Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

Anomali Presisi




Dunia sering kali menjadi panggung komedi yang paling ironis saat ia mempertemukan dua jiwa yang tak pernah direncanakan. Kita, manusia yang merasa memiliki kendali penuh atas hidup, sering kali sibuk membangun benteng berupa daftar kriteria. Kita menyusun katalog idealisme—tentang bagaimana ia harus bicara, apa yang harus ia kuasai, hingga derajat keilmuan yang kita idam-idamkan sebagai cermin dari ambisi diri sendiri. Saya adalah salah satu dari mereka; seorang arsitek rencana yang percaya bahwa cinta bisa dikurasi dalam ruang-ruang logika yang rapi.


Namun, bagaimana jika ternyata kau adalah orangnya?

Pertanyaan itu muncul bukan sebagai sebuah kesimpulan yang tenang, melainkan sebagai sebuah guncangan. Kau adalah anomali yang tak pernah sedikit pun melintas dalam radar bayangan saya. Dalam peta masa depan yang telah saya gambar dengan tinta permanen, tak ada koordinat yang mengarah padamu. Kau berdiri di sana, menguasai bidang yang sama sekali asing bagi saya, melangkah di luar lingkar keilmuan yang selama ini saya agungkan. Kita adalah dua kutub yang tidak hanya berbeda, tapi mungkin tak pernah benar-benar saling menyadari keberadaan satu sama lain dalam hiruk-pikuk ekspektasi.

Ada sebuah paradoks yang indah saat menyadari bahwa manusia se-terencana saya bisa jatuh hati sedalam ini padamu. Ini adalah pemberontakan paling manis terhadap diri saya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang yang hidup dengan agenda dan prediksi, kini harus menyerah pada sesuatu yang seacak dan se-random ini? Cinta, dalam bentuknya yang paling murni, ternyata tidak bekerja di bawah departemen perencanaan. Ia tidak butuh validasi dari daftar keinginan atau kesamaan latar belakang profesional.

Mungkin, keindahanmu justru terletak pada "ketidak-idealan" itu. Kau membawa warna yang tidak ada dalam palet saya. Saat saya sibuk mengejar pantulan diri pada orang lain, semesta justru mengirimkan kau—sebuah jendela menuju dunia yang tak pernah saya jamah. Kau mengajarkan saya bahwa keilmuan yang saya puja hanyalah satu sisi kecil dari luasnya kehidupan, dan kau memiliki kunci untuk sisi yang lain.

Pada akhirnya, jatuh cinta padamu adalah pengakuan paling jujur bahwa rencana manusia hanyalah coretan di atas pasir yang mudah disapu ombak takdir. Saya belajar bahwa ada kenyamanan yang luar biasa dalam ketidaktahuan, dan ada keajaiban dalam membiarkan diri tersesat di luar lingkaran zona nyaman. Ternyata, sekuat apa pun saya merancang arah, hati tetap memiliki kompasnya sendiri yang selalu menunjuk ke arahmu—kejutan paling tidak logis yang kini menjadi satu-satunya alasan saya untuk berhenti mencari.

Comments