Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Harap

 

Di hadapan lembar-lembar usia yang kian menderu, sering kali aku termenung menatap cakrawala. Ada sebuah kecemasan yang tumbuh perlahan, serupa kabut tipis yang menyelimuti langkahku: ketakutan bahwa gerbang pernikahan mungkin akan menjadi titik henti bagi kakiku yang gemar berkelana. Aku khawatir, tatkala janji suci itu terucap, waktu yang selama ini kudedikasikan untuk menekuni aksara dan memetik hikmah di sekolah kehidupan akan terampas oleh riuh rendah domestik yang tak berujung.

Sering kali, mimpi-mimpiku terasa begitu rapuh di hadapan narasi dunia yang mengatakan bahwa pengabdian berarti penyerahan diri secara mutlak, hingga identitas diri meluruh dan hilang. Aku takut pelayaran mencari jati diri yang sedang kutempuh ini harus karam, digantikan oleh rutinitas yang merenggut sayap-sayap ambisiku untuk terbang lebih jauh.

Namun, di sela-sela kegelisahan itu, aku menemukan sebuah muara pemahaman. Bahwa pernikahan sejati semestinya bukanlah sebuah jeruji, melainkan sebuah ruang luas di mana dua jiwa saling menempa. Kuncinya terletak pada penemuan sosok teman hidup yang memiliki frekuensi visi yang selaras; seseorang yang tidak hanya sekadar hadir, namun juga bersedia menjadi saksi sekaligus penjaga bagi mimpi-mimpiku. Ia adalah dia yang tak akan membiarkan apa yang telah kubangun dengan air mata dan peluh runtuh begitu saja, melainkan justru mengulurkan tangan untuk memperkokoh fondasinya.

Mencari kawan seperjalanan yang demikian memang sebuah ikhtiar yang sunyi. Mungkin ia membutuhkan penantian yang panjang, atau barangkali ia akan datang dalam sekejap mata yang tak terduga. Namun, aku memilih untuk tetap tenang dalam kesabaran. Sebab bagiku, lebih baik menunggu waktu yang tepat daripada terburu-buru kehilangan diri sendiri. Biarlah waktu yang menjadi pengantar, hingga semesta mempertemukan aku dengan jiwa yang paham bahwa mencintai berarti saling memerdekakan untuk terus belajar dan bertualang.

Comments