Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Kromosom

 

Lantai semen teras rumah sore itu terasa lebih dingin dari biasanya. Di hadapanku, sebuah kalimat baru saja mendarat, tajam dan menyayat, namun anehnya disampaikan dengan nada yang bergetar penuh harap yang buntu.

“Andai engkau lelaki...”

Suaramu menggantung di antara aroma tanah basah setelah hujan. Kamu menatap jemariku yang sibuk menyusun catatan, lalu beralih menatap jauh ke cakrawala, seolah di sana ada sebuah realita alternatif di mana kromosomku berbeda.

“Mungkin tak akan begini,” lanjutmu lirih. “Mungkin akan banyak yang bisa kau jejaki, kau penuhi tanggung jawabnya. Kau sudah jadi manusia yang berada jauh di posisiku hari ini. Karena kau layak untuk itu, atas segala kecerdasan dan kemampuanmu, serta pengalamanmu.”

Dunia seakan melambat. Aku merasakan pujian itu masuk ke jantungku bersamaan dengan sembilu. Kamu mengakuiku sebagai petarung, sebagai pemikir, sebagai manusia yang mumpuni. Namun, dalam napas yang sama, kamu menarik garis batas yang tidak bisa kuseberangi.

“Sayangnya, kau perempuan.”

Kata terakhir itu jatuh seperti vonis. Seolah-olah seluruh kecerdasan yang kau puji itu hanyalah hiasan di sebuah ruangan tertutup yang kuncinya dipegang oleh tradisi dan ekspektasi. Kamu seakan-akan sedang meratapi sebuah potensi besar yang harus terkurung dalam tubuh yang kau anggap ringkih secara peran.

Aku terdiam cukup lama. Apakah dunia memang sekecil itu, hingga kecerdasan harus memilih gender untuk bisa diakui keberhasilannya? Apakah jejak yang kutinggalkan akan selalu dianggap kurang hanya karena langkahku tidak memakai sepatu yang sama denganmu?

Aku menoleh padamu, mencoba mencari sisa-sisa harapan di matamu yang mulai meredup. Aku ingin mengatakan bahwa otakku tidak memiliki jenis kelamin. Bahwa keberanianku tidak tumbuh dari otot, melainkan dari tekad yang sudah lama kau saksikan sendiri.

“Jika aku lelaki,” suaraku akhirnya keluar, tenang namun tajam, “mungkin aku akan sampai di sana lebih cepat. Tapi karena aku perempuan, aku belajar cara terbang tanpa harus menunggu tangga yang disediakan dunia.”

Kita kembali terbungkus sepi. Kalimatmu masih ada di sana, menyayat namun menyadarkan. Bahwa terkadang, orang-orang yang paling mencintai kita pun bisa menjadi orang yang paling pertama meragukan luasnya langit kita.

Malam itu, aku tidak berhenti menulis. Aku justru semakin giat menata jejak. Sebab bagiku, menjadi perempuan dengan segala kemampuan ini bukanlah sebuah "sayangnya". Ini adalah sebuah cara lain untuk menjadi manusia yang utuh dengan atau tanpa izin dari pengandaianmu.

Comments