Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

Purna




Menerima sebuah penolakan seringkali dianggap sebagai beban, namun bagiku, ada sesuatu yang lebih berat daripada kata "tidak": yaitu membiarkan diri terjebak dalam ketidakpastian yang berlarut. Aku cukup yakin bahwa caramu menerima keputusanku adalah sebuah proses yang berat. Penolakan memang bukan pilihan yang mudah untuk diucapkan, pun bukan hal yang ringan untuk didengar. Namun, di atas segala rasa segan, ada hal prinsipil yang aku pegang teguh, sebuah kompas internal yang membuat langkahku terasa lebih ringan meski jalannya mendaki.

Dalam sebuah relasi, negosiasi adalah hal lumrah. Itulah sebabnya opsi demi opsi telah kutawarkan berkali-kali, memberikan ruang bagi kita untuk mencari titik temu. Namun, realita seringkali tidak berjalan beriringan dengan ekspektasi. Respons yang kuterima darimu ternyata berada di kutub yang berbeda dari apa yang kuharapkan. Di titik inilah aku tersadar akan keterbatasanku sebagai manusia.

Aku bukanlah Tuhan yang memiliki mantra ajaib untuk mengubah hati atau sudut pandang seseorang dalam sekejap mata. Aku tidak memiliki kuasa untuk memaksakan pemahaman yang sama ke dalam kepalamu. Menyadari bahwa aku tidak bisa "memperbaiki" situasi atau mengubah dirimu adalah sebuah bentuk pembebasan. Aku berhenti mencoba menjadi pemegang kendali atas sesuatu yang di luar jangkauanku.

Maka, ketegasan ini adalah garis akhir yang kubuat dengan sadar. Jangan pernah kembali menyapa, karena sapaan tanpa perubahan hanya akan membuka luka yang berusaha kututup. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal, apalagi merasa dekat. Pura-pura asing mungkin terasa kejam, namun bagiku, itu adalah cara paling jujur untuk menghormati keputusan masing-masing. Terkadang, jarak yang absolut adalah satu-satunya cara agar kita bisa benar-benar melangkah maju tanpa harus menoleh ke belakang dengan penuh keraguan.

Comments