Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Menuju Kudus: Sebuah Perjalanan Mencari Rasa

Cinta, seringkali, adalah sebuah perjalanan yang enggan berkompromi dengan jarak. Ia tidak lahir dari logika yang tertata, melainkan dari sebuah perjumpaan sederhana yang kemudian menetap menjadi rindu yang keras kepala. Persis seperti rasa suka yang aku simpan pada seporsi Garang Asem otentik di sudut Kota Kudus; sebuah kegemaran yang jika dipikir ulang, terasa begitu merepotkan, namun selalu layak untuk diperjuangkan.

Semuanya bermula di tahun 2018. Saat itu, aku masih mahasiswa dengan ransel penuh mimpi dan langkah yang ringan. Pertemuan pertama itu terjadi tanpa rencana besar, namun suapan pertama ayam kampung yang lembut itu seolah mengunci seleraku selamanya. Ada perpaduan asam yang segar, gurih yang pekat, dan aroma daun pisang yang menguap saat bungkusnya dibuka—sebuah harmoni rasa yang mendefinisikan apa itu "pulang" dalam bentuk kuliner. Sejak saat itu, setiap kali jadwal membawa langkahku menuju Jawa Tengah, Kudus bukan lagi sekadar titik di peta, melainkan tujuan utama yang wajib aku upayakan.




Aku percaya pada pepatah good food, good mood. Bagiku, ini bukan sekadar kalimat di poster kafe, melainkan sebuah kebenaran yang aku alami sendiri. Ketika dunia terasa menyesakkan atau saat hati sedang dirundung sedih, Garang Asem ini tak pernah gagal menjadi obat yang paling mujarab. Kehangatannya mampu membasuh luka-luka kecil di hati.

Seorang temanku, yang kebetulan seorang chef, pernah mencoba membuatkannya untukku. Ia menggunakan pendekatan memasak yang berbeda, lebih modern dan teknis. Aku menyukai masakannya, sungguh. Namun, meski diolah dengan tangan profesional sekalipun, tetap belum ada yang mampu mengalahkan kedalaman rasa dari kota asalnya. Ada ruh yang tertinggal di Kudus yang tak bisa direplikasi di mana pun.

Mencintai rasa ini membuatku memelihara sebuah mimpi sederhana: suatu hari nanti aku ingin menetap agak lama di sana. Aku membayangkan sebuah rumah kecil dengan halaman hijau yang asri. Di sampingnya, aku akan membangun sebuah book cafe—sebuah ruang di mana aroma buku tua bersatu dengan aroma masakan hangat. Cukup itu saja, sebuah alasan yang sederhana namun kuat mengapa aku layak untuk tinggal dan menua di sana.

Membayangkan perjalanan dari Bandung menuju Kudus memang melelahkan. Belum ada rel kereta yang mengantarkanku langsung ke sana; aku harus transit di Semarang, berpindah-pindah peron dengan sisa tenaga yang ada. Memang ada bus langsung untuk pulang, tapi kenyamanan tetaplah prioritas yang membuatku lebih memilih kereta meski harus berputar.

Kalau ditanya mengapa aku mau melakukan semua kerumitan ini? Aku hanya bisa tersenyum bingung. Tidak ada alasan ilmiah mengapa rasa itu begitu melekat. Suka, ya suka saja. Terkadang, kita tidak butuh alasan untuk sebuah dedikasi; kita hanya butuh rasa yang cukup kuat untuk membuat jarak ratusan kilometer terasa seperti sebuah langkah kecil menuju kebahagiaan. Punya rasa suka memang repot, tapi bukankah kerepotan itulah yang membuat rasa tersebut menjadi begitu berharga?

Comments