Skip to main content

Featured

Oposisi Lillahi Ta'ala

Kamu bayangin deh lagi nonton pertandingan sepak bola di mana seluruh orang di lapangan, mulai dari pemain kedua kesebelasan, wasit tengah, hakim garis, hingga penjaga gawang mengenakan jersey dari klub yang sama? Tidak ada tekel keras, tidak ada protes, dan semua pemain dengan riang gembira menendang bola ke gawang yang sama. Kalau kamu terlanjur membeli tiket untuk menonton laga itu, dijamin kamu akan langsung minta uang pengembalian sambil ngedumel karena itu bukan pertandingan olahraga, melainkan sirkus keliling yang kekurangan modal. Begitulah kira-kira gambaran ideal demokrasi jika dibandingkan dengan realitas politik kita hari ini. Di dalam buku teks kuliah ilmu politik atau hukum tata negara, oposisi digambarkan sebagai pahlawan berjas rapi. Tugas mereka mulia sekali, yaitu menjadi rem pengaman agar kekuasaan presiden tidak kebablasan menjadi raja kecil, merumuskan tandingan kebijakan yang masuk akal, sekaligus menjadi corong bagi rakyat kecil yang suaranya sering kali diabaik...

Jika Aku Mati Besok



Oleh: Neisa Hadhnah R.A.

Akhir-akhir ini aku suka berkebun. Menyentuh tanah, menanam benih, melihatnya perlahan tumbuh menjadi daun, bunga, atau buah. Ada kepuasan sederhana dalam proses itu menyuburkan bumi, memberi hidup bagi makhluk lain, merasakan siklus alam yang terus berjalan. Dan di tengah kegembiraan itu, aku sering berpikir: bagaimana jika suatu hari aku sendiri yang kembali ke tanah?

Jika besok aku mati, aku ingin tubuhku tidak lagi menjadi beban bagi bumi. Jangan carikan lahan untuk kubur, jangan takutkan kremasi yang mungkin menebar abu ke laut atau udara. Aku ingin segera kembali menjadi tanah. Biarkan aku melalui human composting, dikembalikan ke tanah sebagai pupuk organik, agar jasadku menjadi bagian dari kehidupan yang terus berlanjut. Dari tubuhku, semoga lahir rumput yang hijau, bunga yang mekar, pohon yang menaungi, dan tanaman yang memberi makan bagi makhluk lain.

Aku ingin kematianku menjadi berkah bagi bumi. Bukan sekadar berhenti bernapas, tapi memberi dalam bentuk yang sederhana dan alamiah. Mati dengan cara ini bukan akhir yang menakutkan; ia adalah permulaan baru bagi siklus kehidupan. Tubuh yang pernah bergerak, bernapas, dan memberi, tetap memberi setelah pergi.

Jangan tangisi aku dengan air mata yang membebani. Rayakan hidupku dengan menyadari bahwa setiap makhluk, termasuk aku, punya hak untuk kembali ke tanah tanpa merusak. Jika tubuhku bisa menyuburkan tanah, menjaga air dan udara tetap bersih, maka kematian ini menjadi doa yang tak terucap, yang mekar dalam setiap daun, setiap bunga, dan setiap tarikan nafas makhluk yang lahir setelahku.

Aku mati, tapi bumi tetap hidup. Aku pergi, tapi memberi tetap berjalan. Dengan human composting, aku tidak meninggalkan bekas yang menumpuk atau mencemari, melainkan warisan yang sederhana namun abadi: kesuburan, kehidupan, dan keberlanjutan. Seperti kebunku yang kini tumbuh dari tanah yang pernah basah oleh hujan, jasadku pun ingin segera kembali menjadi tanah, menjadi bagian dari alam yang memberi, terus memberi, tanpa henti.

Comments