Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Menunggu di Ruang Antara

Menunggu adalah salah satu bentuk penderitaan manusia yang paling sunyi. Di sana, kita tidak hanya kehilangan menit atau jam, tetapi kita kehilangan sebagian dari diri kita yang tidak akan pernah kembali. Ketika seseorang terlambat—terutama jika itu terjadi berulang kali—pertanyaan yang muncul bukan lagi soal "jam berapa ia sampai?", melainkan "seberapa berharga keberadaanku di matanya?".


Secara eksistensial, setiap detik yang kita miliki adalah bahan baku dari eksistensi kita. Waktu bukanlah wadah kosong yang bisa diisi sesuka hati; waktu adalah diri kita sendiri. Maka, ketika seseorang mencuri waktu kita dengan dalih keterlambatan yang repetitif, ia sebenarnya sedang melakukan agresi halus terhadap hidup kita. Ia sedang memosisikan dunianya sebagai pusat, sementara kita hanyalah satelit yang dipaksa mengorbit pada ketidakteraturannya.

Lantas, mengapa memaafkan kesalahan yang berulang itu terasa begitu menyesakkan?

Sebab, setiap pengulangan, ada pengkhianatan terhadap kebebasan. Jean-Paul Sartre mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk yang bebas menentukan dirinya. Seseorang yang terlambat berulang kali sering kali bersembunyi di balik alasan "takdir" atau "situasi"—macet, alarm yang tidak berbunyi, atau sifat bawaan. Ini adalah apa yang disebut Sartre sebagai bad faith atau iktikad buruk. Mereka menolak mengakui bahwa keterlambatan itu adalah sebuah pilihan. Dengan memaafkan tanpa syarat, kita seolah-olah ikut mengamini kebohongan mereka bahwa mereka "tidak bisa berbuat apa-apa".

Namun, di sisi lain, hubungan antarmanusia memang selalu berada di ambang absurditas. Seperti Sisyphus yang terus mendorong batu ke puncak gunung hanya untuk melihatnya jatuh kembali, kita sering kali menemukan diri kita berada dalam lingkaran kekecewaan yang sama. Albert Camus mungkin akan menyarankan kita untuk melihat keterlambatan ini sebagai bagian dari kecacatan manusia yang tak terelakkan. Memaafkan, dalam hal ini, bukan berarti memaklumi kesalahannya, melainkan membebaskan diri kita dari beban amarah yang menguras energi.

Tetapi, ada batas tipis antara kemurahan hati dan pengabaian diri. Jika kita terus memaafkan tanpa ada perubahan, kita sebenarnya sedang membiarkan orang lain mereduksi martabat kita menjadi sekadar "objek yang menunggu". Kita kehilangan keotentikan kita sebagai subjek yang juga memiliki tujuan dan nilai.

Memaafkan kesalahan yang berulang adalah sebuah paradoks. Ia membutuhkan keberanian untuk melihat manusia lain dalam segala kerapuhannya, namun ia juga menuntut ketegasan untuk berkata: "Waktuku adalah hidupku." Barangkali, cara terbaik untuk memaafkan keterlambatan yang berulang bukan dengan terus menunggu di tempat yang sama, melainkan dengan memaafkan mereka sambil kita melangkah pergi. Karena pada akhirnya, tanggung jawab tertinggi kita bukan pada mereka yang tidak menghargai waktu, melainkan pada waktu yang telah dititipkan kepada kita sendiri.

Comments