Search This Blog
Sebuah catatan tentang hidup yang patut diperjuangkan dan dirayakan oleh makhluk bernama "anak perempuan pertama"
Featured
- Get link
- X
- Other Apps
Bagaimana Mungkin Aku Tak Mencintaimu?
Kau hadir di antara waktu yang nyaris kututup untuk segala kemungkinannya. Aku sedang tidak membuka pintu, bahkan berencana menutup jendela sepenuhnya, lalu kau dengan tiba-tiba datang, tidak dengan gegap gempita atau ditemani bunga di tangan, berbekal tenang, seolah tak pernah berniat menaklukkan, hanya ingin sekadar mengenal.
Aku yang biasanya membuat daftar panjang kriteria, layaknya HRD perfeksionis yang terlalu sering dikecewakan kandidat hidup yang datang silih berganti, mendadak terpaku saat mengenalmu lebih jauh. Rasanya seperti membaca CV yang menjawab semua checklist di kepalaku, menjawab sedikit-banyak kesemrautan di relung jiwa.
Cara berpikirmu dewasa, logikamu tajam, kau tidak reaktif, tapi begitu responsif. Kau tahu caranya mendengar, bukan hanya menunggu giliran bicara. Kau bisa tertawa atas hal-hal receh, tapi juga tetap tenang di tengah hal-hal genting. Kau memegang kuat arahmu, tapi tidak berteman dengan kaku, kau juga mampu memimpin, tapi tidak mendominasi dan kau menghormati dengan cara terbaik yang pernah kurasakan bukan hanya menyukai.
Dan aku jatuh.
Bukan karena aku kehilangan logika,
tapi justru karena akalku bekerja.
Logika yang selama ini menjadi pagar, justru membuka pintu. Kau masuk dalam hampir semua daftar yang pernah kubuat sejak lama. Aku mencintaimu bukan karena kekosongan, tapi karena isi: isi dari prinsip, cara pandang, dan sikapmu yang nyaris ideal menurutku.
Namun, satu hal tak kunjung bisa kuabaikan:
Kita tidak berdiri di atas fondasi yang sama tentang perjuangan dan arah hidup.
Banyak orang bilang, cinta itu urusan hati, tapi bagiku, cinta juga soal akal, karena benar hatiku bisa terbuai, tapi akalku harus tetap sepenuhnya sadar, terjaga sepenuhnya, mengurusi hal paling penting dalam hidup seorang perempuan: "ke mana arah kapal ini berlayar?"
Aku tidak sedang bicara tentang seberapa sering kau ke masjid, atau seberapa hafal engkau dengan dalil dan hadis. Bukan. Ini bukan perkara ritual, tapi soal ruhul jihad: jalan perjuangan panjang, soal yang paling mengakar, mencengkram isi kepala manusia. Soal pondasi dalam melihat hidup dan mati, serta apa makna menjadi hamba yang sesungguhnya.
Aku tumbuh dalam ajaran bahwa hidup ini bukan sekadar soal bahagia, tapi juga tentang benar. Bahwa cinta tak cukup hanya membuat nyaman, tapi harus pula menuntun. Bahwa tujuan hidup bukan sekadar saling memiliki, tapi bersama-sama kembali kepada Allah dengan selamat.
Psikologi bilang, cinta itu buta, karena saat jatuh cinta, otak dibanjiri hormon dopamin dan serotonin yang membuat kita mengaktifkan banyak euforia di kepala, menekan kerja prefrontal cortex, bagian otak yang bertanggung jawab atas penilaian kritis dan logis.
Tapi, tiba-tiba dan sekelebat aku teringat, Qur'an mengajarkanku sesuatu yang lain:
"Afala ta’qilun?"
"Tidakkah kalian berpikir?"
Itu pertanyaan yang berulang kali Allah ajukan kepada manusia, sebagai tanda bahwa cinta pun harus melewati saringan akal.
Dan di titik itulah, aku mulai bertanya:
"Maukah kamu berjalan bersamaku ke arah yang sama, pada jalan perjuangan yang sama, dengan makna penghambaan yang sama pula?"
Dan jawabanmu adalah keheningan.
Bukan penolakan, tapi juga bukan persetujuan.
Diam yang panjang, seperti jalan yang tak pernah jadi jembatan.
Aku tahu, aku bisa hidup denganmu dalam damai. Kita bisa saling menghargai perbedaan, tapi aku pun tahu, jalan hidup bukan sekadar soal hari ini. Ada kematian yang menunggu, ada hisab yang pasti, ada tanggung jawab bersama yang akan ditanya kelak di hadapan Ilahi.
Dan sebagai perempuan yang mencintai dengan logika,
aku tidak bisa menutup mata bahwa cinta yang tidak bertumbuh dalam satu arah perjuangan yang sama,
akan menjadi perjalanan panjang yang melelahkan.
Cinta memang bisa membuatku nyaman, tapi terlalu rapuh untuk dijadikan sandaran, dan arah perjuangan adalah rumah tempat kita berpulang. Sayangnya, itu hanya untukku.
Dan aku tak mau membangun rumah dengan komposisi pondasi paling rapuh.
Aku tak ingin anak-anakku nanti tumbuh dalam dua arah nilai perjuangan.
Aku tak ingin membujuk hatiku setiap malam untuk menerima perbedaan yang begitu mendasar.
Karena pada akhirnya, aku akan berbohong pada diriku sendiri.
Aku tidak membencimu. Sama sekali tidak.
Kau tetap lelaki baik di mataku.
Tapi mungkin bukan takdirku.
Maka, jika suatu hari nanti aku tak lagi hadir di percakapanmu,
aku tak lagi menanggapi canda atau kekhawatiranmu,
ketahuilah, itu bukan karena aku berhenti mencintaimu,
tapi, karena aku menyadari hal paling dasar: bahwa dua arah perjuangan tak mungkin bersatu.
Dan dalam cinta yang dilandasi kesadaran penghambaan,
aku belajar bahwa melepaskan bisa lebih tulus daripada memiliki.
Bahwa aku tak harus memaksamu berubah, apalagi memaksa takdir.
Karena cinta yang tumbuh dari kedalaman berpikir, tahu kapan harus dicukupkan,
sebelum terlalu jauh meninggalkan arah pulang yang sesungguhnya.
Kau lelaki baik, tapi bukan takdirku.
Dan aku tak berhak memaksa.
- Get link
- X
- Other Apps
Popular Posts
Ibadah Transaksional: Paradigma Religius yang Tumbuh dalam Bayang-Bayang Materialisme
- Get link
- X
- Other Apps
Jejak Politik Muslimah: Ketika Sejarah Bicara, Lalu Kita Membungkamnya
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment