Search This Blog
Sebuah catatan tentang hidup yang patut diperjuangkan dan dirayakan oleh makhluk bernama "anak perempuan pertama"
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Keimanan Oportunis
Ketika Kita Hanya Taat Saat Untung, dan Lalai Saat Diminta Bertugas
Setiap kali kilat menyinari mereka, mereka berjalan di bawah cahayanya. Tapi ketika gelap datang, mereka berhenti. Demikian firman Allah dalam QS Al-Baqarah: 20.
يَكَادُ ٱلْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَـٰرَهُمْ ۖ كُلَّمَآ أَضَآءَ لَهُم مَّشَوْا۟ فِيهِ وَإِذَآ أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا۟ ۚ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَـٰرِهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ ٢٠
Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Sepintas ayat ini tampak sederhana, tapi di dalamnya tersimpan gambaran menyakitkan tentang iman yang tidak berakar. Tentang manusia yang hanya bisa bergerak ketika terang, dan kehilangan arah ketika cahaya itu padam.
Dan sungguh, ayat ini terasa begitu dekat hari ini, di tengah zaman di mana banyak orang merasa religius hanya ketika hidup berjalan sesuai rencana. Ketika semua mudah, mereka menyebut Allah dengan semangat. Namun ketika doa tak juga dikabulkan, ketika kehilangan menampar tanpa peringatan, dan langit tak menjawab, mereka berhenti. Ragu. Pelan-pelan menjauh. Bukan karena tak tahu Tuhan ada, tapi karena kecewa bahwa jalan-Nya tak sama dengan kehendak mereka.
Kekecewaan itu muncul karena sejak awal, kita salah memahami peran kita. Kita pikir menjadi hamba berarti dijaga dari kesulitan. Kita kira cinta Allah akan selalu hadir dalam bentuk hadiah. Maka saat hidup tiba-tiba gelap, kita kehilangan arah. Karena nyatanya, banyak dari kita tidak sedang mencintai Tuhan, melainkan hanya sedang menukar ketaatan dengan hasil.
Konsep ini tidak asing dalam psikologi agama. Gordon Allport, seorang psikolog terkenal, pernah membedakan dua tipe orientasi beragama: intrinsic dan extrinsic. Orang yang beragama secara intrinsik akan tetap taat meski diuji, karena mereka meyakini agama sebagai nilai hidup. Sedangkan orang dengan orientasi ekstrinsik beragama karena manfaat. Mereka mencari ketenangan, status sosial, atau kemudahan hidup. Ketika tidak ada keuntungan yang datang, mereka mulai meragukan seluruh pondasi imannya.
Dan sayangnya, banyak di antara kita ada di sisi kedua itu.
Studi lanjutan oleh Koenig dalam Handbook of Religion and Health menunjukkan bahwa mereka yang menjadikan agama sebagai alat pencapai tujuan duniawi lebih rentan mengalami depresi spiritual saat diuji. Karena agama mereka bukan akar, tapi selimut. Ditarik saat dingin, dilipat saat panas. Dipakai hanya untuk kenyamanan, bukan komitmen.
Lalu, kita menyalahkan Tuhan saat kenyamanan itu diambil. Kita berkata, “Mengapa aku sudah taat, tapi hidupku tetap sulit?” Padahal, kita lupa: Tuhan tidak menjanjikan hidup tanpa badai. Ia hanya menjanjikan akan tetap bersama kita melewati badai itu—kalau kita mau tetap percaya.
Dan di sinilah kita sering keliru memahami cahaya. Kita mengira bahwa terang itu adalah bentuk kasih sayang, dan gelap adalah bentuk kemarahan. Tapi bisa jadi sebaliknya. Cahaya yang menyilaukan dalam ayat ini bukan hanya pertolongan. Ia bisa jadi adalah teguran. Sebuah sentakan ilahi, agar kita tersadar dari kelalaian. Karena sebelumnya, kita terlalu nyaman dalam zona abu-abu. Tidak benar-benar jauh dari agama, tapi juga tidak cukup sadar akan tugas sebagai hamba.
Kita baru sadar ketika petir menyambar. Baru kembali saat hidup hancur. Baru sujud saat sakit datang. Padahal sebelum itu, mungkin Allah telah lama mempercayakan kita untuk jalan sendiri, tanpa perlu terus diingatkan. Tapi kita lalai. Kita tak bergerak. Maka datanglah kilat. Bukan untuk menunjukkan kasih, tapi untuk membangunkan: "Kau sedang tidak menjalankan amanahmu."
Dan parahnya, kita seringkali hanya bergerak saat itu. Saat hidup hancur. Saat cinta gagal. Saat rekening kosong. Kita bergerak karena tak punya pilihan. Bukan karena sadar bahwa tugas menjadi hamba tidak pernah selesai, bahkan ketika keadaan sedang tenang sekalipun.
Tugas kita bukan menunggu cahaya untuk bertindak. Tapi tetap berjalan meski gelap. Karena jika keimanan hanya hadir ketika semuanya berjalan baik, maka itu bukan iman. Itu investasi. Itu oportunisme.
Kita terlalu terbiasa dengan Tuhan yang lembut, tapi tidak siap dengan Tuhan yang menuntut. Padahal hakikatnya, Tuhan tidak menuntut kesempurnaan. Ia hanya ingin kesetiaan. Saat terang menyala, itu bukan kemewahan. Itu panggilan. Peringatan. Bukti bahwa ada tugas yang harus dijalankan. Dan saat gelap datang, itu bukan berarti Dia tak peduli. Tapi mungkin, Dia sedang menunggu: apakah kita tetap melangkah meski tak lagi disorot?
Jangan-jangan, kita bukan hamba yang setia. Tapi hanya pengikut cuaca. Kita hanya bisa taat saat hati tenang, hanya bisa sujud saat hasil sesuai. Tapi saat kenyataan datang tak seperti doa, kita merasa ditinggalkan. Padahal, mungkin kita hanya sedang diuji: apakah akan tetap percaya saat tidak ada cahaya?
Dan jika hari ini kamu sedang merasa gelap, jangan langsung menyangka bahwa Allah sedang diam. Bisa jadi, Dia sedang percaya padamu. Bahwa kamu cukup tahu arah, cukup paham tugasmu, cukup sadar untuk bertindak meski tak lagi digerakkan oleh petir. Tapi kalau kamu malah berhenti, justru di situlah bahayanya. Karena tidak semua kilat akan datang dua kali. Tidak semua teguran akan diulang. Tidak semua kesadaran akan diberi kesempatan lagi.
Karena hamba sejati adalah mereka yang tetap melangkah walau tak ada yang terlihat. Yang tidak menunggu ditegur baru berubah. Yang tak menunggu gelap dulu baru berdoa. Karena bagi mereka, Tuhan bukan hanya cahaya. Tapi juga arah.
Dan jika hari ini hidup tidak memberikan apa-apa, tapi kamu tetap ingin berjalan, tetap ingin sujud, tetap ingin percaya meski tanpa alasan duniawi maka mungkin, inilah saat imanmu paling jujur. Karena untuk pertama kalinya, kamu tidak berharap apa-apa. Kamu hanya ingin tetap menjadi hamba.
- Get link
- X
- Other Apps
Popular Posts
Ibadah Transaksional: Paradigma Religius yang Tumbuh dalam Bayang-Bayang Materialisme
- Get link
- X
- Other Apps
Jejak Politik Muslimah: Ketika Sejarah Bicara, Lalu Kita Membungkamnya
- Get link
- X
- Other Apps
.png)
Comments
Post a Comment