Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

Santri Nir Adab

Dulu, menjadi santri itu bukan sekadar soal menuntut ilmu. Ia tentang menundukkan hati sebelum menegakkan kepala, tentang bagaimana seseorang belajar duduk dengan tenang sebelum berani berdiri di hadapan dunia. 

Santri diajari bahwa ilmu bukan hasil bacaan, tapi pantulan adab. Karena ilmu yang benar tidak pernah menumbuhkan kesombongan, ia menumbuhkan kerendahan hati. Tapi entah sejak kapan, sebagian santri mulai kehilangan arah itu. Mereka belajar cepat, berbicara pandai, tapi lupa caranya menunduk.

Zaman memang berubah, katanya. Kini guru bukan lagi sosok yang duduk di depan, tapi rekan kerja di ruangan sebelah. Murid yang dulu menulis catatan dengan penuh takzim kini duduk di kursi rapat yang sama, merasa sejajar, bahkan kadang lebih tahu. Sebutan “mantan guru” pun lahir, istilah yang rasanya aneh, tapi nyata. Karena di dunia yang mengagungkan kesetaraan, rasa hormat sering dianggap kuno. Padahal, justru di situlah letak keindahan seorang santri: ia tidak menjadi kecil karena menunduk, tapi menjadi besar karena tahu di mana tempatnya berdiri.

Kadang, kenyataan itu terasa getir. Saat bertemu di jalan, tak lagi terdengar salam yang dulu diucap dengan getar. Saat berpapasan, tak lagi ada senyum hangat yang dulu tumbuh dari cinta seorang murid kepada gurunya. Di ruang kerja, dua insan yang dulu terhubung oleh doa kini duduk kaku seperti orang asing. Tidak ada kebencian di sana, mungkin hanya keasingan yang lahir dari gengsi. Betapa mudah rupanya bagi waktu dan jabatan m untuk melunturkan takzim.

Namun tentu tidak semua begitu. Masih banyak santri yang hidupnya menjadi puisi tentang hormat: tutur katanya halus, sikapnya teduh, langkahnya pelan tapi berisi. Mereka masih mencium tangan gurunya dengan hati yang penuh doa. Mereka tahu bahwa barakah ilmu bukan sesuatu yang bisa diketik di CV, tapi sesuatu yang hidup di dada dan hanya tumbuh di tanah yang direndahkan oleh adab. Karena santri sejati tahu: tak akan pernah ada titik di mana ia berhenti menjadi murid.

Dan mungkin di sinilah pelajaran terbesarnya. Bahwa kehilangan ilmu masih bisa diganti dengan belajar lagi, tapi kehilangan adab adalah kehilangan yang tak tergantikan. Sebab ketika seseorang tak lagi bisa menghormati gurunya, ia sebenarnya sedang kehilangan sebagian dari dirinya sendiri.

Selamat Hari Santri, tepat 2 hari yang lalu. 

Untuk mereka yang masih tahu bagaimana menunduk tanpa merasa rendah, dan untuk para guru yang tetap mendoakan meski muridnya kini berjalan tanpa sapa. 

Sebab sejatinya, dunia tidak akan kekurangan orang pintar, tapi ia akan hancur bila kehilangan orang yang tak tahu caranya beradab.

Comments