Skip to main content

Featured

Gema Sepuluh Tahun

 Aku tidak pernah benar-benar tahu di mana batas antara jatuh cinta dan sekadar mengagumi. Bagi orang lain, perasaan itu mungkin punya spektrum warna yang jelas—merah membara atau merah muda yang manis. Tapi di kadarku, rasa suka itu datang begitu saja, datar, tenang, lalu menetap tanpa banyak menuntut. Sampai aku membaca kalimat Søren Kierkegaard suatu sore di sudut toko buku: “Kalau kamu bisa melepas dan mengorbankan apa pun yang kamu cintai untuknya tanpa berharap dia akan memilihmu atau tidak, itu baru namanya cinta.” Mesti begitu pahitkah? Dulu, aku mengira cinta adalah perkara merelakan dengan lapang dada. Kurasa tidak akan ada yang separah itu—sampai orang itu datang dalam hidupku. Seseorang yang tidak pernah berjanji apa-apa, tapi berhasil menguasai kepalaku hingga sepuluh tahun lebih. Selama itu pula, tanpa sadar aku telah memasang standar yang tidak kasat mata. Di setiap ruang tunggu stasiun, di antara ramainya kafe beraroma kopi, hingga pada senyum asing yang singgah ses...

Bananatuna

 


Di sebuah siang yang tergesa di stasiun, dua orang dengan punggung penuh ransel berdiri di depan etalase pastry. Mata mereka sama-sama menatap ke arah makanan, tapi lapar mereka memilih jalan berbeda: satu menunjuk banana pastry, satu lagi tuna pastry. Dua nama sederhana yang seolah mewakili dua selera, dua karakter, dua perjalanan hidup yang kini bertemu di persimpangan lelah dan lapar.

Food court stasiun itu riuh, aroma kopi, langkah cepat, suara panggilan kereta, semuanya berpadu jadi satu orkestra urban. Di tengah hiruk-pikuk itu, mereka berbagi momen kecil: satu tangan menggenggam americano panas yang dibeli bersamaan dengan pastry, satu lagi membawa teh fermentasi rasa buah yang sudah dibeli dari tempat jauh, mungkin karena penasaran, mungkin karena ingin sesuatu yang tak biasa. Tangan-tangan mereka penuh dengan minuman, pastry, dan panggilan telepon yang terus berdenting. Mereka tertawa gugup, mencoba menyeimbangkan hidup yang kadang tak punya tangan cukup untuk semua hal yang harus dipegang.

Akhirnya, setelah perjuangan memindai tiket dengan jari yang nyaris licin oleh keringat dan gula pastry, mereka berhasil masuk ke peron. Napas sedikit tersengal, tapi senyum tak lepas dari wajah. Di kursi tunggu yang dingin, mereka membuka bungkusan kudapan.

“Yang tuna yang mana?”
“Ini deh, kayaknya. Soalnya seingatku, yang tuna tuh ada garis-garis kayak gini.”

Keyakinan kecil itu mengantarkan mereka pada kekeliruan besar. Separuh pastry dilahap, dan seketika wajahnya berubah.
“Ih kok pisang sih, yah!”

Yang satu lagi menatap dengan rasa bersalah campur geli. “Lah, yaudah ini makan yang ini!” katanya sambil menyodorkan pastry yang belum disentuh.
“Lah kamu makan bekasku? Tanggung ah, udah separuh, nggak apa-apa.”

Ada semacam kehangatan dalam kekacauan itu, rasa bersalah yang dibalut tawa kecil. Kadang, di tengah perjalanan panjang, manusia memang butuh sedikit kekacauan untuk merasa hidup.

Namun kehidupan, seperti biasa, punya selera humor yang lebih tinggi dari mereka. Saat rasa bersalah belum reda, tutup teh fermentasi yang setengah terbuka terjatuh dan menumpahkan isinya ke kursi tunggu. Cairannya berhamburan seperti air seni yang tak tahu malu, menodai sekitar dan menambah daftar kehilangan hari itu: selain pastry tuna yang tertukar, hilang pula minuman kesukaan yang susah didapat itu.

Tapi mungkin begitulah perjalanan  bukan tentang selalu tepat memilih, melainkan tentang bagaimana tertawa saat pilihan salah sekalipun.
Sebab kadang hidup memang seperti “bananatuna”: kita pikir akan mendapat gurih, ternyata manis. Kita pikir akan kecewa, ternyata malah tertawa. Dan di antara tumpahan minuman serta pastry separuh, mereka menemukan satu hal sederhana bahwa kesalahan kecil juga bisa jadi cerita yang manis, selama masih ada seseorang di sebelahmu untuk menertawakannya.

Comments

Popular Posts