Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Kita Sama-sama Sibuk, tapi Kenapa Hanya Aku yang Dituduh?

 Aku sedang marah, bukan karena beban yang berat, bukan pula karena pekerjaan yang menumpuk, tapi karena dituduh. Dianggap hanya mengerjakan satu hal, padahal aku tengah berdiri di tengah badai tugas yang datang silih berganti. Sementara dia yang menuduh itu juga mengerjakan banyak hal, bahkan seringkali tertunda karenanya, tapi entah mengapa, hanya aku yang jadi sasaran.

Marahku bukan tanpa alasan. Aku tahu, mungkin ini yang dinamakan fundamental attribution error, kecenderungan untuk menyalahkan karakter seseorang atas tindakan mereka, tanpa mempertimbangkan situasi yang sebenarnya mereka alami. Dia melihat aku terlambat menyelesaikan satu hal, dan langsung menarik kesimpulan: aku tidak fokus. Padahal, seperti dirinya, aku juga sedang membagi waktu, menyusun prioritas, dan mencicil napas.

Mengapa kita mudah sekali menghakimi orang lain, dari pada memilih untuk lebih memahami? Mungkin karena kita cenderung terlalu fokus pada kesulitan kita sendiri. Kita pikir hanya kita yang berjuang. Hanya kita yang lelah, tapi itu tidak benar. Semua orang sedang mengangkat beban yang tidak terlihat.

Cognitive load theory mengatakan bahwa otak manusia punya kapasitas terbatas untuk memproses informasi dalam satu waktu. Ketika terlalu banyak hal menumpuk, kita gampang lupa. Gampang salah paham. Gampang curiga. Dan mungkin, gampang marah juga, tapi alih-alih saling menyalahkan, bukankah seharusnya kita saling menyadari: “Oh, kamu juga sedang berupaya, ya?”

Aku tidak ingin membandingkan lelahku dengan lelahmu, tapi aku ingin dimengerti sebagaimana aku berusaha mengerti. Aku ingin dianggap adil, bukan hanya dilihat dari satu sisi, karena seperti theory of mind bilang, kita semua perlu kemampuan untuk melihat dari sudut pandang orang lain, bahkan ketika kita sendiri sedang kewalahan.

Dalam hubungan, baik itu kerja, pertemanan, atau cinta, saling memahami itu bukan hadiah yang datang tiba-tiba. Ia perlu diperjuangkan, perlu dilatih, perlu dibiasakan, karena semua orang sedang sibuk. Semua orang sedang mencoba fokus dan tidak semua orang pandai menunjukkan usahanya.

Jadi, mungkin marahku ini bukan cuma tentang tuduhan itu, tapi tentang perasaan tidak dilihat, tidak dianggap sedang berjuang. Padahal, aku sedang sungguh-sungguh berjuang.

Comments