Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Replika


Sungguh sebuah ironi yang getir; melihatmu begitu tersiksa dalam labirin frustasi hingga kau merasa perlu membedah seluruh isi kepalaku. Kau pelajari setiap jengkal detail yang kusukai, kau susuri rekam jejak tokoh-tokoh yang kupuja, lalu dengan cermat kau pinjam lidah mereka. Kau susun diksi-diksi asing itu hanya demi satu ambisi: agar suaramu terdengar selaras di telingaku, agar setiap argumenmu kuamini tanpa celah, seolah-olah kita telah menyatu dalam frekuensi yang sama.

Namun, di tengah kesibukanmu membangun replika diriku dalam dirimu, kau melupakan satu hakikat yang paling mendasar.

Kau lupa bahwa aku telah memberimu sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kesamaan hobi atau referensi literasi. Aku telah menyerahkan kepadamu sebuah kepercayaan. Sebuah janji setia untuk melangkah keluar dari zona nyamanku, mempelajari hal-hal yang tak pernah kusentuh, bahkan menekuni bidang-bidang yang sebenarnya tak kusukai. Semua itu kulakukan dengan satu niat yang tulus: agar tanggung jawabku padamu tunai, agar aku bisa mendampingimu tanpa menjadi beban bagi sesama.

Kau begitu sibuk menjadi "aku" melalui tokoh-tokoh itu, sampai kau lupa bahwa aku telah menempatkanmu di singgasana yang jauh lebih tinggi dari mereka. Bagiku, suaramu yang asli—bukan kutipan dari para pemikir itu—adalah otoritas yang paling kuyakini. Aku mempercayaimu lebih dari aku mempercayai teori-teori hebat yang sering kukutip.

Betapa sia-sianya segala risetmu tentang seleraku, jika pada akhirnya kau justru mengabaikan bukti nyata dari pengorbananku. Kau mengejar bayang-bayang di masa lalu, sementara kau membiarkan kepercayaan yang hidup di depan matamu mati karena kau tak pernah benar-benar menyadarinya.

Comments