Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Anomali Presisi




Dunia sering kali menjadi panggung komedi yang paling ironis saat ia mempertemukan dua jiwa yang tak pernah direncanakan. Kita, manusia yang merasa memiliki kendali penuh atas hidup, sering kali sibuk membangun benteng berupa daftar kriteria. Kita menyusun katalog idealisme—tentang bagaimana ia harus bicara, apa yang harus ia kuasai, hingga derajat keilmuan yang kita idam-idamkan sebagai cermin dari ambisi diri sendiri. Saya adalah salah satu dari mereka; seorang arsitek rencana yang percaya bahwa cinta bisa dikurasi dalam ruang-ruang logika yang rapi.


Namun, bagaimana jika ternyata kau adalah orangnya?

Pertanyaan itu muncul bukan sebagai sebuah kesimpulan yang tenang, melainkan sebagai sebuah guncangan. Kau adalah anomali yang tak pernah sedikit pun melintas dalam radar bayangan saya. Dalam peta masa depan yang telah saya gambar dengan tinta permanen, tak ada koordinat yang mengarah padamu. Kau berdiri di sana, menguasai bidang yang sama sekali asing bagi saya, melangkah di luar lingkar keilmuan yang selama ini saya agungkan. Kita adalah dua kutub yang tidak hanya berbeda, tapi mungkin tak pernah benar-benar saling menyadari keberadaan satu sama lain dalam hiruk-pikuk ekspektasi.

Ada sebuah paradoks yang indah saat menyadari bahwa manusia se-terencana saya bisa jatuh hati sedalam ini padamu. Ini adalah pemberontakan paling manis terhadap diri saya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang yang hidup dengan agenda dan prediksi, kini harus menyerah pada sesuatu yang seacak dan se-random ini? Cinta, dalam bentuknya yang paling murni, ternyata tidak bekerja di bawah departemen perencanaan. Ia tidak butuh validasi dari daftar keinginan atau kesamaan latar belakang profesional.

Mungkin, keindahanmu justru terletak pada "ketidak-idealan" itu. Kau membawa warna yang tidak ada dalam palet saya. Saat saya sibuk mengejar pantulan diri pada orang lain, semesta justru mengirimkan kau—sebuah jendela menuju dunia yang tak pernah saya jamah. Kau mengajarkan saya bahwa keilmuan yang saya puja hanyalah satu sisi kecil dari luasnya kehidupan, dan kau memiliki kunci untuk sisi yang lain.

Pada akhirnya, jatuh cinta padamu adalah pengakuan paling jujur bahwa rencana manusia hanyalah coretan di atas pasir yang mudah disapu ombak takdir. Saya belajar bahwa ada kenyamanan yang luar biasa dalam ketidaktahuan, dan ada keajaiban dalam membiarkan diri tersesat di luar lingkaran zona nyaman. Ternyata, sekuat apa pun saya merancang arah, hati tetap memiliki kompasnya sendiri yang selalu menunjuk ke arahmu—kejutan paling tidak logis yang kini menjadi satu-satunya alasan saya untuk berhenti mencari.

Comments