Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Satu Skup Keyakinan di Meja Perjamuan


Kau tertawa. Tawamu pecah seperti gelas kaca yang jatuh ke lantai batu nyaring, tajam, dan penuh nada sanggahan. Di matamu, rencana ini hanyalah sebuah anekdot yang lucu, sebuah lelucon yang kau pikir takkan pernah benar-benar kutunaikan. Kau menudingku sedang bermimpi di siang bolong, menganggap keputusanku untuk bersandar pada bahu seorang lelaki yang kau sebut “bare minimum” sebagai sebuah kegilaan yang prematur.

“Perbedaan paham itu merepotkan,” katamu, sembari menyusun argumen tentang visi dan misi yang menurutmu harus setinggi langit.

Namun, biarkan aku bicara tentang apa yang kulihat dari balik jendela mataku sendiri.

Bagimu, dia mungkin hanya sebuah latar belakang yang kabur. Bagiku? Dia adalah sebuah ketenangan yang nyata. Dia baik, dia taat, dan dia bertanggung jawab. Tiga pilar yang kau anggap "biasa saja" itu, bagiku adalah kemewahan yang langka di dunia yang sudah kehilangan kewarasannya. Kau menuntut sebuah ledakan visi, sementara aku hanya butuh seseorang yang tahu cara pulang dan cara menjaga janji.

Lalu, apa lagi yang aku cari?

Soal mimpi-mimpi yang kau khawatirkan akan layu, aku telah membangun pagarnya sendiri. Sebelum langkah ini benar-benar melintasi ambang pintu, aku pastikan mimpiku berdiri tegak di tempat yang aman. Aku tidak sedang menyerahkan kuncinya; aku hanya sedang mengajak seorang kawan untuk menjaga gerbangnya bersamaku. Tentang visi dan misi yang kau gugat itu? Aku akan menyisipinya perlahan, seperti air yang sabar menembus pori-pori batu. Aku percaya pada kebaikannya, dan kebaikan adalah tanah yang subur untuk menanam apa saja.

Aku sudah terlalu sering menyaksikan manusia-manusia yang merasa "si paling paham agama" mereka yang lidahnya fasih mengutip kalam langit, namun langkah kakinya menginjak-injak rasa manusiawi. Mereka mungkin punya pemahaman yang rumit, tapi mereka kehilangan sentuhan paling mendasar dari seorang hamba.

Sedangkan dia? Dia cukup baik untuk disebut manusia. Bagiku, Islam yang ia jalani dengan sederhana sudah lebih dari cukup untuk menjadi muara. Jika akar kami sama-sama tertanam pada tauhid yang teguh, maka dahan-dahan perbedaan paham itu hanyalah warna yang mempercantik pohon kami, bukan badai yang akan merobohkannya.

Jadi, berhentilah menyangkal. Berhentilah menganggap keberanianku sebagai sebuah lelucon.

Mungkin di duniamu yang penuh retorika, memilih sesuatu yang sederhana dianggap sebagai sebuah kekalahan. Tapi di duniaku, menemukan seseorang yang tulus menjalankan peran manusianya adalah sebuah kemenangan besar. Aku tidak butuh pahlawan dengan jubah visi yang berkibar; aku hanya butuh teman seperjalanan yang takkan membiarkanku berjalan sendirian di bawah hujan.

Jika ini kau sebut gila, maka biarlah aku menjadi gila dengan penuh kesadaran. Sebab di akhir hari, yang kita butuhkan bukanlah pemahaman yang paling rumit, melainkan tanggung jawab yang paling nyata.



Comments