Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Replika


Sungguh sebuah ironi yang getir; melihatmu begitu tersiksa dalam labirin frustasi hingga kau merasa perlu membedah seluruh isi kepalaku. Kau pelajari setiap jengkal detail yang kusukai, kau susuri rekam jejak tokoh-tokoh yang kupuja, lalu dengan cermat kau pinjam lidah mereka. Kau susun diksi-diksi asing itu hanya demi satu ambisi: agar suaramu terdengar selaras di telingaku, agar setiap argumenmu kuamini tanpa celah, seolah-olah kita telah menyatu dalam frekuensi yang sama.

Namun, di tengah kesibukanmu membangun replika diriku dalam dirimu, kau melupakan satu hakikat yang paling mendasar.

Kau lupa bahwa aku telah memberimu sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kesamaan hobi atau referensi literasi. Aku telah menyerahkan kepadamu sebuah kepercayaan. Sebuah janji setia untuk melangkah keluar dari zona nyamanku, mempelajari hal-hal yang tak pernah kusentuh, bahkan menekuni bidang-bidang yang sebenarnya tak kusukai. Semua itu kulakukan dengan satu niat yang tulus: agar tanggung jawabku padamu tunai, agar aku bisa mendampingimu tanpa menjadi beban bagi sesama.

Kau begitu sibuk menjadi "aku" melalui tokoh-tokoh itu, sampai kau lupa bahwa aku telah menempatkanmu di singgasana yang jauh lebih tinggi dari mereka. Bagiku, suaramu yang asli—bukan kutipan dari para pemikir itu—adalah otoritas yang paling kuyakini. Aku mempercayaimu lebih dari aku mempercayai teori-teori hebat yang sering kukutip.

Betapa sia-sianya segala risetmu tentang seleraku, jika pada akhirnya kau justru mengabaikan bukti nyata dari pengorbananku. Kau mengejar bayang-bayang di masa lalu, sementara kau membiarkan kepercayaan yang hidup di depan matamu mati karena kau tak pernah benar-benar menyadarinya.

Comments