Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

Menunggu di Ruang Antara

Menunggu adalah salah satu bentuk penderitaan manusia yang paling sunyi. Di sana, kita tidak hanya kehilangan menit atau jam, tetapi kita kehilangan sebagian dari diri kita yang tidak akan pernah kembali. Ketika seseorang terlambat—terutama jika itu terjadi berulang kali—pertanyaan yang muncul bukan lagi soal "jam berapa ia sampai?", melainkan "seberapa berharga keberadaanku di matanya?".


Secara eksistensial, setiap detik yang kita miliki adalah bahan baku dari eksistensi kita. Waktu bukanlah wadah kosong yang bisa diisi sesuka hati; waktu adalah diri kita sendiri. Maka, ketika seseorang mencuri waktu kita dengan dalih keterlambatan yang repetitif, ia sebenarnya sedang melakukan agresi halus terhadap hidup kita. Ia sedang memosisikan dunianya sebagai pusat, sementara kita hanyalah satelit yang dipaksa mengorbit pada ketidakteraturannya.

Lantas, mengapa memaafkan kesalahan yang berulang itu terasa begitu menyesakkan?

Sebab, setiap pengulangan, ada pengkhianatan terhadap kebebasan. Jean-Paul Sartre mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas menentukan dirinya. Seseorang yang terlambat berulang kali sering kali bersembunyi di balik alasan "takdir" atau "situasi"—macet, alarm yang tidak berbunyi, atau sifat bawaan. Ini adalah apa yang disebut Sartre sebagai bad faith atau iktikad buruk. Mereka menolak mengakui bahwa keterlambatan itu adalah sebuah pilihan. Dengan memaafkan tanpa syarat, kita seolah-olah ikut mengamini kebohongan mereka bahwa mereka "tidak bisa berbuat apa-apa".

Namun, di sisi lain, hubungan antarmanusia memang selalu berada di ambang absurditas. Seperti Sisyphus yang terus mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya jatuh kembali, kita sering kali menemukan diri kita berada dalam lingkaran kekecewaan yang sama. Albert Camus mungkin akan menyarankan kita untuk melihat keterlambatan ini sebagai bagian dari kecacatan manusia yang tak terelakkan. Memaafkan, dalam hal ini, bukan berarti memaklumi kesalahannya, melainkan membebaskan diri kita dari beban amarah yang menguras energi.

Tetapi, ada batas tipis antara kemurahan hati dan pengabaian diri. Jika kita terus memaafkan tanpa ada perubahan, kita sebenarnya sedang membiarkan orang lain mereduksi martabat kita menjadi sekadar "objek yang menunggu". Kita kehilangan keotentikan kita sebagai subjek yang juga memiliki tujuan dan nilai.

Memaafkan kesalahan yang berulang adalah sebuah paradoks. Ia membutuhkan keberanian untuk melihat manusia lain dalam segala kerapuhannya, namun ia juga menuntut ketegasan untuk berkata: "Waktuku adalah hidupku." Barangkali, cara terbaik untuk memaafkan keterlambatan yang berulang bukan dengan terus menunggu di tempat yang sama, melainkan dengan memaafkan mereka sambil kita melangkah pergi. Karena pada akhirnya, tanggung jawab tertinggi kita bukan pada mereka yang tidak menghargai waktu, melainkan pada waktu yang telah dititipkan kepada kita sendiri.

Comments