Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Pulang


Barangkali, salah satu lelucon paling getir dalam hidup adalah saat kita percaya bahwa jarak mampu membunuh ingatan. Kita berangkat dengan keyakinan bahwa jika kita melangkah cukup jauh, melintasi batas kota atau menyeberangi lautan, rasa sakit itu akan tertinggal di gerbang keberangkatan. Namun, kenyataannya justru sebaliknya; kesedihan adalah penumpang gelap yang paling setia. Ia duduk di kursi sebelah, ikut memandang cakrawala, dan berbisik tepat saat kita merasa telah berhasil melupakannya.

Aku telah sampai pada titik di mana rasa yang dulu paling kuincar kini sudah ada di hadapan. Lidahku mengecapnya, mataku menangkap keindahannya, tapi ada yang salah di dalam sana. Seperti mencoba mengisi botol yang pecah dasarnya, setiap keping kebahagiaan yang kuterima luruh begitu saja, menyisakan kekosongan yang semakin dingin. Ternyata benar, pemandangan paling megah sekalipun tidak punya kuasa untuk menambal lubang di dada yang dibiarkan menganga terlalu lama.

Patah hati ini bukan lagi sekadar luka, ia telah menjadi cuaca. Ia tidak datang untuk disembuhkan, ia hanya ada di sana—terkadang gerimis yang tipis, terkadang badai yang meluluhlantakkan. Ia mereda sejenak, memberi napas buatan yang semu, hanya untuk kembali menganga lebih lebar saat malam jatuh dan kesunyian mulai bicara. Kita menyebutnya "istirahat dari luka," padahal itu hanyalah jeda sebelum rasa sakit itu menagih janjinya kembali.

Lalu, di tengah hancurnya dunia kecil ini, kita dipaksa untuk tetap menjadi manusia di hadapan manusia lainnya. Bagaimana mungkin kita terus menghindar? Dunia tidak berhenti berputar hanya karena satu orang sedang kehilangan porosnya. Kita berjalan di antara kerumunan, mengenakan topeng paling rapi, sambil terus-menerus merasa seperti orang asing di tanah kelahiran sendiri. Bertemu orang lain adalah siksaan yang harus ditelan, karena setiap sapaan mereka adalah pengingat bahwa hidup harus terus berlanjut, sementara kita masih terjebak di hari ketika semuanya runtuh.

Pada akhirnya, tidak ada obat yang benar-benar manjur untuk sebuah kehilangan yang sudah mendarah daging. Kita hanya sedang belajar untuk hidup bersama patah yang tak kunjung pulih. Kita menempuh perjalanan jauh bukan untuk mencari penawar, melainkan untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa meski kaki ini masih pincang, kita tetap harus berjalan—walau tujuannya tak pernah benar-benar ada. Karena terkadang, rumah bukan lagi sebuah tempat, melainkan sebuah masa lalu yang kuncinya telah lama kita hilangkan.

Comments