Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Menikah di Tengah Krisis: Sebuah Keberanian untuk Memilih Harapan




Aku selalu menaruh hormat yang dalam, juga rasa bangga, kepada siapa pun yang berani memilih menikah di tengah situasi negara yang tak sedang baik-baik saja; sebab keputusan itu bukan sekadar soal cinta, melainkan keberanian mengikat diri pada tanggung jawab di medan hidup yang penuh ketidakpastian. Mereka tahu, ujian tak lagi datang satu per satu, tapi berlapis dari ekonomi, mental, hingga sosial namun tetap melangkah dengan kesadaran dan doa. Semoga nyali yang mereka miliki tak sekadar kuat untuk bertahan, tetapi berubah menjadi nyala bahagia yang menghangatkan rumah, menumbuhkan sabar, dan meluaskan syukur; barakallahu fikum, atas keberanian yang tidak semua orang sanggup memilihnya.

Di zaman ketika banyak orang menunda komitmen demi rasa aman yang semu, pernikahan justru tampil sebagai laku paling jujur: mengakui bahwa hidup tak pernah sepenuhnya siap, dan manusia tak pernah benar-benar mapan. Mereka yang menikah hari ini tidak sedang menutup mata dari kenyataan, justru sebaliknya mereka membuka mata lebar-lebar, lalu tetap melangkah. Dengan penghasilan yang mungkin belum ideal, dengan masa depan yang tak seluruhnya bisa ditebak, mereka berkata pada diri sendiri: kami akan belajar bertumbuh bersama, bukan menunggu dunia menjadi ramah.

Menikah di tengah situasi sulit adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi. Ia tidak turun ke jalan, tidak lantang berteriak, namun ia mengakar. Ia berkata pada zaman: harapan tidak mati hanya karena keadaan sedang muram. Pernikahan menjadi ruang kecil untuk merawat waras, ketika dunia terlalu bising; menjadi tempat pulang, ketika realitas kerap menampar tanpa aba-aba. Dari dua orang yang saling menggenggam, lahirlah keberanian untuk percaya bahwa esok tetap layak diperjuangkan.

Tentu, romantisme saja tak cukup. Mereka yang memilih menikah hari ini paham betul bahwa cinta harus bekerja keras. Ia harus mau belajar mengelola emosi, merapikan komunikasi, menegosiasikan mimpi, dan berbagi luka tanpa saling meniadakan. Pernikahan bukan tempat bersembunyi dari masalah, melainkan sekolah panjang tentang kedewasaan, tentang bagaimana dua kepala, dua latar, dan dua luka belajar duduk setara dalam satu meja yang sama.

Di tengah tekanan hidup, rumah tangga menjadi laboratorium kesabaran. Ada hari-hari ketika cinta terasa hangat dan ringan, ada pula hari-hari ketika ia terasa berat dan melelahkan. Namun justru di situlah maknanya: cinta yang dipilih setiap hari, bukan hanya dirayakan di hari bahagia. Kesetiaan bukan soal tak pernah lelah, melainkan tetap tinggal meski lelah. Tetap berbagi, meski hati ingin menyerah.

Maka, kepada mereka yang menikah hari ini, hormatku bukan hanya karena keberanian memulai, tapi karena kesiapan untuk bertahan dan bertumbuh. Kalian sedang menanam benih di tanah yang keras nan gersang, menyiramnya dengan doa, dan merawatnya dengan ikhtiar yang kadang tak terlihat. Jika kelak dunia masih belum juga ramah, semoga rumah tetap menjadi tempat paling jujur untuk beristirahat, dan pasangan menjadi kawan seperjalanan yang saling menguatkan.

Barakallahu fikum. Semoga cinta kalian tak hanya bertahan dari zaman, tetapi juga melampauinya, menjadi saksi bahwa di tengah krisis, manusia masih bisa memilih harapan, dan di tengah ketidakpastian, pernikahan tetap bisa menjadi ibadah yang paling berani.

Comments