Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Menemukan Tuhan Melalui Dirimu



Aku pernah mengira jalan hidupmu terlalu berliku untuk bisa kupahami. Keputusanmu meninggalkan bangku studi, aku kira hanya akan melahirkan penyesalan yang panjang. Saat itu, dalam diam, aku merasa lebih tinggi darimu. Seperti pohon yang berdiri tegak, merasa kokoh, padahal akarnya masih dangkal. Aku pikir aku yang akan banyak mengajarimu tentang arah, tentang arti bertahan di tengah kerasnya hidup. Betapa angkuhnya aku.

Namun, setelah hari-hari bersamamu, aku mulai belajar menelan setiap kesombongan itu. Kau, yang kutaksir lemah, justru menyimpan kekuatan yang tidak pernah kupunya. Kau menghadapi badai tanpa payung, menerima hujan tanpa tempat berteduh, tapi tetap berdiri. Aku melihat dalam sorot matamu, ada langit yang luas, langit yang membuatku merasa kecil sekaligus terlindungi. Seperti sungai yang mengalir tanpa peduli akan bebatuan yang menghalangi, kau mengajarkan padaku arti bergerak tanpa kehilangan arah.

Dari keteguhanmu, aku menemukan sesuatu yang tak pernah kuduga: Tuhan. Bukan dalam barisan ayat panjang atau ruang sunyi tempat ibadah, tapi dalam sikapmu yang sabar, dalam caramu menahan diri, dalam luasnya hatimu ketika aku berbuat keliru. Kau bukan pengkhotbah, bukan pula guru yang berdiri di mimbar, tapi setiap sikapmu adalah pengingat bahwa Tuhan hadir di antara kita dengan cara yang sederhana, kadang melalui manusia yang kita remehkan.

Aku meminta maaf, karena pernah mewarisi sifat setan: meremehkanmu. Menganggap pilihanmu salah, jalanmu keliru, hanya karena tidak sesuai dengan ukuran kecil yang kupakai untuk menilai dunia. Padahal, justru darimulah aku belajar tentang sabar, tentang menerima luka tanpa mengutuknya, tentang melanjutkan hidup tanpa kehilangan senyum. Kau adalah guru yang tak pernah mengaku guru, dan aku adalah murid yang datang dengan dada penuh kesombongan.

Terima kasih untuk sabar yang luasnya seperti langit, untuk keteguhan yang tak pernah kau pamerkan, untuk keyakinan bahwa hidup tetap bisa dijalani meski tidak selalu sesuai rencana. Terima kasih karena lewatmu aku menemukan Tuhan dengan cara yang lebih nyata: dalam kesabaran, dalam keikhlasan, dalam caramu menjaga hati di tengah dunia yang sering kali bengis.

Semoga kau senang belajar bersamaku yang masih tumbuh, yang masih sesekali jadi setan karena kesombonganku. Lalu, dengan gagahnya, kau masih saja percaya bahwa ada banyak hal yang bisa kau pelajari dariku. Selamat berkurang atas jatah hidupmu, semoga kau segera dipertemukan dengan Dia yang Maha Tahu, tentu bukan dengan cara yang itu. Jalan lain yang tak pernah kita tahu, mungkin lewat sebuah perjalanan seru.

Comments