilih sesuatu yang sederhana dianggap sebagai sebuah kekalahan. Tapi di duniaku, menemukan seseorang yang tulus menjalankan peran manusianya adalah sebuah kemenangan besar. Aku tidak butuh pahlawan dengan jubah visi yang berkibar; aku hanya butuh teman seperjalanan yang takkan membiarkanku berjalan sendirian di bawah hujan.

Jika ini kau sebut gila, maka biarlah aku menjadi gila dengan penuh kesadaran. Sebab di akhir hari, yang kita butuhkan bukanlah pemahaman yang paling rumit, melainkan tanggung jawab yang paling nyata.



Comments