Skip to main content

Featured

Gema Sepuluh Tahun

 Aku tidak pernah benar-benar tahu di mana batas antara jatuh cinta dan sekadar mengagumi. Bagi orang lain, perasaan itu mungkin punya spektrum warna yang jelas—merah membara atau merah muda yang manis. Tapi di kadarku, rasa suka itu datang begitu saja, datar, tenang, lalu menetap tanpa banyak menuntut. Sampai aku membaca kalimat Søren Kierkegaard suatu sore di sudut toko buku: “Kalau kamu bisa melepas dan mengorbankan apa pun yang kamu cintai untuknya tanpa berharap dia akan memilihmu atau tidak, itu baru namanya cinta.” Mesti begitu pahitkah? Dulu, aku mengira cinta adalah perkara merelakan dengan lapang dada. Kurasa tidak akan ada yang separah itu—sampai orang itu datang dalam hidupku. Seseorang yang tidak pernah berjanji apa-apa, tapi berhasil menguasai kepalaku hingga sepuluh tahun lebih. Selama itu pula, tanpa sadar aku telah memasang standar yang tidak kasat mata. Di setiap ruang tunggu stasiun, di antara ramainya kafe beraroma kopi, hingga pada senyum asing yang singgah ses...

Pada Akhirnya, Kita Membiarkan Arah Bekerja Sendiri

 


Aku menuliskannya dengan kejernihan yang akhirnya tiba: semakin kita saling mengenal, semakin terasa bahwa langkah ini tidak berdiri di poros yang sama. Bukan karena kurang usaha, melainkan karena arah hidup kita tumbuh dari pertanyaan yang berlainan. Kedekatan bekerja seperti cahaya, ia memperlihatkan dengan sangat jelas apa-apa yang dulu belum sempat kupersaksikan.

Aku teringat pada cara Aristoteles memandang perjalanan manusia: selalu digerakkan oleh telos, tujuan akhir yang diam-diam menuntun arah. Barangkali di sanalah letak jarak kita, telos yang berbeda membuat langkah kita tak lagi berhimpit, meski sempat berjalan beriringan, tanpa ada yang salah di dalamnya.

Tiba-tiba juga aku teringat nasihat Fromm soal  kedewasaan yang dimaknai sebagai kemampuan untuk tidak saling memiliki. Sebuah keberhubungan yang memberi ruang agar masing-masing tetap utuh. Bertahan tanpa keselarasan, pelan-pelan, justru menjelma kelekatan yang melelahkan bukan karena kurang rasa, tetapi karena kehilangan keseimbangan.

Keputusan ini hadir sebagai sebuah choix, meminjam bahasa Sartre, pilihan yang menuntut kejujuran pada diri sendiri. Menolak mauvaise foi, penyangkalan halus yang kerap membuat kita bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Menjauh, dalam pengertian ini, hanyalah cara untuk tetap hidup secara autentik. Kau paham betul perkataan Sartre yang satu ini "orang lain adalah neraka bagimu". Pilihlah neraka yang paling mungkin bisa kau maafkan dan kau nikmati segala siksaannya. Dan aku sangat yakin itu bukan aku.

Maka aku memilih beringsut pergi dengan tenang, tanpa beban dan tanpa tuntutan apapun atas apa yang telah kuupayakan semampu dari sedikit yang aku bisa. Barangkali inilah bentuk paling lembut dari kejujuran: tidak memaksakan sesuatu tinggal di ruang yang keliru, dan membiarkan masing-masing kembali pada jalannya sendiri, utuh, jernih, dan apa adanya.

Comments

Popular Posts