Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Menunggu di Ruang Antara

Menunggu adalah salah satu bentuk penderitaan manusia yang paling sunyi. Di sana, kita tidak hanya kehilangan menit atau jam, tetapi kita kehilangan sebagian dari diri kita yang tidak akan pernah kembali. Ketika seseorang terlambat—terutama jika itu terjadi berulang kali—pertanyaan yang muncul bukan lagi soal "jam berapa ia sampai?", melainkan "seberapa berharga keberadaanku di matanya?".


Secara eksistensial, setiap detik yang kita miliki adalah bahan baku dari eksistensi kita. Waktu bukanlah wadah kosong yang bisa diisi sesuka hati; waktu adalah diri kita sendiri. Maka, ketika seseorang mencuri waktu kita dengan dalih keterlambatan yang repetitif, ia sebenarnya sedang melakukan agresi halus terhadap hidup kita. Ia sedang memosisikan dunianya sebagai pusat, sementara kita hanyalah satelit yang dipaksa mengorbit pada ketidakteraturannya.

Lantas, mengapa memaafkan kesalahan yang berulang itu terasa begitu menyesakkan?

Sebab, setiap pengulangan, ada pengkhianatan terhadap kebebasan. Jean-Paul Sartre mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas menentukan dirinya. Seseorang yang terlambat berulang kali sering kali bersembunyi di balik alasan "takdir" atau "situasi"—macet, alarm yang tidak berbunyi, atau sifat bawaan. Ini adalah apa yang disebut Sartre sebagai bad faith atau iktikad buruk. Mereka menolak mengakui bahwa keterlambatan itu adalah sebuah pilihan. Dengan memaafkan tanpa syarat, kita seolah-olah ikut mengamini kebohongan mereka bahwa mereka "tidak bisa berbuat apa-apa".

Namun, di sisi lain, hubungan antarmanusia memang selalu berada di ambang absurditas. Seperti Sisyphus yang terus mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya jatuh kembali, kita sering kali menemukan diri kita berada dalam lingkaran kekecewaan yang sama. Albert Camus mungkin akan menyarankan kita untuk melihat keterlambatan ini sebagai bagian dari kecacatan manusia yang tak terelakkan. Memaafkan, dalam hal ini, bukan berarti memaklumi kesalahannya, melainkan membebaskan diri kita dari beban amarah yang menguras energi.

Tetapi, ada batas tipis antara kemurahan hati dan pengabaian diri. Jika kita terus memaafkan tanpa ada perubahan, kita sebenarnya sedang membiarkan orang lain mereduksi martabat kita menjadi sekadar "objek yang menunggu". Kita kehilangan keotentikan kita sebagai subjek yang juga memiliki tujuan dan nilai.

Memaafkan kesalahan yang berulang adalah sebuah paradoks. Ia membutuhkan keberanian untuk melihat manusia lain dalam segala kerapuhannya, namun ia juga menuntut ketegasan untuk berkata: "Waktuku adalah hidupku." Barangkali, cara terbaik untuk memaafkan keterlambatan yang berulang bukan dengan terus menunggu di tempat yang sama, melainkan dengan memaafkan mereka sambil kita melangkah pergi. Karena pada akhirnya, tanggung jawab tertinggi kita bukan pada mereka yang tidak menghargai waktu, melainkan pada waktu yang telah dititipkan kepada kita sendiri.

Comments