Search This Blog
Sebuah catatan tentang hidup yang patut diperjuangkan dan dirayakan oleh makhluk bernama "anak perempuan pertama"
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Kesempatan Terakhir
Dalam kerja profesional, relasi tak hanya dibangun dari target dan hasil. Ia tumbuh dari kepercayaan. Dari janji-janji kecil yang ditepati, dari konsistensi sikap, dari rasa tanggung jawab yang sama-sama dipikul, meski dalam senyap. Kita menyebutnya profesionalitas, tapi sesungguhnya ia jauh lebih manusiawi dari yang kita kira: karena ia menyangkut integritas.
Aku pernah memberimu kepercayaan itu.
Bukan karena aku tidak tahu risiko, tapi karena dalam tim, aku percaya bahwa saling menguatkan adalah jalan terbaik. Aku percaya, kita bisa tumbuh bersama: dalam kerja, dalam nilai, dalam visi.
Kau menerima kepercayaan itu dengan wajah yang tampak penuh semangat. Janjimu terdengar meyakinkan. Kata-katamu mengalir seolah kesungguhanmu tak perlu diragukan. Dan aku menaruh percaya, lalu aku membuka ruang.
Kemudian datang kesempatan pertama: sebuah proyek kecil, sederhana, tapi membutuhkan akurasi dan keseriusan. Kau abai. Tidak hadir tepat waktu. Tidak menyelesaikan bagiannmu sesuai komitmen. Tapi aku menutup mata. Kuhibur diriku: mungkin ada hal yang tak bisa kau kontrol. Semua orang bisa terpeleset, sesekali. Maka aku kembali mengulurkan tangan.
Kesempatan kedua datang. Aku masih bersikukuh untuk percaya, tapi kau mengulang pola yang sama menghilang saat pekerjaan menumpuk, menjanjikan revisi yang tak pernah kau selesaikan, dan muncul kembali saat semuanya telah disapu oleh orang lain dan api aku tetap memilih percaya. Kubiarkan diriku kembali percaya, sebab waktu itu, aku masih memandangmu sebagai bagian dari ruang yang sedang kita bangun bersama.
Dan akhirnya kesempatan ketiga yang sudah ku dekralasikan sebagai kesempatan terakhir, berlangsung seperti dua kesempatan yang sebelumnya: berantakan. Kau menjanjikan dukungan yang tak pernah datang, menawarkan tanggung jawab tapi menghilang saat dibutuhkan. Dan kali ini, aku tidak lagi mencari pembenaran atas ketidakhadiranmu. Tidak juga mencari-cari alasan untukmu. Sebab aku tahu, ini bukan lagi tentang kesalahan, tapi tentang pilihan. Kau memilih untuk tidak hadir. Kau memilih untuk tidak menepati janji. Kau memilih untuk menganggap kepercayaan sebagai hal remeh, yang bisa kau pinjam kapan pun dan kau kembalikan dalam bentuk yang tak utuh.
Sejak itu, aku mengubah caraku melihatmu.
Bukan dengan amarah, tapi dengan jarak.
Bukan dengan dendam, tapi dengan kesadaran.
Kita tetap bekerja di ruang yang sama. Tetap terhubung dalam proyek dan tanggung jawab yang serupa. Tapi antara kita kini terbentang batas yang tak terlihat: kepercayaan yang telah gugur dan tidak bisa tumbuh kembali.
Aku menjawab pesanmu, tapi tak lagi menyelipkan antusiasme.
Aku membalas emailmu, tapi tak lagi merasa ada semangat kolaborasi.
Aku menyimak presentasimu, tapi dalam hati tahu bahwa aku tak bisa lagi denganmu.
Dan yang paling sulit adalah menerima ini: bahwa tak semua rekan yang tampak bersemangat di awal, mampu menjaga semangat itu sampai akhir. Bahwa tak semua janji bisa ditepati, dan tak semua orang paham bahwa kepercayaan itu bukan milik siapa pun, ia dipinjam dan harus dijaga.
Kau telah menyia-nyiakan kesempatan terakhir.
Dan dalam dunia kerja yang serius, satu kesalahan bisa dimaklumi, dua bisa didiskusikan, tapi tiga adalah tanda bahwa hubungan profesional kita hanya bisa dilanjutkan dalam kerangka formalitas.
Bukan karena aku enggan memaafkan, tapi karena terlalu banyak memberi ruang pada orang yang tidak tahu cara bertanggung jawab adalah bentuk pengkhianatan pada diriku sendiri.
Kau mungkin mengira semuanya masih sama, tapi percayalah:
tidak ada yang benar-benar kembali seperti semula setelah kepercayaan rusak.
Bahkan jika kita masih saling menyapa, bahkan jika kita masih duduk di forum yang sama, ada sesuatu yang tak bisa dipulihkan, sebuah keyakinan yang patah, dan keputusan untuk berhenti mengulangi luka yang sama.
Kau masih ingat tentu, kalimat yang sering ku ulangi,
"Kau tidak akan pernah menemukan orang yang sama kedua kali, bahkan pada manusia yang sama".
- Get link
- X
- Other Apps
Popular Posts
Ibadah Transaksional: Paradigma Religius yang Tumbuh dalam Bayang-Bayang Materialisme
- Get link
- X
- Other Apps
Jejak Politik Muslimah: Ketika Sejarah Bicara, Lalu Kita Membungkamnya
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment