Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

Pada Akhirnya, Kita Membiarkan Arah Bekerja Sendiri

 


Aku menuliskannya dengan kejernihan yang akhirnya tiba: semakin kita saling mengenal, semakin terasa bahwa langkah ini tidak berdiri di poros yang sama. Bukan karena kurang usaha, melainkan karena arah hidup kita tumbuh dari pertanyaan yang berlainan. Kedekatan bekerja seperti cahaya, ia memperlihatkan dengan sangat jelas apa-apa yang dulu belum sempat kupersaksikan.

Aku teringat pada cara Aristoteles memandang perjalanan manusia: selalu digerakkan oleh telos, tujuan akhir yang diam-diam menuntun arah. Barangkali di sanalah letak jarak kita, telos yang berbeda membuat langkah kita tak lagi berhimpit, meski sempat berjalan beriringan, tanpa ada yang salah di dalamnya.

Tiba-tiba juga aku teringat nasihat Fromm soal  kedewasaan yang dimaknai sebagai kemampuan untuk tidak saling memiliki. Sebuah keberhubungan yang memberi ruang agar masing-masing tetap utuh. Bertahan tanpa keselarasan, pelan-pelan, justru menjelma kelekatan yang melelahkan bukan karena kurang rasa, tetapi karena kehilangan keseimbangan.

Keputusan ini hadir sebagai sebuah choix, meminjam bahasa Sartre, pilihan yang menuntut kejujuran pada diri sendiri. Menolak mauvaise foi, penyangkalan halus yang kerap membuat kita bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Menjauh, dalam pengertian ini, hanyalah cara untuk tetap hidup secara autentik. Kau paham betul perkataan Sartre yang satu ini "orang lain adalah neraka bagimu". Pilihlah neraka yang paling mungkin bisa kau maafkan dan kau nikmati segala siksaannya. Dan aku sangat yakin itu bukan aku.

Maka aku memilih beringsut pergi dengan tenang, tanpa beban dan tanpa tuntutan apapun atas apa yang telah kuupayakan semampu dari sedikit yang aku bisa. Barangkali inilah bentuk paling lembut dari kejujuran: tidak memaksakan sesuatu tinggal di ruang yang keliru, dan membiarkan masing-masing kembali pada jalannya sendiri, utuh, jernih, dan apa adanya.

Comments