Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Santri Nir Adab

Dulu, menjadi santri itu bukan sekadar soal menuntut ilmu. Ia tentang menundukkan hati sebelum menegakkan kepala, tentang bagaimana seseorang belajar duduk dengan tenang sebelum berani berdiri di hadapan dunia. 

Santri diajari bahwa ilmu bukan hasil bacaan, tapi pantulan adab. Karena ilmu yang benar tidak pernah menumbuhkan kesombongan, ia menumbuhkan kerendahan hati. Tapi entah sejak kapan, sebagian santri mulai kehilangan arah itu. Mereka belajar cepat, berbicara pandai, tapi lupa caranya menunduk.

Zaman memang berubah, katanya. Kini guru bukan lagi sosok yang duduk di depan, tapi rekan kerja di ruangan sebelah. Murid yang dulu menulis catatan dengan penuh takzim kini duduk di kursi rapat yang sama, merasa sejajar, bahkan kadang lebih tahu. Sebutan “mantan guru” pun lahir, istilah yang rasanya aneh, tapi nyata. Karena di dunia yang mengagungkan kesetaraan, rasa hormat sering dianggap kuno. Padahal, justru di situlah letak keindahan seorang santri: ia tidak menjadi kecil karena menunduk, tapi menjadi besar karena tahu di mana tempatnya berdiri.

Kadang, kenyataan itu terasa getir. Saat bertemu di jalan, tak lagi terdengar salam yang dulu diucap dengan getar. Saat berpapasan, tak lagi ada senyum hangat yang dulu tumbuh dari cinta seorang murid kepada gurunya. Di ruang kerja, dua insan yang dulu terhubung oleh doa kini duduk kaku seperti orang asing. Tidak ada kebencian di sana, mungkin hanya keasingan yang lahir dari gengsi. Betapa mudah rupanya bagi waktu dan jabatan m untuk melunturkan takzim.

Namun tentu tidak semua begitu. Masih banyak santri yang hidupnya menjadi puisi tentang hormat: tutur katanya halus, sikapnya teduh, langkahnya pelan tapi berisi. Mereka masih mencium tangan gurunya dengan hati yang penuh doa. Mereka tahu bahwa barakah ilmu bukan sesuatu yang bisa diketik di CV, tapi sesuatu yang hidup di dada dan hanya tumbuh di tanah yang direndahkan oleh adab. Karena santri sejati tahu: tak akan pernah ada titik di mana ia berhenti menjadi murid.

Dan mungkin di sinilah pelajaran terbesarnya. Bahwa kehilangan ilmu masih bisa diganti dengan belajar lagi, tapi kehilangan adab adalah kehilangan yang tak tergantikan. Sebab ketika seseorang tak lagi bisa menghormati gurunya, ia sebenarnya sedang kehilangan sebagian dari dirinya sendiri.

Selamat Hari Santri, tepat 2 hari yang lalu. 

Untuk mereka yang masih tahu bagaimana menunduk tanpa merasa rendah, dan untuk para guru yang tetap mendoakan meski muridnya kini berjalan tanpa sapa. 

Sebab sejatinya, dunia tidak akan kekurangan orang pintar, tapi ia akan hancur bila kehilangan orang yang tak tahu caranya beradab.

Comments