Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Purna




Menerima sebuah penolakan seringkali dianggap sebagai beban, namun bagiku, ada sesuatu yang lebih berat daripada kata "tidak": yaitu membiarkan diri terjebak dalam ketidakpastian yang berlarut. Aku cukup yakin bahwa caramu menerima keputusanku adalah sebuah proses yang berat. Penolakan memang bukan pilihan yang mudah untuk diucapkan, pun bukan hal yang ringan untuk didengar. Namun, di atas segala rasa segan, ada hal prinsipil yang aku pegang teguh, sebuah kompas internal yang membuat langkahku terasa lebih ringan meski jalannya mendaki.

Dalam sebuah relasi, negosiasi adalah hal lumrah. Itulah sebabnya opsi demi opsi telah kutawarkan berkali-kali, memberikan ruang bagi kita untuk mencari titik temu. Namun, realita seringkali tidak berjalan beriringan dengan ekspektasi. Respons yang kuterima darimu ternyata berada di kutub yang berbeda dari apa yang kuharapkan. Di titik inilah aku tersadar akan keterbatasanku sebagai manusia.

Aku bukanlah Tuhan yang memiliki mantra ajaib untuk mengubah hati atau sudut pandang seseorang dalam sekejap mata. Aku tidak memiliki kuasa untuk memaksakan pemahaman yang sama ke dalam kepalamu. Menyadari bahwa aku tidak bisa "memperbaiki" situasi atau mengubah dirimu adalah sebuah bentuk pembebasan. Aku berhenti mencoba menjadi pemegang kendali atas sesuatu yang di luar jangkauanku.

Maka, ketegasan ini adalah garis akhir yang kubuat dengan sadar. Jangan pernah kembali menyapa, karena sapaan tanpa perubahan hanya akan membuka luka yang berusaha kututup. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal, apalagi merasa dekat. Pura-pura asing mungkin terasa kejam, namun bagiku, itu adalah cara paling jujur untuk menghormati keputusan masing-masing. Terkadang, jarak yang absolut adalah satu-satunya cara agar kita bisa benar-benar melangkah maju tanpa harus menoleh ke belakang dengan penuh keraguan.

Comments