Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Sang Ikan Sapu-Sapu, Pahlawan Zero Waste



Dalam setiap pertemanan, selalu ada satu tokoh yang tak pernah absen jadi pahlawan tanpa tanda jasa. Ia tak memakai jubah, tidak membawa senjata, atau atribut yang seringkali dikaitkan dengan "sosok pahlawan". Ia begitu sederhana, tampil apa adanya, tapi perannya begitu nyata, menyelamatkan makanan dari sisa yang sia-sia. Dalam kisah ini, ia bukan sekadar sahabat, tapi sosok yang cukup bisa mewakili julukan yang aku berikan kepadanya "ikan sapu-sapu". Bukan karena ia pandai berenang, tapi seringkaali hadir setiap kali aku lapar mata dan memesan terlalu banyak makanan. Ialah teman yang selalu menghabiskan apa yang tak sanggup aku selesaikan.

    Aku adalah anak perempuan yang doyan jajan, mudah tergoda menu baru, atau sekadar lapar mata ketika stres melanda, sesekali akibat fomo. Dalam daftar riwayat makanku, jumlah makanan yang aku pesan seringkali tak sebanding dengan kapasitas perutku. Setelah dua atau tiga suapan, rasa kenyang datang tiba-tiba. Bukan karena tidak enak, tapi karena aku sering keliru membaca batas kenyangku sendiri. Lalu aku menoleh, dengan mata memelas, pada satu orang yang selalu ada di sisiku, temanku, "Si ikan sapu-sapu".

    Awalnya ia sering mengomel, “Lain kali pikir dulu sebelum pesan!” tapi pada akhirnya, ia tetap mengambil alih piring itu, menyuapkannya perlahan sampai bersih. Dalam diamnya, aku belajar sesuatu: tak perlu hadiah mewah untuk menilai seberapa peduli seorang teman terhadapmu,  sesederhana menghabiskan sisa makananmu agar tidak mubazir yang akan mengundang murka Tuhan.

    Jika dipikir lebih dalam, kisah ini bukan cuma tentang makanan, tapi tentang relasi manusia. Tentang bagaimana seseorang bisa hadir sebagai pengingat, penyelamat, bahkan tempat kembali dalam kelelahan yang seringkali kita ciptakan sendiri. Kemampuan yang istimewa darinya adalah mampu menerima beban emosional dan fisik orang lain, bahkan yang tampak sepele seperti “menghabiskan makanan”. Dan ini bagian dari resilience relational; daya lenting dalam sebuah relasi sosial manusia.

    Temanku tidak hanya menyelamatkanku dari rasa bersalah karena menyisakan makanan. Ia juga menyelamatkan nilai-nilai kecil yang kerap kita abaikan: menghargai makanan, menghindari pemborosan, dan melatih empati. Dalam aksinya yang sederhana, ia mengajarkan bahwa zero waste bukan hanya gerakan, tapi laku hidup. Bahwa menyelamatkan sisa makanan adalah bentuk cinta, baik pada sesama, maupun pada bumi.

    Hari-hari berlalu, dan kebiasaan kami masih sama. Aku masih sering lapar mata. Ia masih sering kesal. Tapi di balik kesal itu, aku tahu, ada rasa peduli yang tak semua orang punya. Dan mungkin, dalam hidup ini, kita semua butuh satu ‘ikan sapu-sapu’. Seseorang yang tetap tinggal, bahkan saat kita terlalu kenyang untuk berpikir logis. Seseorang yang diam-diam mengajarkan kita, bahwa persahabatan sejati tak selalu tentang apa yang terucap, tapi yang dilakukan dengan aksi nyata, suap demi suap, sampai bersih tak bersisa.

    Dan jika suatu hari nanti, aku bisa belajar menahan diri, memilih menu lebih bijak, dan menyisakan lebih sedikit, itu semua berkat dia. Teman yang tanpa sadar, telah menyapuku menuju versi diriku yang lebih sadar. Sesekali, mungkin aku bisa jadi ikan sapu-sapunya, semoga tidak pernah tejadi. 

Comments