Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

Harap

 

Di hadapan lembar-lembar usia yang kian menderu, sering kali aku termenung menatap cakrawala. Ada sebuah kecemasan yang tumbuh perlahan, serupa kabut tipis yang menyelimuti langkahku: ketakutan bahwa gerbang pernikahan mungkin akan menjadi titik henti bagi kakiku yang gemar berkelana. Aku khawatir, tatkala janji suci itu terucap, waktu yang selama ini kudedikasikan untuk menekuni aksara dan memetik hikmah di sekolah kehidupan akan terampas oleh riuh rendah domestik yang tak berujung.

Sering kali, mimpi-mimpiku terasa begitu rapuh di hadapan narasi dunia yang mengatakan bahwa pengabdian berarti penyerahan diri secara mutlak, hingga identitas diri meluruh dan hilang. Aku takut pelayaran mencari jati diri yang sedang kutempuh ini harus karam, digantikan oleh rutinitas yang merenggut sayap-sayap ambisiku untuk terbang lebih jauh.

Namun, di sela-sela kegelisahan itu, aku menemukan sebuah muara pemahaman. Bahwa pernikahan sejati semestinya bukanlah sebuah jeruji, melainkan sebuah ruang luas di mana dua jiwa saling menempa. Kuncinya terletak pada penemuan sosok teman hidup yang memiliki frekuensi visi yang selaras; seseorang yang tidak hanya sekadar hadir, namun juga bersedia menjadi saksi sekaligus penjaga bagi mimpi-mimpiku. Ia adalah dia yang tak akan membiarkan apa yang telah kubangun dengan air mata dan peluh runtuh begitu saja, melainkan justru mengulurkan tangan untuk memperkokoh fondasinya.

Mencari kawan seperjalanan yang demikian memang sebuah ikhtiar yang sunyi. Mungkin ia membutuhkan penantian yang panjang, atau barangkali ia akan datang dalam sekejap mata yang tak terduga. Namun, aku memilih untuk tetap tenang dalam kesabaran. Sebab bagiku, lebih baik menunggu waktu yang tepat daripada terburu-buru kehilangan diri sendiri. Biarlah waktu yang menjadi pengantar, hingga semesta mempertemukan aku dengan jiwa yang paham bahwa mencintai berarti saling memerdekakan untuk terus belajar dan bertualang.

Comments