Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Pada Akhirnya, Kita Membiarkan Arah Bekerja Sendiri

 


Aku menuliskannya dengan kejernihan yang akhirnya tiba: semakin kita saling mengenal, semakin terasa bahwa langkah ini tidak berdiri di poros yang sama. Bukan karena kurang usaha, melainkan karena arah hidup kita tumbuh dari pertanyaan yang berlainan. Kedekatan bekerja seperti cahaya, ia memperlihatkan dengan sangat jelas apa-apa yang dulu belum sempat kupersaksikan.

Aku teringat pada cara Aristoteles memandang perjalanan manusia: selalu digerakkan oleh telos, tujuan akhir yang diam-diam menuntun arah. Barangkali di sanalah letak jarak kita, telos yang berbeda membuat langkah kita tak lagi berhimpit, meski sempat berjalan beriringan, tanpa ada yang salah di dalamnya.

Tiba-tiba juga aku teringat nasihat Fromm soal  kedewasaan yang dimaknai sebagai kemampuan untuk tidak saling memiliki. Sebuah keberhubungan yang memberi ruang agar masing-masing tetap utuh. Bertahan tanpa keselarasan, pelan-pelan, justru menjelma kelekatan yang melelahkan bukan karena kurang rasa, tetapi karena kehilangan keseimbangan.

Keputusan ini hadir sebagai sebuah choix, meminjam bahasa Sartre, pilihan yang menuntut kejujuran pada diri sendiri. Menolak mauvaise foi, penyangkalan halus yang kerap membuat kita bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Menjauh, dalam pengertian ini, hanyalah cara untuk tetap hidup secara autentik. Kau paham betul perkataan Sartre yang satu ini "orang lain adalah neraka bagimu". Pilihlah neraka yang paling mungkin bisa kau maafkan dan kau nikmati segala siksaannya. Dan aku sangat yakin itu bukan aku.

Maka aku memilih beringsut pergi dengan tenang, tanpa beban dan tanpa tuntutan apapun atas apa yang telah kuupayakan semampu dari sedikit yang aku bisa. Barangkali inilah bentuk paling lembut dari kejujuran: tidak memaksakan sesuatu tinggal di ruang yang keliru, dan membiarkan masing-masing kembali pada jalannya sendiri, utuh, jernih, dan apa adanya.

Comments