Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Anomali Presisi




Dunia sering kali menjadi panggung komedi yang paling ironis saat ia mempertemukan dua jiwa yang tak pernah direncanakan. Kita, manusia yang merasa memiliki kendali penuh atas hidup, sering kali sibuk membangun benteng berupa daftar kriteria. Kita menyusun katalog idealisme—tentang bagaimana ia harus bicara, apa yang harus ia kuasai, hingga derajat keilmuan yang kita idam-idamkan sebagai cermin dari ambisi diri sendiri. Saya adalah salah satu dari mereka; seorang arsitek rencana yang percaya bahwa cinta bisa dikurasi dalam ruang-ruang logika yang rapi.


Namun, bagaimana jika ternyata kau adalah orangnya?

Pertanyaan itu muncul bukan sebagai sebuah kesimpulan yang tenang, melainkan sebagai sebuah guncangan. Kau adalah anomali yang tak pernah sedikit pun melintas dalam radar bayangan saya. Dalam peta masa depan yang telah saya gambar dengan tinta permanen, tak ada koordinat yang mengarah padamu. Kau berdiri di sana, menguasai bidang yang sama sekali asing bagi saya, melangkah di luar lingkar keilmuan yang selama ini saya agungkan. Kita adalah dua kutub yang tidak hanya berbeda, tapi mungkin tak pernah benar-benar saling menyadari keberadaan satu sama lain dalam hiruk-pikuk ekspektasi.

Ada sebuah paradoks yang indah saat menyadari bahwa manusia se-terencana saya bisa jatuh hati sedalam ini padamu. Ini adalah pemberontakan paling manis terhadap diri saya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang yang hidup dengan agenda dan prediksi, kini harus menyerah pada sesuatu yang seacak dan se-random ini? Cinta, dalam bentuknya yang paling murni, ternyata tidak bekerja di bawah departemen perencanaan. Ia tidak butuh validasi dari daftar keinginan atau kesamaan latar belakang profesional.

Mungkin, keindahanmu justru terletak pada "ketidak-idealan" itu. Kau membawa warna yang tidak ada dalam palet saya. Saat saya sibuk mengejar pantulan diri pada orang lain, semesta justru mengirimkan kau—sebuah jendela menuju dunia yang tak pernah saya jamah. Kau mengajarkan saya bahwa keilmuan yang saya puja hanyalah satu sisi kecil dari luasnya kehidupan, dan kau memiliki kunci untuk sisi yang lain.

Pada akhirnya, jatuh cinta padamu adalah pengakuan paling jujur bahwa rencana manusia hanyalah coretan di atas pasir yang mudah disapu ombak takdir. Saya belajar bahwa ada kenyamanan yang luar biasa dalam ketidaktahuan, dan ada keajaiban dalam membiarkan diri tersesat di luar lingkaran zona nyaman. Ternyata, sekuat apa pun saya merancang arah, hati tetap memiliki kompasnya sendiri yang selalu menunjuk ke arahmu—kejutan paling tidak logis yang kini menjadi satu-satunya alasan saya untuk berhenti mencari.

Comments