Skip to main content

Featured

Gema Sepuluh Tahun

 Aku tidak pernah benar-benar tahu di mana batas antara jatuh cinta dan sekadar mengagumi. Bagi orang lain, perasaan itu mungkin punya spektrum warna yang jelas—merah membara atau merah muda yang manis. Tapi di kadarku, rasa suka itu datang begitu saja, datar, tenang, lalu menetap tanpa banyak menuntut. Sampai aku membaca kalimat Søren Kierkegaard suatu sore di sudut toko buku: “Kalau kamu bisa melepas dan mengorbankan apa pun yang kamu cintai untuknya tanpa berharap dia akan memilihmu atau tidak, itu baru namanya cinta.” Mesti begitu pahitkah? Dulu, aku mengira cinta adalah perkara merelakan dengan lapang dada. Kurasa tidak akan ada yang separah itu—sampai orang itu datang dalam hidupku. Seseorang yang tidak pernah berjanji apa-apa, tapi berhasil menguasai kepalaku hingga sepuluh tahun lebih. Selama itu pula, tanpa sadar aku telah memasang standar yang tidak kasat mata. Di setiap ruang tunggu stasiun, di antara ramainya kafe beraroma kopi, hingga pada senyum asing yang singgah ses...

Aku Berhutang Penjelasan Kepadamu




Oleh: Neisa Hadhnah R.A.

Aku berhutang penjelasan kepadamu.
Bukan karena kamu menuntut,
tapi karena diam saja rasanya tak pantas di hadapan kesungguhanmu.

Kamu datang dengan cara yang baik, dengan hati yang lurus, dan niat yang tak main-main.
Sikapmu sopan, ucapmu terjaga, caramu memperlakukan rasa begitu terhormat.
Dan itu semua... aku hargai, sepenuh jiwa.

Tapi bagaimana mungkin aku bisa menerima,
sementara hatiku tetap sunyi bahkan setelah kupanjatkan doa-doa panjang
memohon agar jika memang kaulah takdirku,
maka hatiku bergetar, jiwaku tenang, dan langit memberi isyarat yang tak bisa aku dustakan?

Namun tak ada getaran itu.
Tak ada bisik lembut dari dalam dada yang mengarah kepadamu.
Hanya diam. Hanya sunyi.
Dan sunyi yang bertahan dalam istikharah, seringkali adalah isyarat juga
bahwa mungkin ini bukan jalan yang harus aku pilih.

Aku telah mengetuk langit,
berharap Allah menyentuh hatiku dengan cahaya yakin jika memang kamu adalah rumahnya.
Tapi bahkan setelah seluruh malam kulewati dengan nama-Nya,
aku tak menemukan kemantapan untuk melangkah bersamamu.

Bukan karena kamu tak baik.
Justru karena kamu begitu baik, aku tak ingin mencintaimu dengan ragu.
Tak ingin bersanding dalam ikatan yang dibangun dari rasa sungkan, bukan keyakinan.
Aku ingin engkau dicintai sepenuh hati oleh seseorang yang ketika menyebut namamu dalam doa, jiwanya langsung teduh.

Kamu pantas mendapatkan itu.
Dan aku... bukan orangnya.

Maka izinkan aku menolakmu,
dengan segala ketulusan yang aku punya,
dan dengan doa-doa paling rahasia yang akan tetap kupanjatkan untuk kebaikanmu.

Terima kasih telah datang sejauh ini.
Terima kasih telah melihatku sebagai seseorang yang layak diperjuangkan.
Tapi cinta bukan tentang siapa yang paling keras mengetuk,
melainkan siapa yang Allah pilihkan untuk membuka pintu.

Dan kali ini,
pintuku tak terbuka untukmu bukan karena aku menutupnya,
melainkan karena hatiku tak pernah diberi kunci untuk itu.

Semoga engkau bertemu dengan jiwa yang memang ditakdirkan untuk menyambutmu,
tanpa ragu, tanpa perlu kamu menunggu.
Karena cinta yang paling indah, adalah cinta yang ditemukan setelah hati benar-benar tenang.

Comments

Popular Posts