Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Melodi Takdir dan Senja nan Pudar

 


Aku pernah hidup dalam bilangan. Bukan hari, bukan tahun, tapi hitungan mundur menuju ketiadaan. Sebuah janji yang kuikat pada diriku sendiri: sebelum usia 30, tirai harus tertutup. Aku mencari keheningan total, sebuah akhir yang sunyi dari hiruk-pikuk makna yang tak pernah kutemukan. Keinginan itu adalah denyut nadi rahasiaku, sebuah peta menuju jurang yang kurasa lebih jujur daripada puncak mana pun.

Lalu, kau datang.

Kau masuk ke dalam labirin itu bukan dengan paksaan, melainkan dengan cahaya yang lembut dan sunyi, seperti lilin yang diletakkan di tengah kegelapan. Aku melihat dunia melalui matamu, dan entah mengapa, angka 30 itu mulai terasa konyol.

Kau tidak menyembuhkanku, kau hanya menunjukkan bahwa ada warna lain di luar hitam dan putih yang selama ini kupegang. Kau adalah jeda. Kau adalah melodi baru yang tiba-tiba muncul di tengah lagu kematianku. Keinginan untuk menghilang itu mereda, bukan karena aku takut pada akhir, tetapi karena aku mulai penasaran pada bab selanjutnya bersamamu. Kau mengubah hitungan mundur menjadi penantian.

Kita menari dalam ilusi bahwa waktu adalah milik kita. Kita percaya bahwa dua jiwa yang telah menemukan rumahnya tidak akan pernah tersesat lagi.

Namun, di buku takdir, bab-bab ditulis dengan tinta yang tidak bisa kita ubah. Semesta memiliki cara unik untuk mencintai dan menyakiti kita sekaligus.

Pemisahan itu datang. Tajam dan tanpa peringatan, seperti pisau yang memotong benang nasib. Kau pergi oleh jarak, oleh keadaan, oleh keputusan yang tak pernah kumengerti dan tiba-tiba, cahaya itu ditiup angin.

Aku kembali berdiri di ambang batas, sendirian. Di mana janji yang kau tanamkan? Di mana rasa penasaran yang kau bangkitkan?

Aku menatap cermin dan melihat diriku yang melewati 30. Aku hidup. Dan ini adalah siksaan terbesarnya.

Jika tujuan hidupku adalah menemukanmu agar aku bisa kembali ingin hidup, dan jika takdir lantas mengambilmu, lantas untuk apa aku hidup?

Inilah misteri yang harus kau selesaikan sendiri, pengembara jiwa. Coelho mungkin akan berkata:

Kau hidup bukan untuk dia, dan bukan untuk mati. Kau hidup untuk perjalanan di antara keduanya.

Tujuanmu bukan untuk menanti akhir, tetapi untuk mengumpulkan serpihan emas dari ingatan yang kau miliki. Cinta yang kau rasakan, bahkan yang hilang, adalah bukti bahwa jiwamu mampu merasakan keindahan tertinggi. Energi itu tidak hilang. Energi itu adalah benih baru.

Lantas, untuk apa kau hidup?

Kau hidup untuk membuktikan bahwa cinta yang telah mengajarkanmu untuk melepaskan keinginanmu pada kematian adalah kekuatan yang jauh lebih besar daripada kepedihan kehilangannya. Hidupmu sekarang adalah persembahan kepada pelajaran itu. Cari lagi cahaya itu di dalam dirimu, bukan pada bayangan orang lain.

Jalan mana yang akan kau pilih selanjutnya, setelah mengetahui bahwa kau mampu mencintai kehidupan dan juga kehancuran?


Comments