Skip to main content

Featured

Tembok

  Di hadapanmu, aku sering kali berubah menjadi arsitek yang tekun; membangun benteng-benteng tinggi dari batu bata ego dan semen kemandirian yang keras. Sebagai anak pertama, mandiri bukan lagi sekadar pilihan, melainkan napas. Aku terbiasa menjadi tiang penyangga yang pantang goyah, menjadi manusia yang "tidak apa-apa" saat dunia sedang runtuh. Menolak bantuan adalah caraku menjaga harga diri, seolah meminta tolong adalah pengakuan akan kekalahan. Namun, di matamu, semua pertahanan itu seolah kehilangan gravitasinya. Marahku, sehebat apa pun ledakannya, ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang amat singkat. Aku bisa bersumpah untuk diam seribu bahasa, tapi paling lama hanya bertahan tiga hari — paling mentok seminggu jika aku sedang sangat keras kepala. Begitu wajahmu muncul, kaku di pundakku meluruh, mencair menjadi aliran air yang tenang. Tawa yang sempat kusandera kembali pulang ke rumahnya, dan sifat usil serta manjaku yang biasanya terkunci rapat, tiba-tiba keluar ta...

Aku Berhutang Penjelasan Kepadamu




Oleh: Neisa Hadhnah R.A.

Aku berhutang penjelasan kepadamu.
Bukan karena kamu menuntut,
tapi karena diam saja rasanya tak pantas di hadapan kesungguhanmu.

Kamu datang dengan cara yang baik, dengan hati yang lurus, dan niat yang tak main-main.
Sikapmu sopan, ucapmu terjaga, caramu memperlakukan rasa begitu terhormat.
Dan itu semua... aku hargai, sepenuh jiwa.

Tapi bagaimana mungkin aku bisa menerima,
sementara hatiku tetap sunyi bahkan setelah kupanjatkan doa-doa panjang
memohon agar jika memang kaulah takdirku,
maka hatiku bergetar, jiwaku tenang, dan langit memberi isyarat yang tak bisa aku dustakan?

Namun tak ada getaran itu.
Tak ada bisik lembut dari dalam dada yang mengarah kepadamu.
Hanya diam. Hanya sunyi.
Dan sunyi yang bertahan dalam istikharah, seringkali adalah isyarat juga
bahwa mungkin ini bukan jalan yang harus aku pilih.

Aku telah mengetuk langit,
berharap Allah menyentuh hatiku dengan cahaya yakin jika memang kamu adalah rumahnya.
Tapi bahkan setelah seluruh malam kulewati dengan nama-Nya,
aku tak menemukan kemantapan untuk melangkah bersamamu.

Bukan karena kamu tak baik.
Justru karena kamu begitu baik, aku tak ingin mencintaimu dengan ragu.
Tak ingin bersanding dalam ikatan yang dibangun dari rasa sungkan, bukan keyakinan.
Aku ingin engkau dicintai sepenuh hati oleh seseorang yang ketika menyebut namamu dalam doa, jiwanya langsung teduh.

Kamu pantas mendapatkan itu.
Dan aku... bukan orangnya.

Maka izinkan aku menolakmu,
dengan segala ketulusan yang aku punya,
dan dengan doa-doa paling rahasia yang akan tetap kupanjatkan untuk kebaikanmu.

Terima kasih telah datang sejauh ini.
Terima kasih telah melihatku sebagai seseorang yang layak diperjuangkan.
Tapi cinta bukan tentang siapa yang paling keras mengetuk,
melainkan siapa yang Allah pilihkan untuk membuka pintu.

Dan kali ini,
pintuku tak terbuka untukmu bukan karena aku menutupnya,
melainkan karena hatiku tak pernah diberi kunci untuk itu.

Semoga engkau bertemu dengan jiwa yang memang ditakdirkan untuk menyambutmu,
tanpa ragu, tanpa perlu kamu menunggu.
Karena cinta yang paling indah, adalah cinta yang ditemukan setelah hati benar-benar tenang.

Comments