Skip to main content

Featured

Jatuh Cinta dan Hal-Hal yang Menghidupkanku

 "Pernahkah kau jatuh cinta?" Pertanyaan itu datang mengejutkan, hinggap di telingaku seperti kepakan sayap burung malam yang mencari tempat berteduh. Aku tertegun sejenak, menatap sejauh mata memandang, menembus cakrawala ingatan yang sesungguhnya ingin kulupakan. Tentu. Aku pernah jatuh cinta. Sangat dalam, dalam sekali. Sebuah rasa yang begitu menghunjam, menetap dalam waktu yang teramat panjang, hingga ia menjelma menjadi satu-satunya poros tempat duniaku berputar. Namun, tahukah kau apa harganya? Cinta yang seagung itu ternyata meminta bayaran yang teramat mahal. Ia merenggut fokusku, mengikis ketenangan jiwaku, dan yang paling menyakitkan ia membuatku kehilangan hafalan-hafalan yang pernah kujaga dengan seluruh detak nadiku. Cinta itu, pada akhirnya, menyisakan ruang hampa yang luluh lantak. Sejak badai itu berlalu, aku tak bisa lagi. Pintu itu telah tertutup, atau mungkin sengaja kukunci rapat-rapat. Rasanya, romansa dan cinta kasih antarmanusia memang bukan lagi bagia...

Jika Aku Mati Besok



Oleh: Neisa Hadhnah R.A.

Akhir-akhir ini aku suka berkebun. Menyentuh tanah, menanam benih, melihatnya perlahan tumbuh menjadi daun, bunga, atau buah. Ada kepuasan sederhana dalam proses itu menyuburkan bumi, memberi hidup bagi makhluk lain, merasakan siklus alam yang terus berjalan. Dan di tengah kegembiraan itu, aku sering berpikir: bagaimana jika suatu hari aku sendiri yang kembali ke tanah?

Jika besok aku mati, aku ingin tubuhku tidak lagi menjadi beban bagi bumi. Jangan carikan lahan untuk kubur, jangan takutkan kremasi yang mungkin menebar abu ke laut atau udara. Aku ingin segera kembali menjadi tanah. Biarkan aku melalui human composting, dikembalikan ke tanah sebagai pupuk organik, agar jasadku menjadi bagian dari kehidupan yang terus berlanjut. Dari tubuhku, semoga lahir rumput yang hijau, bunga yang mekar, pohon yang menaungi, dan tanaman yang memberi makan bagi makhluk lain.

Aku ingin kematianku menjadi berkah bagi bumi. Bukan sekadar berhenti bernapas, tapi memberi dalam bentuk yang sederhana dan alamiah. Mati dengan cara ini bukan akhir yang menakutkan; ia adalah permulaan baru bagi siklus kehidupan. Tubuh yang pernah bergerak, bernapas, dan memberi, tetap memberi setelah pergi.

Jangan tangisi aku dengan air mata yang membebani. Rayakan hidupku dengan menyadari bahwa setiap makhluk, termasuk aku, punya hak untuk kembali ke tanah tanpa merusak. Jika tubuhku bisa menyuburkan tanah, menjaga air dan udara tetap bersih, maka kematian ini menjadi doa yang tak terucap, yang mekar dalam setiap daun, setiap bunga, dan setiap tarikan nafas makhluk yang lahir setelahku.

Aku mati, tapi bumi tetap hidup. Aku pergi, tapi memberi tetap berjalan. Dengan human composting, aku tidak meninggalkan bekas yang menumpuk atau mencemari, melainkan warisan yang sederhana namun abadi: kesuburan, kehidupan, dan keberlanjutan. Seperti kebunku yang kini tumbuh dari tanah yang pernah basah oleh hujan, jasadku pun ingin segera kembali menjadi tanah, menjadi bagian dari alam yang memberi, terus memberi, tanpa henti.

Comments