Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Pada Akhirnya, Kita Membiarkan Arah Bekerja Sendiri

 


Aku menuliskannya dengan kejernihan yang akhirnya tiba: semakin kita saling mengenal, semakin terasa bahwa langkah ini tidak berdiri di poros yang sama. Bukan karena kurang usaha, melainkan karena arah hidup kita tumbuh dari pertanyaan yang berlainan. Kedekatan bekerja seperti cahaya, ia memperlihatkan dengan sangat jelas apa-apa yang dulu belum sempat kupersaksikan.

Aku teringat pada cara Aristoteles memandang perjalanan manusia: selalu digerakkan oleh telos, tujuan akhir yang diam-diam menuntun arah. Barangkali di sanalah letak jarak kita, telos yang berbeda membuat langkah kita tak lagi berhimpit, meski sempat berjalan beriringan, tanpa ada yang salah di dalamnya.

Tiba-tiba juga aku teringat nasihat Fromm soal  kedewasaan yang dimaknai sebagai kemampuan untuk tidak saling memiliki. Sebuah keberhubungan yang memberi ruang agar masing-masing tetap utuh. Bertahan tanpa keselarasan, pelan-pelan, justru menjelma kelekatan yang melelahkan bukan karena kurang rasa, tetapi karena kehilangan keseimbangan.

Keputusan ini hadir sebagai sebuah choix, meminjam bahasa Sartre, pilihan yang menuntut kejujuran pada diri sendiri. Menolak mauvaise foi, penyangkalan halus yang kerap membuat kita bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Menjauh, dalam pengertian ini, hanyalah cara untuk tetap hidup secara autentik. Kau paham betul perkataan Sartre yang satu ini "orang lain adalah neraka bagimu". Pilihlah neraka yang paling mungkin bisa kau maafkan dan kau nikmati segala siksaannya. Dan aku sangat yakin itu bukan aku.

Maka aku memilih beringsut pergi dengan tenang, tanpa beban dan tanpa tuntutan apapun atas apa yang telah kuupayakan semampu dari sedikit yang aku bisa. Barangkali inilah bentuk paling lembut dari kejujuran: tidak memaksakan sesuatu tinggal di ruang yang keliru, dan membiarkan masing-masing kembali pada jalannya sendiri, utuh, jernih, dan apa adanya.

Comments