Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Anamnesis

 

Di balik tirai logika yang kubangun dengan kokoh, ia menyelinap, seorang calon dokter, mahasiswa kedokteran yang dunianya dipenuhi anatomi dan tumpukan jurnal. Ia tak pernah masuk dalam daftar kriteria, tak pernah ada dalam bayangan masa depan yang kurancang. Namun, entah bagaimana, semesta menjahit benang istimewa di antara kami, sebuah hubungan yang lahir dari ketidaksengajaan yang intens.

Aku adalah penguasa bagi agendaku sendiri, seorang mahasiswi hukum yang hidup dalam presisi waktu dan pasal. Namun, ia hadir dengan kerentanan yang ganjil. Ia adalah jiwa yang haus akan kehadiran; setiap kali tekanan studinya memuncak, ia bertransformasi menjadi sosok yang tantrum, menuntutku hadir di sisinya. Sungguh sebuah parodi yang indah sekaligus absurd: aku, yang biasanya bergelut dengan teks-teks konstitusi, justru berakhir terasing di sudut laboratorium medis, menemaninya bergulat dengan preparat dan mikroskop. Untuk apa seorang ahli hukum berada di sana? Dunia itu terlalu dingin untukku, namun aku terjebak dalam pusarannya.

Lalu, sebuah obsesi baru muncul di benaknya: ia ingin mengunjungi benteng keramatku. Ia ingin menghadap Ayah dan Ibu, sebuah langkah formal yang terasa begitu lancang untuk sebuah hubungan yang masih meraba-raba.

Kami tiba dengan motor, membelah senja menuju rumah. Di sana, Ayah dan Ibu menyambutnya dengan kehangatan tradisional yang membuat batinku menjerit. Di tengah obrolan santun dan hidangan yang tersaji, aku hanya bisa merapalkan doa agar waktu segera melenyapkannya dari ruang tamuku. Namun, ia justru melangkah lebih jauh. Dengan nada bicara yang tenang namun penuh selidik, ia meminta izin untuk melihat kamarku—ruang paling personal yang selama ini tak tersentuh. Aku mengizinkannya sekilas, hanya untuk segera mengakhiri ketegangan ini.

Bahkan saat ia akhirnya berpamitan dan memacu motornya pergi, ia tetap menguasai layarku dengan pesan-pesan protektif. Seolah-olah nyawanya bergantung pada kabarku, meski tangannya sedang menggenggam kendali mesin. Ia gila, atau mungkin terlalu ambisius untuk memilikiku.

Namun, badai yang sesungguhnya pecah setelah pintu depan tertutup.

Suasana hangat itu menguap, berganti menjadi sidang tanpa pengacara. Ayah menghujaniku dengan kalimat yang memekakkan telinga, sementara Ibu menatapku dengan sorot mata yang menyayat. "Sejak kapan kau membiarkan laki-laki masuk begitu dalam ke hidupmu? Hingga ia berani menginjakkan kaki di kamarmu?" Pertanyaan itu adalah belati yang menembus jantung.

Aku merasa menjadi pesakitan di rumahku sendiri. Rasa bersalah yang teramat sangat menyesakkan rongga dada, mencekik tiap pasokan udara, padahal aku tak melakukan satu pun kesalahan moral. Aku merasa hancur, terpojok dalam kehampaan yang luar biasa pedih...

Hingga jemariku gemetar mengelus dada, mencoba menenangkan debar yang kian liar.

Lalu, tiba-tiba dunia tersentak.

Kelopak mataku terbuka lebar. Aku masih terbaring di atas ranjang, di bawah langit-langit kamar yang tenang. Keheningan fajar menyapa, menghapus bayang-bayang amarah orang tuaku dan aroma antiseptik yang tadi terasa begitu nyata. Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan syukur mengalir di setiap aliran darahku.

Ternyata, drama kedokteran yang menyiksa itu hanyalah sebuah fragmen mimpi yang gagal menjadi takdir. Aku aman, dan aku masih sendirian di sini.

Comments