Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

Replika


Sungguh sebuah ironi yang getir; melihatmu begitu tersiksa dalam labirin frustasi hingga kau merasa perlu membedah seluruh isi kepalaku. Kau pelajari setiap jengkal detail yang kusukai, kau susuri rekam jejak tokoh-tokoh yang kupuja, lalu dengan cermat kau pinjam lidah mereka. Kau susun diksi-diksi asing itu hanya demi satu ambisi: agar suaramu terdengar selaras di telingaku, agar setiap argumenmu kuamini tanpa celah, seolah-olah kita telah menyatu dalam frekuensi yang sama.

Namun, di tengah kesibukanmu membangun replika diriku dalam dirimu, kau melupakan satu hakikat yang paling mendasar.

Kau lupa bahwa aku telah memberimu sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kesamaan hobi atau referensi literasi. Aku telah menyerahkan kepadamu sebuah kepercayaan. Sebuah janji setia untuk melangkah keluar dari zona nyamanku, mempelajari hal-hal yang tak pernah kusentuh, bahkan menekuni bidang-bidang yang sebenarnya tak kusukai. Semua itu kulakukan dengan satu niat yang tulus: agar tanggung jawabku padamu tunai, agar aku bisa mendampingimu tanpa menjadi beban bagi sesama.

Kau begitu sibuk menjadi "aku" melalui tokoh-tokoh itu, sampai kau lupa bahwa aku telah menempatkanmu di singgasana yang jauh lebih tinggi dari mereka. Bagiku, suaramu yang asli—bukan kutipan dari para pemikir itu—adalah otoritas yang paling kuyakini. Aku mempercayaimu lebih dari aku mempercayai teori-teori hebat yang sering kukutip.

Betapa sia-sianya segala risetmu tentang seleraku, jika pada akhirnya kau justru mengabaikan bukti nyata dari pengorbananku. Kau mengejar bayang-bayang di masa lalu, sementara kau membiarkan kepercayaan yang hidup di depan matamu mati karena kau tak pernah benar-benar menyadarinya.

Comments