Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Antara Yang Bisa Dikendalikan dan Yang Harus Diserahkan




Membaca Tawakal, Stoikisme, dan Kecemasan Manusia Modern

Salah satu sumber kelelahan manusia modern bukanlah kurangnya usaha, melainkan keinginan berlebihan untuk mengendalikan segalanya. Kita hidup dalam budaya yang mengajarkan bahwa masa depan bisa “diamankan” dengan perencanaan, kerja keras, dan kalkulasi matang. Ironisnya, semakin rapi rencana disusun, semakin gelisah hati dibuatnya.

Di titik inilah manusia sering terjebak: sibuk mengurus hal-hal yang berada di luar kendalinya, sambil mengabaikan ruang kendali yang sebenarnya ia miliki.

Dalam filsafat Stoik, kegelisahan semacam ini sudah lama dibedah. Epictetus, salah satu tokoh utama Stoikisme, membuka Enchiridion dengan satu pernyataan sederhana namun radikal: “Some things are in our control, and others are not.” Masalah manusia, menurut Stoik, bukan pada apa yang terjadi, tetapi pada kegagalan membedakan dua wilayah tersebut.

Wilayah pertama adalah apa yang berada dalam kuasa manusia: niat, pilihan, respon, dan usaha. Wilayah kedua adalah apa yang berada di luar kendali: hasil, penilaian orang lain, dan peristiwa eksternal. Ketika manusia mencampuradukkan keduanya, di situlah penderitaan lahir.

Menariknya, kerangka ini memiliki resonansi kuat dengan konsep tawakal dalam Islam. Tawakal bukanlah sikap pasif atau menyerah, melainkan kesadaran teologis tentang batas peran manusia. Islam menegaskan adanya ikhtiar sebagai kewajiban moral, sekaligus pengakuan bahwa hasil akhir berada di tangan Allah. Dalam bahasa teologi Islam, ini berkaitan erat dengan pemahaman tentang qadha dan qadar.

Qadar berbicara tentang ketetapan dan ukuran ilahi yang melingkupi hidup manusia, sementara qadha adalah realisasi dari ketetapan tersebut dalam realitas. Namun dalam praktik keberagamaan sehari-hari, dua konsep ini sering diperlakukan secara simplistis. Hal-hal yang gagal kita raih disebut “takdir”, sementara keberhasilan dianggap murni hasil usaha. Padahal keduanya selalu saling berkelindan.

Di sinilah banyak orang terjatuh pada dua ekstrem. Di satu sisi, mereka mengutuk takdir atas hal-hal yang sejatinya berada di luar kendali manusia: waktu, latar keluarga, atau kehilangan yang tak bisa dihindari. Di sisi lain, mereka menghindari tanggung jawab pada hal-hal yang masih bisa diupayakan, dengan berlindung di balik dalih “sudah kehendak Allah”.

Baik Stoikisme maupun Islam, dengan cara yang berbeda, justru menawarkan jalan tengah. Stoikisme mengajarkan amor fati, menerima kenyataan dengan lapang karena ia berada di luar kendali. Islam mengajarkan ridha, penerimaan yang berakar pada keimanan bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Adil. Keduanya menuntut kedewasaan batin: berhenti memusuhi realitas, tanpa berhenti berusaha.

Teori psikologi modern pun mengafirmasi kerangka ini. Julian Rotter, melalui konsep locus of control, menjelaskan bahwa individu yang sehat secara psikologis mampu membedakan antara kendali internal dan eksternal. Kecemasan kronis sering muncul ketika seseorang memikul tanggung jawab emosional atas hal-hal yang sebenarnya berada di luar kuasanya. Dengan kata lain, kecemasan bukan sekadar persoalan mental, tetapi juga kesalahan dalam memetakan peran diri.

Masalahnya, budaya hari ini justru merayakan ilusi kendali. Kita didorong untuk “mengatur segalanya”, “tidak boleh gagal”, dan “harus tahu arah hidup sejak dini”. Akibatnya, tawakal dipersempit maknanya menjadi pelarian spiritual setelah kelelahan, bukan fondasi sebelum perjalanan.

Padahal dalam Islam, tawakal adalah bentuk adab eksistensial: mengetahui kapan harus melangkah dan kapan harus berserah. Ia bukan pengganti usaha, tetapi penanda bahwa usaha manusia selalu terbatas. Sementara Stoikisme mengajarkan kebebasan batin melalui pelepasan kendali atas hasil, Islam melengkapinya dengan dimensi transendental: kepercayaan pada Zat yang mengatur hasil tersebut.

Mungkin yang perlu kita pelajari ulang bukan cara bekerja lebih keras, tetapi cara menempatkan diri dengan lebih tepat. Berhenti mengurus langit seolah-olah ia berada dalam genggaman kita, dan mulai merawat bumi yang benar-benar bisa kita pijak. Di sanalah, ketenangan bukan lahir dari kepastian, melainkan dari kejelasan peran.

Dan barangkali, itulah makna terdalam tawakal:
bukan berhenti berusaha, melainkan berhenti merasa menjadi Tuhan atas hidup sendiri.

References:
Al-Ghazali. Ihya’ Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Ma‘rifah, t.t.

Aurelius, Marcus. Meditations. Translated by Gregory Hays. New York: Modern Library, 2002.

Epictetus. Enchiridion. Translated by Elizabeth Carter. Mineola, NY: Dover Publications, 2004.

Rotter, Julian B. “Generalized Expectancies for Internal versus External Control of Reinforcement.” Psychological Monographs 80, no. 1 (1966): 1–28.

At-Tirmidzi. Sunan al-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami, t.t.

Comments