Skip to main content

Featured

Gema Sepuluh Tahun

 Aku tidak pernah benar-benar tahu di mana batas antara jatuh cinta dan sekadar mengagumi. Bagi orang lain, perasaan itu mungkin punya spektrum warna yang jelas—merah membara atau merah muda yang manis. Tapi di kadarku, rasa suka itu datang begitu saja, datar, tenang, lalu menetap tanpa banyak menuntut. Sampai aku membaca kalimat Søren Kierkegaard suatu sore di sudut toko buku: “Kalau kamu bisa melepas dan mengorbankan apa pun yang kamu cintai untuknya tanpa berharap dia akan memilihmu atau tidak, itu baru namanya cinta.” Mesti begitu pahitkah? Dulu, aku mengira cinta adalah perkara merelakan dengan lapang dada. Kurasa tidak akan ada yang separah itu—sampai orang itu datang dalam hidupku. Seseorang yang tidak pernah berjanji apa-apa, tapi berhasil menguasai kepalaku hingga sepuluh tahun lebih. Selama itu pula, tanpa sadar aku telah memasang standar yang tidak kasat mata. Di setiap ruang tunggu stasiun, di antara ramainya kafe beraroma kopi, hingga pada senyum asing yang singgah ses...

Jika Aku Mati Besok



Oleh: Neisa Hadhnah R.A.

Akhir-akhir ini aku suka berkebun. Menyentuh tanah, menanam benih, melihatnya perlahan tumbuh menjadi daun, bunga, atau buah. Ada kepuasan sederhana dalam proses itu menyuburkan bumi, memberi hidup bagi makhluk lain, merasakan siklus alam yang terus berjalan. Dan di tengah kegembiraan itu, aku sering berpikir: bagaimana jika suatu hari aku sendiri yang kembali ke tanah?

Jika besok aku mati, aku ingin tubuhku tidak lagi menjadi beban bagi bumi. Jangan carikan lahan untuk kubur, jangan takutkan kremasi yang mungkin menebar abu ke laut atau udara. Aku ingin segera kembali menjadi tanah. Biarkan aku melalui human composting, dikembalikan ke tanah sebagai pupuk organik, agar jasadku menjadi bagian dari kehidupan yang terus berlanjut. Dari tubuhku, semoga lahir rumput yang hijau, bunga yang mekar, pohon yang menaungi, dan tanaman yang memberi makan bagi makhluk lain.

Aku ingin kematianku menjadi berkah bagi bumi. Bukan sekadar berhenti bernapas, tapi memberi dalam bentuk yang sederhana dan alamiah. Mati dengan cara ini bukan akhir yang menakutkan; ia adalah permulaan baru bagi siklus kehidupan. Tubuh yang pernah bergerak, bernapas, dan memberi, tetap memberi setelah pergi.

Jangan tangisi aku dengan air mata yang membebani. Rayakan hidupku dengan menyadari bahwa setiap makhluk, termasuk aku, punya hak untuk kembali ke tanah tanpa merusak. Jika tubuhku bisa menyuburkan tanah, menjaga air dan udara tetap bersih, maka kematian ini menjadi doa yang tak terucap, yang mekar dalam setiap daun, setiap bunga, dan setiap tarikan nafas makhluk yang lahir setelahku.

Aku mati, tapi bumi tetap hidup. Aku pergi, tapi memberi tetap berjalan. Dengan human composting, aku tidak meninggalkan bekas yang menumpuk atau mencemari, melainkan warisan yang sederhana namun abadi: kesuburan, kehidupan, dan keberlanjutan. Seperti kebunku yang kini tumbuh dari tanah yang pernah basah oleh hujan, jasadku pun ingin segera kembali menjadi tanah, menjadi bagian dari alam yang memberi, terus memberi, tanpa henti.

Comments

Popular Posts