Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Kromosom

 

Lantai semen teras rumah sore itu terasa lebih dingin dari biasanya. Di hadapanku, sebuah kalimat baru saja mendarat, tajam dan menyayat, namun anehnya disampaikan dengan nada yang bergetar penuh harap yang buntu.

“Andai engkau lelaki...”

Suaramu menggantung di antara aroma tanah basah setelah hujan. Kamu menatap jemariku yang sibuk menyusun catatan, lalu beralih menatap jauh ke cakrawala, seolah di sana ada sebuah realita alternatif di mana kromosomku berbeda.

“Mungkin tak akan begini,” lanjutmu lirih. “Mungkin akan banyak yang bisa kau jejaki, kau penuhi tanggung jawabnya. Kau sudah jadi manusia yang berada jauh di posisiku hari ini. Karena kau layak untuk itu, atas segala kecerdasan dan kemampuanmu, serta pengalamanmu.”

Dunia seakan melambat. Aku merasakan pujian itu masuk ke jantungku bersamaan dengan sembilu. Kamu mengakuiku sebagai petarung, sebagai pemikir, sebagai manusia yang mumpuni. Namun, dalam napas yang sama, kamu menarik garis batas yang tidak bisa kuseberangi.

“Sayangnya, kau perempuan.”

Kata terakhir itu jatuh seperti vonis. Seolah-olah seluruh kecerdasan yang kau puji itu hanyalah hiasan di sebuah ruangan tertutup yang kuncinya dipegang oleh tradisi dan ekspektasi. Kamu seakan-akan sedang meratapi sebuah potensi besar yang harus terkurung dalam tubuh yang kau anggap ringkih secara peran.

Aku terdiam cukup lama. Apakah dunia memang sekecil itu, hingga kecerdasan harus memilih gender untuk bisa diakui keberhasilannya? Apakah jejak yang kutinggalkan akan selalu dianggap kurang hanya karena langkahku tidak memakai sepatu yang sama denganmu?

Aku menoleh padamu, mencoba mencari sisa-sisa harapan di matamu yang mulai meredup. Aku ingin mengatakan bahwa otakku tidak memiliki jenis kelamin. Bahwa keberanianku tidak tumbuh dari otot, melainkan dari tekad yang sudah lama kau saksikan sendiri.

“Jika aku lelaki,” suaraku akhirnya keluar, tenang namun tajam, “mungkin aku akan sampai di sana lebih cepat. Tapi karena aku perempuan, aku belajar cara terbang tanpa harus menunggu tangga yang disediakan dunia.”

Kita kembali terbungkus sepi. Kalimatmu masih ada di sana, menyayat namun menyadarkan. Bahwa terkadang, orang-orang yang paling mencintai kita pun bisa menjadi orang yang paling pertama meragukan luasnya langit kita.

Malam itu, aku tidak berhenti menulis. Aku justru semakin giat menata jejak. Sebab bagiku, menjadi perempuan dengan segala kemampuan ini bukanlah sebuah "sayangnya". Ini adalah sebuah cara lain untuk menjadi manusia yang utuh dengan atau tanpa izin dari pengandaianmu.

Comments