Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Tujuh Tahun Menyapa Filsafat



Pertama kali aku tahu ada Ngaji Filsafat di Jogja, kira-kira tahun 2018. Sebuah kabar ringan yang disampaikan salah satu instruktur DAM Kudus, tapi entah mengapa, suaranya meninggalkan gema yang panjang di kepala. Ia bercerita tentang sebuah majelis di Masjid Jenderal Soedirman, tempat orang-orang datang bukan untuk merasa paling tahu, melainkan untuk belajar merasa kecil di hadapan makna.


Dari situ, aku mengenal nama yang kelak begitu akrab di telinga, Pak Faiz. Uraiannya tentang filsafat tak seperti yang kubayangkan: tidak rumit, tidak kaku. Ia mengalir pelan, lembut, bahkan sesekali diselingi canda yang menenangkan. Di tangannya, gagasan-gagasan berat menjadi lentur. Aku yang awalnya hanya iseng menonton lewat kanal YouTube masjid itu, lama-lama ikut hanyut. Seperti sedang diajak berbincang santai tentang Plato di angkringan Malioboro, dengan sebatang lampu minyak yang menyala temaram di antara gelas-gelas teh hangat.




Namun rupanya, butuh tujuh tahun untuk benar-benar sampai di sana. Tujuh tahun menunggu takdir yang akhirnya membuka pintu, memberi kesempatan mahal: duduk langsung di majelis itu, menatap wajah-wajah yang selama ini hanya kulihat lewat layar.





Padahal, Jogja bukan kota asing bagiku. Aku sering ke sana; bahkan pernah menetap cukup lama di bawah langitnya yang lembut nan sabar. Tapi entah kenapa, langkahku tak pernah benar-benar diarahkan ke majelis itu. Mungkin karena belum waktunya. Atau bisa jadi, karena niatku dulu hanya sebatas ingin tahu, belum sampai pada ingin bertemu.



Dan ketika akhirnya Allah izinkan juga, rasanya seperti pulang ke rumah setelah rindu yang panjang. MasyaAllah, vibes-nya benar-benar tak terlukiskan. Hangat tapi dalam, santai tapi menggetarkan. Suara-suara lembut yang beradu dengan desir angin, tawa kecil yang menandai titik-titik jeda pemikiran, dan cahaya lampu yang menari di wajah para penuntut ilmu, semuanya menyatu dalam harmoni yang sunyi nan hidup.




Lucu juga, pikirku. Sering kali kita berjalan begitu jauh, padahal yang kita cari hanya butuh waktu untuk tumbuh di dalam diri. Kini, ketika kembali menonton kanal YouTube itu, rasanya berbeda. Ada getar yang lebih nyata, seolah tiap kata memantul dari dinding kenangan yang pernah kusentuh langsung.




Mungkin memang begitu cara Allah mengajarkan rindu: dibiarkan berjarak lebih dulu, agar ketika akhirnya bersua, maknanya tak sekadar hadir tapi hidup, bernafas, dan menetap di hati.


Terima kasih, Masjid Jenderal Soedirman telah menjadi rumah bagi para pencari makna, tempat di mana akal dan hati berdialog tanpa merasa saling menang, dan cahaya ilmu menuntun langkah kami pulang kepada Tuhan dengan cara yang lembut dan penuh cinta.

Comments