Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Semoga Aku Tak Pernah Dipertemukan dengan Mereka




Ada doa yang tak selalu kita lafalkan dengan lantang. Ia hanya mengendap di dada, seperti air yang enggan tumpah meski mangkuknya penuh.

Doa itu sederhana, tetapi rasanya berat: “Ya Allah, semoga aku tak pernah dipertemukan dengan orang-orang yang tak layak dan menyebalkan itu.”

Namun, hidup bukanlah taman bunga yang kita susun sesuai selera. Ia lebih mirip padang luas, di mana angin membawa apa saja, kadang harum bunga liar, kadang pula bau anyir bangkai yang tak kita minta. Begitu juga dengan manusia yang datang ke hidup kita. Sebagian membawa cahaya, sebagian lagi membawa kabut. Sebagian memberi ketenangan, sebagian lagi menguji kesabaran.

Orang-orang yang “tak layak” itu, sejatinya bukan sekadar gangguan. Mereka adalah cermin terbalik, bukan untuk ditiru, tapi untuk menyadarkan kita akan batas. Batas kesabaran, batas harga diri, batas pada siapa kita harus membuka pintu dan kepada siapa kita menutup gerbangnya rapat-rapat.

Para guru sufi pernah berkata, “Bahkan keburukan yang menyinggahi hidupmu pun adalah utusan dari-Nya, hanya saja engkau tak selalu mengerti surat yang ia bawa.”

Mungkin, jika aku terlalu sering bertemu orang yang tak layak, itu berarti ada sesuatu dalam diriku yang belum selesai. Sebab hati yang sudah jernih, kata para arif, cenderung tak lagi menjadi magnet bagi yang keruh. Seperti kolam yang tenang, ia hanya memantulkan langit, bukan lumpur.

Namun aku tetap berdoa. Sebab doa adalah bentuk keberanian untuk memilih jalan. Aku memohon agar jalan itu dijaga dari persimpangan yang dipenuhi mereka yang bisa menyeretku kembali ke lembah gelap. Karena aku tahu, satu pertemuan bisa mengubah arah. Satu percakapan bisa meracuni jiwa. Dan satu persahabatan yang salah bisa menjadi jembatan menuju kehancuran.

Dalam perjalanan perjuangan ini, bukan hanya teman seperjalanan yang penting, tetapi juga siapa yang kita hindari. Para pencari kebenaran dahulu rela berjalan sendirian, asalkan langkah mereka tak ditemani orang yang memalingkan pandangan dari Allah.

Maka jika takdir memang harus mempertemukan aku dengan mereka, aku berharap hanya sebatas sapaan singkat di perempatan, bukan persinggahan panjang. Hanya sekadar tanda bahwa mereka pernah ada, bukan lembaran yang menetap dalam buku hidupku.

Sebab pada akhirnya, pertemuan terindah adalah dengan jiwa-jiwa yang mengingatkan kita pada Tuhan, dan perpisahan terbaik adalah dengan mereka yang menjauhkan kita dari-Nya.

Dan bila doa ini dikabulkan, mungkin bukan karena aku istimewa, tetapi karena Dia tahu, hatiku rapuh dan butuh perlindungan yang lebih besar dari sekadar pagar kata-kata.

Comments