Search This Blog
Sebuah catatan tentang hidup yang patut diperjuangkan dan dirayakan oleh makhluk bernama "anak perempuan pertama"
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Sang Ikan Sapu-Sapu, Pahlawan Zero Waste
Aku adalah anak perempuan yang doyan jajan, mudah tergoda menu baru, atau sekadar lapar mata ketika stres melanda, sesekali akibat fomo. Dalam daftar riwayat makanku, jumlah makanan yang aku pesan seringkali tak sebanding dengan kapasitas perutku. Setelah dua atau tiga suapan, rasa kenyang datang tiba-tiba. Bukan karena tidak enak, tapi karena aku sering keliru membaca batas kenyangku sendiri. Lalu aku menoleh, dengan mata memelas, pada satu orang yang selalu ada di sisiku, temanku, "Si ikan sapu-sapu".
Awalnya ia sering mengomel, “Lain kali pikir dulu sebelum pesan!” tapi pada akhirnya, ia tetap mengambil alih piring itu, menyuapkannya perlahan sampai bersih. Dalam diamnya, aku belajar sesuatu: tak perlu hadiah mewah untuk menilai seberapa peduli seorang teman terhadapmu, sesederhana menghabiskan sisa makananmu agar tidak mubazir yang akan mengundang murka Tuhan.
Jika dipikir lebih dalam, kisah ini bukan cuma tentang makanan, tapi tentang relasi manusia. Tentang bagaimana seseorang bisa hadir sebagai pengingat, penyelamat, bahkan tempat kembali dalam kelelahan yang seringkali kita ciptakan sendiri. Kemampuan yang istimewa darinya adalah mampu menerima beban emosional dan fisik orang lain, bahkan yang tampak sepele seperti “menghabiskan makanan”. Dan ini bagian dari resilience relational; daya lenting dalam sebuah relasi sosial manusia.
Temanku tidak hanya menyelamatkanku dari rasa bersalah karena menyisakan makanan. Ia juga menyelamatkan nilai-nilai kecil yang kerap kita abaikan: menghargai makanan, menghindari pemborosan, dan melatih empati. Dalam aksinya yang sederhana, ia mengajarkan bahwa zero waste bukan hanya gerakan, tapi laku hidup. Bahwa menyelamatkan sisa makanan adalah bentuk cinta, baik pada sesama, maupun pada bumi.
Hari-hari berlalu, dan kebiasaan kami masih sama. Aku masih sering lapar mata. Ia masih sering kesal. Tapi di balik kesal itu, aku tahu, ada rasa peduli yang tak semua orang punya. Dan mungkin, dalam hidup ini, kita semua butuh satu ‘ikan sapu-sapu’. Seseorang yang tetap tinggal, bahkan saat kita terlalu kenyang untuk berpikir logis. Seseorang yang diam-diam mengajarkan kita, bahwa persahabatan sejati tak selalu tentang apa yang terucap, tapi yang dilakukan dengan aksi nyata, suap demi suap, sampai bersih tak bersisa.
Dan jika suatu hari nanti, aku bisa belajar menahan diri, memilih menu lebih bijak, dan menyisakan lebih sedikit, itu semua berkat dia. Teman yang tanpa sadar, telah menyapuku menuju versi diriku yang lebih sadar. Sesekali, mungkin aku bisa jadi ikan sapu-sapunya, semoga tidak pernah tejadi.
- Get link
- X
- Other Apps
Popular Posts
Ibadah Transaksional: Paradigma Religius yang Tumbuh dalam Bayang-Bayang Materialisme
- Get link
- X
- Other Apps
Jejak Politik Muslimah: Ketika Sejarah Bicara, Lalu Kita Membungkamnya
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment