Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Menemukan Tuhan Melalui Dirimu



Aku pernah mengira jalan hidupmu terlalu berliku untuk bisa kupahami. Keputusanmu meninggalkan bangku studi, aku kira hanya akan melahirkan penyesalan yang panjang. Saat itu, dalam diam, aku merasa lebih tinggi darimu. Seperti pohon yang berdiri tegak, merasa kokoh, padahal akarnya masih dangkal. Aku pikir aku yang akan banyak mengajarimu tentang arah, tentang arti bertahan di tengah kerasnya hidup. Betapa angkuhnya aku.

Namun, setelah hari-hari bersamamu, aku mulai belajar menelan setiap kesombongan itu. Kau, yang kutaksir lemah, justru menyimpan kekuatan yang tidak pernah kupunya. Kau menghadapi badai tanpa payung, menerima hujan tanpa tempat berteduh, tapi tetap berdiri. Aku melihat dalam sorot matamu, ada langit yang luas, langit yang membuatku merasa kecil sekaligus terlindungi. Seperti sungai yang mengalir tanpa peduli akan bebatuan yang menghalangi, kau mengajarkan padaku arti bergerak tanpa kehilangan arah.

Dari keteguhanmu, aku menemukan sesuatu yang tak pernah kuduga: Tuhan. Bukan dalam barisan ayat panjang atau ruang sunyi tempat ibadah, tapi dalam sikapmu yang sabar, dalam caramu menahan diri, dalam luasnya hatimu ketika aku berbuat keliru. Kau bukan pengkhotbah, bukan pula guru yang berdiri di mimbar, tapi setiap sikapmu adalah pengingat bahwa Tuhan hadir di antara kita dengan cara yang sederhana, kadang melalui manusia yang kita remehkan.

Aku meminta maaf, karena pernah mewarisi sifat setan: meremehkanmu. Menganggap pilihanmu salah, jalanmu keliru, hanya karena tidak sesuai dengan ukuran kecil yang kupakai untuk menilai dunia. Padahal, justru darimulah aku belajar tentang sabar, tentang menerima luka tanpa mengutuknya, tentang melanjutkan hidup tanpa kehilangan senyum. Kau adalah guru yang tak pernah mengaku guru, dan aku adalah murid yang datang dengan dada penuh kesombongan.

Terima kasih untuk sabar yang luasnya seperti langit, untuk keteguhan yang tak pernah kau pamerkan, untuk keyakinan bahwa hidup tetap bisa dijalani meski tidak selalu sesuai rencana. Terima kasih karena lewatmu aku menemukan Tuhan dengan cara yang lebih nyata: dalam kesabaran, dalam keikhlasan, dalam caramu menjaga hati di tengah dunia yang sering kali bengis.

Semoga kau senang belajar bersamaku yang masih tumbuh, yang masih sesekali jadi setan karena kesombonganku. Lalu, dengan gagahnya, kau masih saja percaya bahwa ada banyak hal yang bisa kau pelajari dariku. Selamat berkurang atas jatah hidupmu, semoga kau segera dipertemukan dengan Dia yang Maha Tahu, tentu bukan dengan cara yang itu. Jalan lain yang tak pernah kita tahu, mungkin lewat sebuah perjalanan seru.

Comments