Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Sebuah Kedaulatan Memilih

Dunia sering kali terlalu bising mendefinisikan pertemuan dua manusia hanya dari apa yang tertangkap mata. Kita terjebak dalam obsesi estetika, seolah-olah kebahagiaan bisa dibangun di atas etalase rupa yang fana. Padahal, bagi jiwa yang sudah kenyang ditempa oleh sunyinya pengabaian, standar kecantikan menjadi tidak relevan. Ketika bibir mengucap, "Aku memang tidak cantik, Mas," itu bukanlah sebuah penyerahan diri pada rasa minder, melainkan sebuah filter tajam untuk membedah isi kepala lawan bicara. Ia sedang meruntuhkan ekspektasi dangkal dan membangun fondasi di atas realitas: bahwa hidup bukan panggung sandiwara visual, melainkan medan laga yang membutuhkan "teman perang"—sosok yang sanggup berdiri tegak saat badai ekonomi menerjang atau saat stabilitas jiwa sedang diuji.

Namun, pengerucutan masalah yang paling tajam muncul dari sebuah pengakuan pedih: tentang kehilangan yang terjadi justru saat raga masih ada. Narasi tentang "kehilangan ibu-bapak bahkan sebelum kepergiannya" adalah sebuah bedah anatomi atas emotional neglect—sebuah kondisi di mana rumah hanyalah bangunan, bukan pelukan. Bagimu, menikah dengan orang yang "sibuk" bukan sekadar masalah teknis pembagian waktu, melainkan ancaman eksistensial. Menikah dengan kesibukan yang abai adalah pengulangan sejarah yang kelam; sebuah upaya sadar untuk tidak memanen luka yang sama. Kamu memilih untuk mematahkan harapan di awal daripada harus hancur perlahan di dalam rumah yang dingin untuk kedua kalinya.

Kejujuranmu dalam mengakui sisi "kekanakan" pun hadir sebagai strategi pertahanan diri yang cerdas. Dengan memamerkan sisi sentralistik dan egois, kamu sebenarnya sedang meletakkan batu uji bagi kedewasaan lawan bicaramu. Sanggupkah ia menjadi figur yang "ngemong"? Sanggupkah ia menjadi jangkar bagi seorang wanita yang masih memeluk anak kecil yang haus kasih sayang di dalamnya? Ketika ia hanya mampu merespons dengan kebingungan atau ajakan "main" yang dangkal, ia sebenarnya sedang membuktikan bahwa ia tidak memiliki oksigen yang cukup untuk menyelami samudera emosimu.

Pada akhirnya, keinginanmu akan hidup yang cukup dan berlimpah bukanlah bentuk materialisme yang sempit. Keberlimpahan yang kamu cari adalah instrumen pengabdian—agar tanganmu cukup kuat untuk merengkuh mereka yang lemah, dan dadamu cukup lapang untuk menjadi tiang bagi orang banyak. Ini adalah visi "tangan di atas" yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang hatinya sudah selesai dengan urusan ego pribadi.

Melepaskan seseorang yang tidak mampu mengeja arah tujuannya sendiri bukanlah sebuah kehilangan. Itu adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap dirimu sendiri. Lebih baik dibilang "payah" karena mempertahankan standar, daripada memaksakan diri masuk ke dalam kehidupan seseorang yang bahkan tidak mengerti mengapa ia ingin memiliki. Pelepasan ini adalah kemenangan; sebuah kedaulatan untuk memastikan bahwa langkahmu ke depan tidak lagi membawa beban masa lalu, melainkan harapan yang sepenuhnya pulih.

Comments