Search This Blog
Sebuah catatan tentang hidup yang patut diperjuangkan dan dirayakan oleh makhluk bernama "anak perempuan pertama"
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Obrolan Dini Hari
Malam itu kota seperti lupa caranya bicara.
Lampu-lampu jalan redup, udara dingin tipis menusuk kulit, dan jalanan terasa seperti halaman kosong dalam buku yang terbuka di tengah. Kami berjalan pelan dari gedung pertunjukan, membiarkan malam menyerap sisa suara musik dan diskusi panjang yang belum sepenuhnya selesai.
“Indah ya,” gumamnya.
“Banget,” jawabku. “Bukan cuma pertunjukannya, tapi semua yang mengikutinya.”
Kami baru saja menyaksikan sebuah karya seni yang bukan hanya menghibur, tapi menggugah. Membuat kami duduk lama setelahnya hanya untuk membahas ulang apa yang belum sempat dibicarakan saat semua orang pulang.
Jam dua dini hari, kami tiba di hotel. Tapi tubuh kami belum siap untuk tidur. Kami duduk di sofa panjang dekat lobi, membiarkan jam dinding berdetak pelan sementara hati kami masih menari di antara makna dan pertanyaan.
Dia menatap ke arah jendela besar yang memperlihatkan bayangan lampu jalanan.
“Tadi siang, pembicara itu, materinya keren ya. Tapi aku ngerasa kayak ada yang kurang nyampe.”
Aku mengangguk pelan. “Bukan kontennya. Mungkin caranya.”
Dia berpaling padaku. “Kalau kamu yang bawain materi itu, kamu bakal mulai dari mana?”
Aku sempat diam. Lalu entah kenapa, aku malah bertanya balik.
“Kamu pernah nggak mikir, kenapa nama Nabi kita itu Muhammad? Kenapa bukan nama lain yang juga bagus?”
Dia tertawa kecil. “Padahal dalam bahasa Arab, nama-nama indah itu banyak banget, ya.”
Aku ikut tersenyum. “Nah, justru karena banyak itu, pilihan Allah menjadi sangat berarti.”
Aku mulai bercerita, tidak dengan nada mengajar, tapi dengan perasaan yang mengalir seolah-olah aku sedang berbagi rahasia yang baru kupahami tadi pagi.
“Nama Muhammad, dan dua nama lain, Hamid dan Ahmad semuanya berasal dari akar kata yang sama: ḥamida, artinya memuji, tapi tiap makna katanya punya ruh yang berbeda.”
Dia mulai memperhatikan. Suaranya pelan, “Apa bedanya?”
Aku melanjutkan, menatap langit-langit lobi yang remang.
“Hamid, itu bentuk fa‘īl. Dia menggambarkan sifat tetap. Orang yang terpuji, karena karakternya memang baik, konsisten. Sering dipakai sebagai sifat Allah, tapi juga bisa pada manusia yang akhlaknya kuat.”
Dia mengangguk pelan.
“Lalu Ahmad, bentuknya af‘al. Itu bentuk superlatif. Artinya ‘yang paling terpuji’ atau ‘yang paling banyak memuji.’ Nama ini menggambarkan posisi Nabi sebelum kenabiannya, atau saat disebut dalam Injil sebagai kabar tentang utusan terakhir. Ahmad adalah orang yang paling layak memuji dan dipuji.”
Ia terdiam, seperti sedang menyusun potongan-potongan makna dalam kepalanya.
“Nah, yang paling dalam bagiku,” aku melanjutkan, “adalah Muhammad. Polanya mufa‘‘al. Artinya: yang sangat dipuji, yang terus-menerus dipuji. Bukan cuma karena beliau baik, tapi karena seluruh hidupnya layak disebut berkali-kali. Dipuji tak habis-habis. Bukan pujian kosong, tapi hasil dari akhlak yang begitu paripurna. Dari rahmat yang dirasakan manusia, malaikat, bahkan seluruh semesta.”
Aku menunduk sebentar, sebelum bertanya dengan nada lebih pelan, nyaris seperti untuk diriku sendiri.
“Kalau kita memahami makna nama Muhammad sedalam ini, lalu coba kita berkaca pada diri. Layakkah kita menyebut diri sebagai umatnya?”
Dia tak menjawab. Tapi diamnya terasa berat.
“Pernah nggak kita benar-benar bertanya, apa tanggung jawab kita menyandang gelar itu? Apa cukup menyebut namanya lima kali sehari, tapi tak meneladani satu pun jejaknya? Apa cukup bershalawat, tapi tak menebar rahmat?”
Aku menatap lantai yang dingin, seolah jawaban bisa muncul dari keramik.
“Jangan-jangan, selama ini kita terlalu ringan menyebut nama itu, padahal Allah sendiri memilih nama itu dengan begitu teliti. Dengan misi. Dengan cinta.”
Dia menunduk. Lama.
Lalu dengan suara yang sangat pelan, seperti gumaman, ia berkata,
“Kadang kita lebih sibuk menghafal sejarahnya, daripada meneladani hidupnya.”
Aku menatapnya, lalu mengangguk pelan. “Mungkin itulah kenapa penyampaian itu penting. Bukan cuma bicara apa yang benar, tapi bagaimana caranya sampai ke hati.”
Dia tertawa tipis, menatapku seperti baru membaca buku bagus dan belum siap menutup halamannya.
“Gimana kalau kita bikin sesuatu, Ca, tapi yang beda, yang bukan sekadar belajar biasa, sharing santai kayak gini, ngobrol aja gitu. Tapi ngobrol. Belajar Islam pake rasa, bukan cuma dalil.”
Aku tersenyum. “Kayak gini?”
“Iya, kayak gini.”
Waktu seolah mematung. Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul empat lewat sepuluh. Udara dini hari kian jernih. Kami pun beranjak menuju kamar masing-masing. Tapi, otak kami belum benar-benar bisa beristirahat . Masih ada ruang yang terbuk yang belum selesai terisi.
Setelah Subuh, kami tidur sebentar. Lalu pukul tujuh, keluar mencari sarapan sambil berjalan di sekitar hotel yang tenang. Udara pagi menusuk lembut, dan obrolan dini hari tadi masih menggantung di udara seperti kabut tipis yang enggan pergi.
Langkah kami mungkin lelah. Tapi hati kami tetap terjaga.
Dan di antara jalan pagi itu, aku tahu satu hal:
Bahwa nilai dari sesuatu tak hanya ada pada isinya,
tapi pada cara ia dikemas, disampaikan, dan dihidupkan.
Bahwa banyak orang sebenarnya tak ingin menolak kebenaran,
mereka hanya belum menemukan bahasa yang bisa mengetuk jiwanya.
Dan bahwa, sesederhana nama Muhammad,
yang setiap harinya kita sebut,
harusnya bukan hanya tinggal di bibir
tapi hidup dalam cara kita memperlakukan orang lain.
Dalam konsistensi kebaikan. Dalam pantulan akhlak yang mulia.
Malam itu mungkin sudah lewat.
Tapi obrolan dini hari itu, belum selesai dalam hidupku.
- Get link
- X
- Other Apps
Popular Posts
Ibadah Transaksional: Paradigma Religius yang Tumbuh dalam Bayang-Bayang Materialisme
- Get link
- X
- Other Apps
Jejak Politik Muslimah: Ketika Sejarah Bicara, Lalu Kita Membungkamnya
- Get link
- X
- Other Apps
.png)
Comments
Post a Comment