Search This Blog
Sebuah catatan tentang hidup yang patut diperjuangkan dan dirayakan oleh makhluk bernama "anak perempuan pertama"
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Bananatuna
Di sebuah siang yang tergesa di stasiun, dua orang dengan punggung penuh ransel berdiri di depan etalase pastry. Mata mereka sama-sama menatap ke arah makanan, tapi lapar mereka memilih jalan berbeda: satu menunjuk banana pastry, satu lagi tuna pastry. Dua nama sederhana yang seolah mewakili dua selera, dua karakter, dua perjalanan hidup yang kini bertemu di persimpangan lelah dan lapar.
Food court stasiun itu riuh, aroma kopi, langkah cepat, suara panggilan kereta, semuanya berpadu jadi satu orkestra urban. Di tengah hiruk-pikuk itu, mereka berbagi momen kecil: satu tangan menggenggam americano panas yang dibeli bersamaan dengan pastry, satu lagi membawa teh fermentasi rasa buah yang sudah dibeli dari tempat jauh, mungkin karena penasaran, mungkin karena ingin sesuatu yang tak biasa. Tangan-tangan mereka penuh dengan minuman, pastry, dan panggilan telepon yang terus berdenting. Mereka tertawa gugup, mencoba menyeimbangkan hidup yang kadang tak punya tangan cukup untuk semua hal yang harus dipegang.
Akhirnya, setelah perjuangan memindai tiket dengan jari yang nyaris licin oleh keringat dan gula pastry, mereka berhasil masuk ke peron. Napas sedikit tersengal, tapi senyum tak lepas dari wajah. Di kursi tunggu yang dingin, mereka membuka bungkusan kudapan.
Ada semacam kehangatan dalam kekacauan itu, rasa bersalah yang dibalut tawa kecil. Kadang, di tengah perjalanan panjang, manusia memang butuh sedikit kekacauan untuk merasa hidup.
Namun kehidupan, seperti biasa, punya selera humor yang lebih tinggi dari mereka. Saat rasa bersalah belum reda, tutup teh fermentasi yang setengah terbuka terjatuh dan menumpahkan isinya ke kursi tunggu. Cairannya berhamburan seperti air seni yang tak tahu malu, menodai sekitar dan menambah daftar kehilangan hari itu: selain pastry tuna yang tertukar, hilang pula minuman kesukaan yang susah didapat itu.
- Get link
- X
- Other Apps
Popular Posts
Ibadah Transaksional: Paradigma Religius yang Tumbuh dalam Bayang-Bayang Materialisme
- Get link
- X
- Other Apps
Jejak Politik Muslimah: Ketika Sejarah Bicara, Lalu Kita Membungkamnya
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment