Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Pulang


Barangkali, salah satu lelucon paling getir dalam hidup adalah saat kita percaya bahwa jarak mampu membunuh ingatan. Kita berangkat dengan keyakinan bahwa jika kita melangkah cukup jauh, melintasi batas kota atau menyeberangi lautan, rasa sakit itu akan tertinggal di gerbang keberangkatan. Namun, kenyataannya justru sebaliknya; kesedihan adalah penumpang gelap yang paling setia. Ia duduk di kursi sebelah, ikut memandang cakrawala, dan berbisik tepat saat kita merasa telah berhasil melupakannya.

Aku telah sampai pada titik di mana rasa yang dulu paling kuincar kini sudah ada di hadapan. Lidahku mengecapnya, mataku menangkap keindahannya, tapi ada yang salah di dalam sana. Seperti mencoba mengisi botol yang pecah dasarnya, setiap keping kebahagiaan yang kuterima luruh begitu saja, menyisakan kekosongan yang semakin dingin. Ternyata benar, pemandangan paling megah sekalipun tidak punya kuasa untuk menambal lubang di dada yang dibiarkan menganga terlalu lama.

Patah hati ini bukan lagi sekadar luka, ia telah menjadi cuaca. Ia tidak datang untuk disembuhkan, ia hanya ada di sana—terkadang gerimis yang tipis, terkadang badai yang meluluhlantakkan. Ia mereda sejenak, memberi napas buatan yang semu, hanya untuk kembali menganga lebih lebar saat malam jatuh dan kesunyian mulai bicara. Kita menyebutnya "istirahat dari luka," padahal itu hanyalah jeda sebelum rasa sakit itu menagih janjinya kembali.

Lalu, di tengah hancurnya dunia kecil ini, kita dipaksa untuk tetap menjadi manusia di hadapan manusia lainnya. Bagaimana mungkin kita terus menghindar? Dunia tidak berhenti berputar hanya karena satu orang sedang kehilangan porosnya. Kita berjalan di antara kerumunan, mengenakan topeng paling rapi, sambil terus-menerus merasa seperti orang asing di tanah kelahiran sendiri. Bertemu orang lain adalah siksaan yang harus ditelan, karena setiap sapaan mereka adalah pengingat bahwa hidup harus terus berlanjut, sementara kita masih terjebak di hari ketika semuanya runtuh.

Pada akhirnya, tidak ada obat yang benar-benar manjur untuk sebuah kehilangan yang sudah mendarah daging. Kita hanya sedang belajar untuk hidup bersama patah yang tak kunjung pulih. Kita menempuh perjalanan jauh bukan untuk mencari penawar, melainkan untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa meski kaki ini masih pincang, kita tetap harus berjalan—walau tujuannya tak pernah benar-benar ada. Karena terkadang, rumah bukan lagi sebuah tempat, melainkan sebuah masa lalu yang kuncinya telah lama kita hilangkan.

Comments