Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Harap

 

Di hadapan lembar-lembar usia yang kian menderu, sering kali aku termenung menatap cakrawala. Ada sebuah kecemasan yang tumbuh perlahan, serupa kabut tipis yang menyelimuti langkahku: ketakutan bahwa gerbang pernikahan mungkin akan menjadi titik henti bagi kakiku yang gemar berkelana. Aku khawatir, tatkala janji suci itu terucap, waktu yang selama ini kudedikasikan untuk menekuni aksara dan memetik hikmah di sekolah kehidupan akan terampas oleh riuh rendah domestik yang tak berujung.

Sering kali, mimpi-mimpiku terasa begitu rapuh di hadapan narasi dunia yang mengatakan bahwa pengabdian berarti penyerahan diri secara mutlak, hingga identitas diri meluruh dan hilang. Aku takut pelayaran mencari jati diri yang sedang kutempuh ini harus karam, digantikan oleh rutinitas yang merenggut sayap-sayap ambisiku untuk terbang lebih jauh.

Namun, di sela-sela kegelisahan itu, aku menemukan sebuah muara pemahaman. Bahwa pernikahan sejati semestinya bukanlah sebuah jeruji, melainkan sebuah ruang luas di mana dua jiwa saling menempa. Kuncinya terletak pada penemuan sosok teman hidup yang memiliki frekuensi visi yang selaras; seseorang yang tidak hanya sekadar hadir, namun juga bersedia menjadi saksi sekaligus penjaga bagi mimpi-mimpiku. Ia adalah dia yang tak akan membiarkan apa yang telah kubangun dengan air mata dan peluh runtuh begitu saja, melainkan justru mengulurkan tangan untuk memperkokoh fondasinya.

Mencari kawan seperjalanan yang demikian memang sebuah ikhtiar yang sunyi. Mungkin ia membutuhkan penantian yang panjang, atau barangkali ia akan datang dalam sekejap mata yang tak terduga. Namun, aku memilih untuk tetap tenang dalam kesabaran. Sebab bagiku, lebih baik menunggu waktu yang tepat daripada terburu-buru kehilangan diri sendiri. Biarlah waktu yang menjadi pengantar, hingga semesta mempertemukan aku dengan jiwa yang paham bahwa mencintai berarti saling memerdekakan untuk terus belajar dan bertualang.

Comments