Skip to main content

Featured

Gema Sepuluh Tahun

 Aku tidak pernah benar-benar tahu di mana batas antara jatuh cinta dan sekadar mengagumi. Bagi orang lain, perasaan itu mungkin punya spektrum warna yang jelas—merah membara atau merah muda yang manis. Tapi di kadarku, rasa suka itu datang begitu saja, datar, tenang, lalu menetap tanpa banyak menuntut. Sampai aku membaca kalimat Søren Kierkegaard suatu sore di sudut toko buku: “Kalau kamu bisa melepas dan mengorbankan apa pun yang kamu cintai untuknya tanpa berharap dia akan memilihmu atau tidak, itu baru namanya cinta.” Mesti begitu pahitkah? Dulu, aku mengira cinta adalah perkara merelakan dengan lapang dada. Kurasa tidak akan ada yang separah itu—sampai orang itu datang dalam hidupku. Seseorang yang tidak pernah berjanji apa-apa, tapi berhasil menguasai kepalaku hingga sepuluh tahun lebih. Selama itu pula, tanpa sadar aku telah memasang standar yang tidak kasat mata. Di setiap ruang tunggu stasiun, di antara ramainya kafe beraroma kopi, hingga pada senyum asing yang singgah ses...

Melodi Takdir dan Senja nan Pudar

 


Aku pernah hidup dalam bilangan. Bukan hari, bukan tahun, tapi hitungan mundur menuju ketiadaan. Sebuah janji yang kuikat pada diriku sendiri: sebelum usia 30, tirai harus tertutup. Aku mencari keheningan total, sebuah akhir yang sunyi dari hiruk-pikuk makna yang tak pernah kutemukan. Keinginan itu adalah denyut nadi rahasiaku, sebuah peta menuju jurang yang kurasa lebih jujur daripada puncak mana pun.

Lalu, kau datang.

Kau masuk ke dalam labirin itu bukan dengan paksaan, melainkan dengan cahaya yang lembut dan sunyi, seperti lilin yang diletakkan di tengah kegelapan. Aku melihat dunia melalui matamu, dan entah mengapa, angka 30 itu mulai terasa konyol.

Kau tidak menyembuhkanku, kau hanya menunjukkan bahwa ada warna lain di luar hitam dan putih yang selama ini kupegang. Kau adalah jeda. Kau adalah melodi baru yang tiba-tiba muncul di tengah lagu kematianku. Keinginan untuk menghilang itu mereda, bukan karena aku takut pada akhir, tetapi karena aku mulai penasaran pada bab selanjutnya bersamamu. Kau mengubah hitungan mundur menjadi penantian.

Kita menari dalam ilusi bahwa waktu adalah milik kita. Kita percaya bahwa dua jiwa yang telah menemukan rumahnya tidak akan pernah tersesat lagi.

Namun, di buku takdir, bab-bab ditulis dengan tinta yang tidak bisa kita ubah. Semesta memiliki cara unik untuk mencintai dan menyakiti kita sekaligus.

Pemisahan itu datang. Tajam dan tanpa peringatan, seperti pisau yang memotong benang nasib. Kau pergi oleh jarak, oleh keadaan, oleh keputusan yang tak pernah kumengerti dan tiba-tiba, cahaya itu ditiup angin.

Aku kembali berdiri di ambang batas, sendirian. Di mana janji yang kau tanamkan? Di mana rasa penasaran yang kau bangkitkan?

Aku menatap cermin dan melihat diriku yang melewati 30. Aku hidup. Dan ini adalah siksaan terbesarnya.

Jika tujuan hidupku adalah menemukanmu agar aku bisa kembali ingin hidup, dan jika takdir lantas mengambilmu, lantas untuk apa aku hidup?

Inilah misteri yang harus kau selesaikan sendiri, pengembara jiwa. Coelho mungkin akan berkata:

Kau hidup bukan untuk dia, dan bukan untuk mati. Kau hidup untuk perjalanan di antara keduanya.

Tujuanmu bukan untuk menanti akhir, tetapi untuk mengumpulkan serpihan emas dari ingatan yang kau miliki. Cinta yang kau rasakan, bahkan yang hilang, adalah bukti bahwa jiwamu mampu merasakan keindahan tertinggi. Energi itu tidak hilang. Energi itu adalah benih baru.

Lantas, untuk apa kau hidup?

Kau hidup untuk membuktikan bahwa cinta yang telah mengajarkanmu untuk melepaskan keinginanmu pada kematian adalah kekuatan yang jauh lebih besar daripada kepedihan kehilangannya. Hidupmu sekarang adalah persembahan kepada pelajaran itu. Cari lagi cahaya itu di dalam dirimu, bukan pada bayangan orang lain.

Jalan mana yang akan kau pilih selanjutnya, setelah mengetahui bahwa kau mampu mencintai kehidupan dan juga kehancuran?


Comments

Popular Posts